Sunday, September 25

why i have to fall for that guy

siapa kau sampai membuatku tak berpikir tentang yang lain??

siapa kau yang terus mencuri waktuku dan tak membiarkanku 

sendirian dengan otakku??

siapa kau yang membuatku galau hanya dengan melihat setiap hal yang berhubungan denganmu??

kau bahkan bukan siapa-siapa yang patut dicatat dalam sejarah..

kau bahkan tidak pernah berjasa dengan tindakanmu..

kenapa aku harus menjadi korban pesonamu yang sebenarnya juga bukan seleraku..??

kenapa aku harus mengemban dosa karena sakau memandangimu setiap aku mampu mencuri kesempatan..??

kenapa aku harus menjadikanmu orang terspesial tanpa pernah aku sadari sejak kapan??

ini memang benar salahku sendiri kenapa aku memperhatikanmu dalam pencarianku..

dan pada akhirnya segala sesuatunya menjebakku..


kau tak tampan, tak pintar, tak baik, tak seperti orang yang seharusnya kubayangkan..

aku tak pernah berharap akan sejauh ini aku masuk dan terjebak, tak bisa keluar dan tak mampu lupa..

berharap aku mampu menjadikanmu manusia biasa seperti kebanyakan orang lain yang ku kenal lainnya..


*Tenang kawan-kawan.. ini bukan kisah saya, hanya tiba-tiba terinspirasi oleh sesuatu...=D, kebanyakan nonton pelm drama itu tidak baik...

Thursday, September 22

Duo Bocah

Menjadi baby sitter di masa-masa liburan tentu bukan pilihan utama bagi seorang manusia dengan kehidupan normal ataupun setengah agak normal sekalipun. Tetapi bila seseorang itu dihadapkan pada beberapa keadaan seperti : dia akan sekarat, mati segan hidup tak karuan bila harus menghabiskan waktu liburan dengan berguling-guling dari sisi kasur sebelah kanan ke sisi kasur sebelah kiri yang Cuma semeter lebarnya karena tipisnya isi dompet yang dia miliki. 
Ketidaktahuan atau pastinya ketidakadaan menu sehat dan murah meriah di sekitar tempat dia bersarang sehari-hari apalagi yang menyediakan paket delivery tiga kali sehari. 
Tiket pulang kampung (part 2) yang membutuhkan persaingan, perseteruan dan pengorbanan untuk didapatkan dan di kampoangpun juga membutuhkan persaingan, perseteruan dan pengorbanan untuk mendapatkan sinyal modem yang kesedikitannya bisa diibaratkan daki yang ada di kulit putri mahkota yang habis mandi kembang tujuh rupa dengan sikat wc sehari semalam (see??.. hampir tidak ada-frustated maker jadinya), lagipula di kampung sudah ada bibi baik hati yang menemani ibu bekerja. 

Maka tingkat kewarasan saya yang tidak begitu tinggipun menyarankan agar mengambil kesempatan untuk meninggalkan hidup yang ekstra super duper useless  tapi mahal di Jakarta dan me’nebeng hidup gratis di rumah mungil kakak kedua saya di kota bandeng presto, Semarang. Sebenarnya, keputusan ini diambil dengan pemikiran super pendek. Niat awal kembali ke Jakarta dan mulai membaca-baca sesuatu yang bisa mendekatkan hubungan saya dengan sang topik skripsi, tapi kenyataanya, otak saya menolak muatan-muatan ion positif tersebut dengan pertimbangan bahwa libur lebaran yang pendek masih menyisakan baret-baret traumatis semester enam (phewh..!!).