Tuesday, February 12

Instansi Saya Punya

Badan Pusat Statistik (BPS). Instansi pemerintah yang paling low profile yang saya tahu. Soalnya saking sibuknya mpe ga sempat menyombongkan diri haha. Kerjanya nyaris aneh hahaha..iya aneh, dari pusat sampai pelosok aneh semua.
Coba bayangkan, anda ibu rumah tangga yang lagi sibuk nyiapin makan siang, belum nyuci baju sambil gendong anak, terus ada orang nongol mengajukan pertanyaan "berapa setel baju yang anda miliki?" Orang itu adalah petugas BPS dan pertanyaan yang mungkin membuat orang harus bongkar lemari itu belum seberapa.
Untuk Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) modul konsumsi, anda akan diinterogasi mengenai jumlah makanan apa saja yang anda telan seminggu terakhir, berapa beras yang dimasak, makan daging berapa kilo, tahu, tempe, sayur empat sehat lima sempurna, pengeluaran buat beli baju, perbaikan rumah ditanya semua hingga memakan waktu wawancara minimal 2 jam..

Orang2 di sini itu mencoba mengukur berbagai hal yang ga segampang ngukur berapa diameter jerawat anak remaja yang lagi ababil secara hormonal. BPS juga harus menghitung hal yang ga segampang ngitung berapa jumlah itu jerawat setiap sentimeter persegi. gini nih, contohnnya disuruh ngitung jumlah rambut di kepala orang.. kalian nyerah?? kita bisa, dan caranya itu dapat dipertanggungjawabkan  di kancah dunia pendidikan dan keilmuan,,

Caranya, pertama ambil sampel, botakin itu kepala sebesar 1 cm2>>gundulin>>itung rambut yang dipotong tadi>>simpan (angkanya aja yang disimpan, rambutnya.. terserah sih klo mo dijadiin jimat), terus ukur luas satu kepala orang yang berrambut>> setelah itu kalikan banyaknya rambut pada botakan sample (yang kita simpen tadi) dengan luas kepala orang tersebut.. jadi deh jumlah keseluruhan rambut yang dimiliki oleh orang tersebut.. hohohoho..
Mau coba?? silahkan botakin teman terdekat anda, cuman 1 cm ini..=D.. itu namanya estimasi atau perkiraan, jadi ntar klo presentasi hasil, bilangnya "jadi, perkiraan jumlah rambut sodara A adalah bla bla bla.." gethoo..
Masalahnya, kalau di BPS menghitung rambut orang dianggap sebagai suatu kegiatan yang kurang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, dan berhubung kita dibiayai oleh negara jadi harus dipikirkan ngitung apa aja yang penting,, kalo mau tahu apa aja yang dihitung ma diukur silahkan mencari informasi sekuat tenaga anda, kalau ga kuat ya ga usah dipaksain..


Pekerja di pusat itu seru kalau sedangmerancang survei atau sensus. Bayangkan saja orang-orang ini harus membuat satu kuesioner yang berisi pertanyaan2 yang bisa diajukan pada golongan konglomerat direktur yang kerjanya tinggal gores2 pulpen tanda tangan sampai petani pedalaman yang bahkan tanda tangannya aja ga pake pulpen tapi cap jempol.
Bikin pertanyaan juga ga asal ya, harus sesuai indikator berdasakan PBB atau badan dunia lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan. Kerempongan lain yang harus dihadapi adalah menentukan konsep dan definisi.
KOnsep dan definisi merupakan sejenis kamus yang menjadi dasar dari segala pertanyaan yang ada, misalnya saja ada pertanyaan "apakah ada saudara anda yang mengalami gangguan mental?". BPS harus menentukan yang disebut gangguan mental itu kayak apa, bentuknyakan banyak dan berbeda2, apakah orang sepert saya juga harus disebut sebagai orang dengan gangguan mental, semua harus diputuskan dengan pasti dan jangan sampai rancu.
Dan jangan salah, hal ini tidak segampang yang kalian kira, konsep cantik atau jelek, definisi tentang kegiatan kebudayaan dan keagamaan, macam2 ajalah yang dibahas.

Giliran pekerja pelosok, yang seru itu jadi KSK (Koordinator Statistik Kecamatan). Mereka ini dijulukin ujung tombak pencarian data. KSK itu yang bagian nanya2in. Kuesioner yang udah lolos dari berbagai rapat akan dilemparkan ke tangan KSK. Mereka yang akan keliling Indonesia dari pusat kota, sudut2 kumuh, mpe daerah perbatasan. dari rumah tangga, perusahaan, hotel2 sampe industri kerajinan rumah tangga ditanyain semua sesuai kebutuhan data yang ingin dikumpulkan.
Yah, bisa dibilang melaratlah..
Wilayah Indonesia ga semuanya beraspal dengan jajaran perumahan, ada dari sodara kita yang nyaman tinggal di tebing2, pedalaman hutan atau kesepian di satu puau dan KSK harus mampu meraih semuanya. Di kota juga belum tentu orang2nya mau menyerahkan informasi dengan sesuka hati, banyak KSK yang dianggap sales ga dibukain pintu, cuman dianggurin di pos satpam dan diajak main kejar2an ma guk-guk yang punya rumah.
Orang desa sulit dijangkau wilayahnya tapi gampang dijangkau hatinya, sedangkan orang kota sebaliknya. Perjuangan KSK.. hehe

Apa yang membuat KSK melarat sebenarnya??

Mungkin lebih ke pemahaman masyarakat kita yang belum familiar dengan semua ini, halah..
Buat kalian yang belum tahu, di negara maju itu udah ga ada lagi sensus karena sistem registrasi kependudukan yang baik. Indonesia?? mending uang buat makan daripada bikin akta kelahiran, mending buat ongkos pemakaman daripada bikin surat keterangan kematian. Jadinya jumlah penduduknya tiak pernah jelas.
Untuk data2 dari perusahaan besar atau data rumah tangga juga ada aturannya, kalo misalnya kalian ditanyai oleh petugas sensus dan kalian tidak mau jawab, kalian bisa dipidanakan. Di Indonesia juga sama, hanya saja.. tahu sendirilah, kalau semua undang2 di negara kita ini diberlakukan, penjara bakal penuh euy,, orang masyarakatnya mental residivis semua.. paling cuman pak Tarno doank yang enggak..

BPS itu menyediakan data buat merencanakan pembangunan, kalo data sekolah yang rusak tahun ini 50ribu, tahun depan disediain dananya. Kalo jumlah sapi di jawa tahun ini kurang, tahun depan bisa rencana impor dari pulau sebelah atau tambah dengan daging unta. Kalo pemerintah mau buka pabrik enaknya dimana? cari wilayah yang banyak penganggurannya. Itu cuman contoh kecil, kawan.. anda kira darimana pemerintah dapat data2 itu?? ilham dari langit?? memang benar, dan instansi inilah perantaranya.

Berbeda dengan kementrian keuangan yang mengembar-gemborkan pembayaran pajak untuk pembangunan, pastilah masyarakat langsung tahu apa akibatnya untuk mereka karena memang dampaknya langsung. Beda juga dengan himbauan hemat listrik yang pastilah mudah diterima akal sehat. Tapi himbauan untuk menjawab pertanyaan dari pihak BPS?? mana ada efeknya untuk masyarakat?? ga kerasa, cuy.. Jadi perjuangan instansi ini memang masih puannjaaaannngggggg..
hahaha,

emang udah nasib jadi instansi paling KEPO se-Indonesia, masih untung tiap nanya ga disahutin "mau tahu aja ato mau tahu bangeett??" *roll eyes..
Jadi, Wahai masyarakat, mohon kerjasamanya!!!