Sudah basi ya kalo ngomongin angka kemiskinan yang satu digit itu? yahh.. sebenernya permulaan niat nulis ini tulisan yaa pas isu itu masih hangat-hangatnya, tapi yang punya kepala malah membuat tulisannya bleber kemana-mana dan tiba-tiba buntu, jadi berhenti di tengah perempatan. Bingung mau dibelokkan kemana tulisan yang sudah abstrak sejak awal ini wkwkw.
Bagi orang yang awam mengenai "isu kemiskinan" tersebut (sebagaimana saya yang awam pada dunia milenial) maka akan saya jelaskan secara singkat. Intinya, angka BPS menunjukkan bahwa kemiskinan Indonesia itu sudah mencapai satu digit yakni 9,82. Yang artinya penduduk miskin itu sebanyak 9,82 persen dari total penduduk Indonesia yang sebanyak umm.. berapa ya?? (Mau tahu jumlah penduduk Indonesia? Angkanya dihitung dari Sensus Penduduk lo.. jadi pastikan Anda berpartisipasi untuk dicacah di Sensus Penduduk 2020 nanti ;).. Malah ngiklan hahaha). Terus yang bikin heboh apa?? Hmm.. Angka kemiskinan sekecil itu baru pertama kali terjadi di Indonesia cuy.. Wow.. terus karena statistik itu bisa dilihat dari segala segi dan kita lagi musim-musim pemilu, Voilaa.. jadi deh itu angka menjadi salah satu bola panas yang dilempar kesana kemari sambil ditambah-tambahin minyak tanah sama ranting kering biar makin greget. Sampai mengisukan kalau BPS ga independent alias hasil datanya nurut ama maunya pemerintah yang berkuasa. Hellooww.. atas nama tetesan keringat (karena capek), airmata (karena kadang dimarahin dan dicuekin) dan air ludah (karena harus wawancara panjang) yang dikorbankan para pejuang lapangan, saya ga terima..huft..
*Info lebih lanjut mengenai isu ini, silahkan cari di sumber-sumber terpercaya dan jangan lupa melihat dari dua sisi koin yang berbeda ya Guys.. =)
Pernah ga sih kalian mikir kenapa statistik yang ada hubungannya sama pemerintah, ekonomi dan sosial itu sering banget diperdebatkan? Padahal statistik itu ada di hampir segala bidang. Bidang kesehatan, pendidikan, pertambangan, pertanian dan ke/pe-...-an lainnya. Misal data kemiskinan di daerah, pas kemiskinan naik pemerintahnya mencak-mencak karena dianggap programnya ga berhasil, giliran kemiskinan turun mencak-mencak juga karena nanti ga dapat gelontoran dana bantuan. Terus statistike kudu piye??Ngikk... Lebih males lagi kalau pemerintahnya malah mencak-mencak nyalah-nyalahin datanya, "bener ga tuh? salah kali metodenya? salah kali nyacahnya? salah kali sampelnya?". Coba misal statistik di bidang kesehatan, Peluang hidup pasien kalau melakukan operasi A adalah 80 persen. Pernah gitu masyarakat protes "Ah, masak sih? tetangga saya operasi A itu mati kemaren, peluangnya 100 persen mati paling, salah itu metodenya!". atau sebaliknya "Tetangga saya sehat wal afiat habis dioperasi A, harusnya peluangnya 100 persen hidup. Salah itu dokternya". Nggak gitu juga kan? Yaa.. contoh ini ekstrim sekali sih memang.
Sejauh yang saya tahu, sebagai murid yang pernah belajar statistik tapi ilmunya dulu ga nyantol dan sekarang bahkan sekrup cantolannya udah ilang, statistik itu ada untuk membantu manusia mengambil keputusan sodara-sodara.. Misal peluang hidup pasien untuk suatu operasi adalah 80 persen, pasien akan lebih yakin untuk berobat dengan cara dioperasi, sebaliknya kalau peluang matinya yang 80 persen, yahh.. pasien bisa siap-siap buat surat warisan kalau masih mau berobat dengan metode operasi itu atau memilih metode penyembuhan yang lain.
Entah cuma perasaan saya saja atau angka statistik yang ada lebih sering difilosofikan sebagai angka-angka gampang untuk menetukan nilai prestasi suatu pemerintahan/daerah. Padahal dua tiga digit angka statistik itu dalam lo maknanya, panjang kisahnya, berat perjuangannya, kayak kisah cinta kita mereka.. eeaaa.. . Ibarat statistik di bidang pendidikan, penilaian rapor di sekolah. Belum tentu yang ga dapat ranking itu muridnya ga pinter, bisa jadi dia pintar pada satu poin yang memang tidak terukur dengan baik pada sistem penilaian (sistem statistik) yang ada pada saat itu. Sampai sekarang penilaian di sekolah juga masih berkembang untuk mendapatkan sistem penilaian terbaik untuk mengukur prestasi siswa-siswa dari segala sisi.
Pemerintah/daerah sering mencak-mencak karena dianggap gagal kalau statistiknya jelek. Padahal bukan berarti hasil statistik itu menunjukkan gagal, hanya saja belum berhasil. Belum berhasil berarti pemerintah/daerah butuh membuat racikan kebijakan baru agar kondisi yang diidealkan akan tercapai, entah direzimnya atau disuatu rezim lain di masa mendatang. Tidakkah akan lebih bijak kalau pihak-pihak terkait itu menanggapi statistik dengan kalem dan bijak, tidak usah membesarkan-besarkan hal yang sebenernya ga besar. Tapi ya mungkin bagi Indonesia kurang greget kali ya kalo ga pake rusuh-rusuh.. hmm... Tapi kalau dipikir-pikir emang bikin rusuh sih soalnya hasil statistik-statistik ini akan digunakan sebagai penentu kebijakan yang secara langsung ataupun tidak berpengaruh ke jumlah dana yang akan diserahkan ke masing-masing daerah untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Wew...
Statistik hanya ingin dimengerti, Kawan.. Angka statistik merupakan penyederhanaan dari sekian data yang ada sehingga kita bisa melihat perkembangan sesuatu secara lebih mudah. Namun, bukan berarti karena saking sederhananya itu angka kita jadi melupakan sejarah dibaliknya. Angka peluang hidup suatu operasi 80 persen bisa jadi dihasilkan dari riset ribuan pasien yang sudah melakukan operasi tersebut, melibatkan kondisi pasien, keahlian dokter, kelengkapan fasilitas rumah sakit dan berbagai faktor lainnya. Saat angka 80 persen itu dirilis bisa jadi ada fakta-fakta lain yang patut ditelusuri, misal sebagian besar pasien selamat setelah melakukan operasi disebabkan pasien yang memilih operasi adalah pasien yang masih ada di tahap stadium awal. Jadi statistik yang dihasilkan peluang operasi berhasil cukup besar.
Analog dengan angka-angka statistik yang dihasilkan BPS. Angka kemiskinan yang dihasilkan bisa jadi menyimpan hal-hal yang perlu ditelusuri. Toh, penurunan angka kemiskinan bukan hal yang bisa dicapai dalam waktu semalam. Berkurangnya kemiskinan bisa jadi merupakan dampak kumulatif dari kebijakan pemerintah yang berkuasa sebelum-sebelumnya. Toh, meskipun angka kemiskinannya jadi satu digit, itu masih berupa puluhan juta orang loo..yang masih butuh ramuan kebijakan agar mampu dientaskan. Toh,... udah-udah... . Begitupun angka statistik dari BPS lainnya, Pertumbuhan Ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Tingkat Pengangguran dan sodara-sodaranya. Memang sih angka-angka ini lebih sering sulit dimengerti, mengalahkan ke-sulitdimengertian-nya perempuan yang hormonnya lagi ga seimbang. Ups...
Maka itulah BPS membuka pintu, jendela, atap dan didingnya bagi siapa saja yang membutuhkan penjelasan dan berdiskusi mengenai data-data yang dihasilkannya. Karena pada kenyataannya, angka dan metode yang dihasilkan BPS bukanlah angka yang terbenar. Statististik adalah pendekatan dan benda ini tidak se-statis namanya. Pendekatan metode statistik bisa diambil dari berbagai arah. Ada banyak jalan untuk menghasilkan satu angka statistik. Ada banyak cara untuk menghitung satu angka kemiskinan. Metodologipun selalu mengalami perubahan. Bisa jadi metode yang sekarang tidak akan berlaku lagi di masa depan karena adanya perbaikan metodologi. Saat ini pun, meskipun BPS sudah mengacu pada metodologi standard luar negeri, BPS masih harus melakukan penyesuaian karena ada data-data yang tidak tersedia, salah satunya karena sistem registrasi di negara kita tercinta ini yang belum lengkap dan kadang berbeda dengan konsep yang ada di metodologi standard. Yah.. mungkin sudah waktunya System National Account (SNA) 2008 itu disebarkan ke seluruh kementrian dan instansi-instansi terkait agar semua mendapat pemahaman konsep dan definisi yang sama, biar yang pusing ga cuma BPS aja hwahahahahahahahahahahaha..
Eh, jadi jumlah penduduk Indonesia berapa?? bisa lihat di
www.bps.go.id yaa.. =D