Saat kita berada di akhir suatu perjalanan hidup, kita akan tergoda untuk mengingat awal dari perjalanan itu.
ini memang masih belum akhir dari hidup saya, Insya Allah.. tapi ini tentang kehidupan saya di jenjang perkuliahan diramalkan tinggal satu tahun lagi (aamiin!!!). Memikul balok empat balok di pundak sekarang. Padahal sepertinya baru kemaren terseok-seok agar dapat satu balok di pundak.
Awal banting setir jadi statistisi, teringat masa-masa dimana saya mengubek-ubek Surabaya buat mendaftarkan diri saya ke masa depan yang lebih cerah. Seperti yang sudah anda ketahui (atau belum yak..??-__-"), saya mengarahkan langkah kaki ke jalan setapak yang ini di persimpangan pasca SMA karena jalan lain yang tersisa adalah jalan tol dengan ongkos masuk tak tertanggung oleh keluarga saya tercinta. Jadi bukan karena alasan heroik "meraih impian masa kecil" atau "agar bermanfaat bagi nusa dan bangsa". lha wong pas menjerumuskan diri daftar ke STIS saya taunya statistik itu cuma mean, median ma modus.. meraih impian masa kecil dari HONGKONG.. Tapi saya bersyukur sekali masa kecil saya dulu tidak mengenal statistik yang serumit ini, kalau iya, sungguh.. itu merupakan kutukan T.T...
Ukeh.. mari kita mengaktifkan syaraf motorik tangan untuk mengabadikan memoar di otak saya yang berupa gagasan abstrak menjadi prasasti tertulis yang konkrit.
Datang ke Jakarta dengan mengendarai bus lebih dari 24 jam. Setelah sampai di depan gerbang kampus, kegiatan diawali dengan menurunkan barang-barang. Seperti yang saya pernah bilang bahwa teman perjalanan saya [mungkin] membawa setiap baju di lemari dan berbagai perabotan di rumahnya sehingga tiap orang membawa tas dan koper segedhe gaban (kalo saya tinggal angkut ransel ma kardus, BERES.. hidup memang lebih nyaman kalo tanpa tanggungan), maka pemandangannya terlihat seolah-olah di sekitar situ ada bandara yang karena sesuatu hal maka pesawatnya di delay, dan karena ruang tunggunya harus dipel maka penumpang dan barang2nya dipindahkan ke halaman kampus malang ini (umm.. lupakan).
Melihat sekeliling.. hmm, masjidnya bagus di bagian depan. Meski sampe saya tingkat tiga, saya lebih sering menybutnya musholla..hehe maaph.. Masuk ke dalam untuk daftar ulang kami disambut oleh RERUNTUHAN.. eh,serius!! Tahun ajaran kami, angkatan 50, adalah tahun awal renovasi gedung. Jadi, saat kami datang, yang tersisa adalah gedung rektorat dua lantai untuk kantor dan gedung empat lantai untuk ruang kelas, lainnya.. RERUNTUHAN,, (Jangan bayangkan kampus STIS itu luas dan besar macam UI yang punya komplek hutan sendiri atau kampus STAN yang kalo dikelilingi bisa bikin gempor anggota badan, karena pada hakikatnya kampus STIS ini hanya terdiri dari tiga gedung dan satu masjid yang dindingnya tempel menempel. Jadi kalo anda ahli loncat indah macam Jacky Chan, anda bisa dengan mudah menciptakan alibi pembunuhan ruang tertutup di gedung tiga saat anda berada di perpustakaan di gedung 2...apa coba!?
Melihat sekeliling.. hmm, masjidnya bagus di bagian depan. Meski sampe saya tingkat tiga, saya lebih sering menybutnya musholla..hehe maaph.. Masuk ke dalam untuk daftar ulang kami disambut oleh RERUNTUHAN.. eh,serius!! Tahun ajaran kami, angkatan 50, adalah tahun awal renovasi gedung. Jadi, saat kami datang, yang tersisa adalah gedung rektorat dua lantai untuk kantor dan gedung empat lantai untuk ruang kelas, lainnya.. RERUNTUHAN,, (Jangan bayangkan kampus STIS itu luas dan besar macam UI yang punya komplek hutan sendiri atau kampus STAN yang kalo dikelilingi bisa bikin gempor anggota badan, karena pada hakikatnya kampus STIS ini hanya terdiri dari tiga gedung dan satu masjid yang dindingnya tempel menempel. Jadi kalo anda ahli loncat indah macam Jacky Chan, anda bisa dengan mudah menciptakan alibi pembunuhan ruang tertutup di gedung tiga saat anda berada di perpustakaan di gedung 2...apa coba!?
Nah, saat pendaftaran ini, calon mahasiswa diharuskan membayar uang senilai dua juta setengah untuk keperluan yang diperlukan. Selain itu, kita juga diharuskan menyerahkan ijazah asli SMA yang akan ditahan selama masa pendidikan agar kita tidak mendaftar ke univ2 lain. Mengisi surat perjanjian dinas yang isinya macem-macem aturan tentang kedudukan mahasiswa, berapa tahun mengabdi, denda kao keluar dari instansi dan begitu2lah pokoknya. Tanda tangan+matere.. siipphh... Waktu itu yang bertindak sebagai wali saya di surat perjanjian dinas itu adalah kakak tertua saya karena ayahanda tidak ikut ke Jakarta. So, kalo nanti saya kabur di tengah masa pendidikan karena otak saya korslet, yang bayar ganti rugi puluhan juta adalah kakak tertua saya hohoho..
Setelah persoalan surat-suratan selesai, saya di beri kertas yang berisis rute dan formulir ukuran baju. di ruang pertama adalah bagian pembuatan name tag (nama yang dicantolin pake peniti ato benda lain di atas saku atas sebelah kanan). Punyaku tertulis "FAIZAH". Di ruang selanjutnya mengisi formulir minat dan bakat dan riwayat kesehatan. Karena tidak ada pilihan "menjadi freak" di kolom isian maka saya pilih saja "puisi" (puisi kan masalah inspirasi ntar kalo ga bisa ngarang tinggal bilang ga ada inspirasi neh.. siipphh lanjuuuttt...).
Ruang berikutnya sesi pemotretan untuk badge (tanda pengenal kayak kartu yang ada potonya kita, biasa digantung di saku bagian kiri), sebelumnya ganti baju dulu pake baju PDA=pakaian dinas akademik dan spesial buat yang cowok dibotakin dulu..eh.. digundulin ding.. pshyco juga tukang cukurnya kalo cuman dibotakin doank, rambutnya tebel, lembut dan bebas ketombe tiba-tiba ada circle crop di tengahnya kan ga lucu.. . Dan.. terus terang saja foto badge saya itu adalah penampilan saya tanpa mandi lebih dari satu setengah hari, tapi tetep ukehlah.. at least bekas2 beleknya ga kelihatan hohoho..
Ruang lainnya adalah ruang pengukuran seragam PDA biru telur asin. diukur dari atas mpe bawah kayak di tukang jahit. Terus ruang lainnya adalah ruang penetuan ukuran sepatu pantofel ma satu ruang lagi untuk fitting baju out bond ma celananya(meski pada akhirnya pengukuran baju ini mubazir karena banyak yang ketuker-tuker,, masak saya dapet celana yang kelonggarannya hampir separuh pinggang.. melorotlah kalo dipake sesuai defaultnya..) dan SUDAH.
Ruang berikutnya sesi pemotretan untuk badge (tanda pengenal kayak kartu yang ada potonya kita, biasa digantung di saku bagian kiri), sebelumnya ganti baju dulu pake baju PDA=pakaian dinas akademik dan spesial buat yang cowok dibotakin dulu..eh.. digundulin ding.. pshyco juga tukang cukurnya kalo cuman dibotakin doank, rambutnya tebel, lembut dan bebas ketombe tiba-tiba ada circle crop di tengahnya kan ga lucu.. . Dan.. terus terang saja foto badge saya itu adalah penampilan saya tanpa mandi lebih dari satu setengah hari, tapi tetep ukehlah.. at least bekas2 beleknya ga kelihatan hohoho..
Ruang lainnya adalah ruang pengukuran seragam PDA biru telur asin. diukur dari atas mpe bawah kayak di tukang jahit. Terus ruang lainnya adalah ruang penetuan ukuran sepatu pantofel ma satu ruang lagi untuk fitting baju out bond ma celananya(meski pada akhirnya pengukuran baju ini mubazir karena banyak yang ketuker-tuker,, masak saya dapet celana yang kelonggarannya hampir separuh pinggang.. melorotlah kalo dipake sesuai defaultnya..) dan SUDAH.
Lihat pengumuman2 dan catat benda2 yang dibutuhkan untuk magradika (ospek STIS) dan hari pendaftaran berakhir. Dengan in secara administratif saya telah tercatat sebagai mahasiswa baru Sekolah Tinggi Ilmu Statistik.. plok plok plok
yah, ini bisa jadi spoiler buat temen-temen yang mau daftar ke kampus abu-abu ini, tapi berhubung saya ini sudah mahasiswa basi di sini akan lebih baik kalo menanyakan pada mahasiswa yang baru masuk satu ato dua tahun sebelum anda mendaftar agar lebih up to date, karena regulasinya sering berubah meski tidak banyak. setelah ini masih banyak kegiatan sebelum masuk ke dunia perkuliahan, tapi kapan-kapan lagi lah nostalgianya..
mohon doanya juga agar saya lancar menjalankan lap terakhir ini dan memperoleh sarjana tahun depan.. aamiin>>
No comments:
Post a Comment