Saturday, April 21

Nona-nona Mutiara

Kau lihat lelaki yang duduk di sana itu?? yang berlesung pipit di pipi kanannya??
Dia selalu duduk di pojok yang sama dengan hari ini. Kau tahu apa yang dia pikirkan??

Kau lihat nona yang sedang mengobrol di halte bus itu?? yang wajahnya menyenangkan untuk dilihat itu??
Lelaki itu sedang memikirkannya.
Kau ingin tahu apa yang dia pikirkan??
Lihatlah nona itu, dengan caranya berdiri yang manis dan rapi. Dipikirannya, nona itu seperti mutiara.. yang membuatnya selalu bertanya, kenapa mutiara itu tidak disimpan saja dalam kerang keras besar kecoklatan di dasar lautan? Agar tidak membuatnya menghabiskan energi untuk menjaga hati. Pada kenyataannya nona itu sudah memakai atributnya hingga hanya wajah tenangnya yang terlihat. Baginya itu malah seperti mutiara yang berada di etalase mewah tak tersentuh, melihatpun tak berani, berharap pun tak sanggup.
Kau ingin tahu apa lagi yang ia pikirkan??
Lelaki itu selalu berkata pada hatinya tentang sang nona.
"Ibu pasti akan senang, insya Allah, jikalau aku mampu membawamu sebagai menantunya.  Dengan senyum dan gerak tubuhmu yang ramah, Ibu akan senang membanggakanmu pada teman-temannya.
Ayah pasti akan bangga, insya Allah, jikalau aku mampu menjadikanmu anaknya. Dengan cara bicaramu yang lembut, ayah akan senang membicarakan segalanya kepadamu.
Aku pasti akan tenang, insya Allah, meninggalkan rumah dan harta bendaku bersamamu karena kehormatanmu tetap akan terjaga dengan agama.
Aku pasti tak akan khawatir, insya Allah, menyerahkan anak-anakku kelak untuk kau didik dengan ilmu jasmani dan rohani yang kau miliki.
Aku pasti akan nyaman, insya Allah, membicarakan segala urusanku kepadamu dan mendengarkan sudut pandangmu untuk mencerahkan pikiran buntuku.
Aku pasti akan terus tersenyum, insya Allah, setiap aku pulang ke rumah kita karena akhirnya aku bisa kembali melihatmu setelah sekian waktu berkutat dengan duniaku.
Aku pasti akan berusaha keras berjuang, insya Allah, karena ada kau yang menopangku dari belakang.
Aku akan bahagia dunia akhirat, insya Allah, jikalau aku mampu meraih separuh agamaku bersamamu".

Kau tanya bagaimana aku tahu apa yang dipikirkannya??
Karena aku hanya pohon kecil di sudut jalan yang tetap statis sehingga aku bisa melihat perubahan di setiap tarikan otot wajahnya. Berbeda denganmu, Angin.. yang selalu berlalu-lalang. Setidaknya rasakanlah tarikan nafas orang-orang seperti itu, Angin.. yang berharap dapat berjodoh dengan Nona-nona Mutiara...



*Berharap ini bisa jadi hadiah untuk saudari2ku yang selalu kukagumi di hari Kartini..

No comments:

Post a Comment