Wednesday, August 27

Menyapamu.. (2)

Memujimu mudah..
Dengan segala keelokan, senyum manis dan hatimu yang baik, memujimu pastilah mudah. Tapi mengolok-olokmu jauh lebih menyenangkan.

Menyapamu mudah.
Lewat segala satelit yang diluncurkan ke angkasa, menyapamu pastilah mudah. Tapi akan sangat berbeda jika dengan menatap matamu, tersenyum padamu dan mengatakan "hai.." tanpa perantara apapun selain udara.

Mencintaimu mudah..
Tapi mengatakannya padamu akan butuh kata yang lebih sulit dari pada mudah.

Tuesday, August 26

Ayo Baca

Aku angin Engkaulah samudra..

.. Mengingatkan saya mengapa dulu saya jatuh cinta pada cerita kriminal.

What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?

Mau kubilang lantang..
... atau kupendam dalam diam
Tetap saja kusebut (dia) cinta.

Empat frase dari empat buku yang baru kubeli secara online yang ongkos kirimnya ke kantor di kecamatanku setara dengan satu buku..

Aku masih miris kenapa harga buku mahal.. Begh.

Tak tahan ingin membaca diantara penyiapan pencairan POK, pembuatan laporan SBMN, buku rilis PDRB pengeluaran kabupaten, kegiatan rutin distribusi, pemeriksaan sakernas susenas, plus nggantiin para masyarakat kantor yang mau ratekda.. *hiks
Laahaula wa laa quuata illa billah..
Aamiin =)

Sepeda

Dengan bersepada dari pasar sungailiat sampai rumah di RSS pemda aq jadi sadar kalau dataran Bangka tidak datar-datar saja..

Aku juga menyadari, angin adalah gaya gesek yang sulit kau kalahkan saat kau sudah bertahun-tahun tak bersepeda dengan rute panjang, dengan kondisi perut hanya sarapan beberapa sendok pasta lafonte instan, siang yang panas dengan kostum jaket tebal.. Beberapa kayuhan di tanjakan aku memilih berjalan dan menuntunnya..

Yupp..
Aku baru beli sepeda hari minggu kemren. Alat refreshing yang sudah lama ku impikan hehe
Let's have fun and be healty =D
Kalo sempet.. Jiahhh preett..

Monday, August 18

Menyapamu..

Baiklah..
Ini aku. Duduk di balkon hotel di atas kursi yang kuseret dari meja rias, menunggu matahari muncul sambil menahan diri mati-matian untuk tidak menyapamu.

Menyapamu mudah.
Lewat segala satelit yang diluncurkan ke angkasa, menyapamu pastilah mudah. Tapi akan sangat berbeda jika dengan menatap matamu, tersenyum padamu dan mengatakan "hai.." tanpa perantara apapun selain udara.

Hei-hei..
Keinginan menyapamu tidak pernah sebesar ini sebelumnya. Mungkin kita memang terlalu jauh terpisah. Dan sialnya.. Sepertinya kau tak mempedulikannya.

Sampai pada satu kesempatan, aku sadar. Kita memang tak pernah saling menyapa. Aku menyapamu. Tak pernah melalui perantara udara. Aku menyapamu. Berharap kau punya frekuensi pikiran yang sama. Aku menyapamu. Tanpa kata tanpa suara.