Monday, October 13

Terima kasih, Vivin

Tadi pagi, masih riweh berkutat dengan wara-wiri kantor yang belum juga menemukan masa rehat. Sedari awal masuk rasanya belum sempat leha-leha tanpa pikiran, membuat setiap kesempatan luang selalu dimanfaatkan untuk tiduran dengan anggapan hidupku tak punya beban..
Makin parah lagi karena setiap rutinitas rohani yang terbangun mulai surut dan surut. Dan semangat itu malah menjadi seperti lampion terbang yang semakin meninggi dan meninggi menjauh dariku yang semakin merosot dan merosot.. Mungkin kelihatannya tidak parah, tapi apa jadinya kalau terus berlanjut dan berlarut-larut??
Dan disanalah ia. Seorang kawan yang terlalu sering menjadi perantaraku mengingat bahwa setiap muslim itu bersaudara. Sekali lagi, tuhanku yang baik itu, menjadikan ia perantara untuk mengingatkanku dengan lembut.