Saturday, December 13

Desember

Datanglah kesini, tuan muda..
Ilalang sedang bagus-bagusnya di bulan desember. Tanaman hijau berujung putih menyemak di bawah pepohonan. Seperti semak bunga biru di bawah pohon pinus yang pernah kutonton di acara teletubbies, siaran yang muncul dari tivi di perut lala.

Desember di sini seperti Jakarta. Hujan melulu. Membuat akhir pekan lebih sering kuhabiskan bergulung-gulung di kasur dengan buku bacaan. Dinding kamarku jadi dingin dan kain batik berjabatan selimut dengan setia menyelimuti sebatas leher.



Musim hujan ini tiba setelah kemarau membuat air kolong timah PDAM menyusut surut. Beberapa orang harus merambah hutan, memburu mata air cadangan. Sekarang hujan membuat basah jalan tanpa sempat mengering, dengan baju-baju jemuran lembab khas musim penghujan.

Dulu, di desaku yang masih sederhana dan bersahaja, setiap desember sehabis hujan deras pertama semalaman yang biasa diiringi dengan mati lampu, paginya akan ada banyak laron berterbangan di jalan-jalan desa. Satu kampung laron keluar semua. Beterbangan ramai sekali. Terbang rendah dan gemulai. Pagi-pagi saat masih dingin dan belum ada matahari.

Tetangga- tetangga akan ramai menangkapi laron-laron itu, serangga yang memang tidak dikaruniai kecepatan macam lalat. Katanya enak kalo dijadikan peyek laron, kriuk-kriuk di musim hujan. Aku sendiri belum tahu bagaimana rasanya.

Jadilah setiap pagi yang sama seperti itu sepanjang ingatanku, ada keramaian kecil menangkap laron di jalan-jalan desaku saat pagi setelah musim hujan pertama. Kata ibuku, laron-laron itu terbang keluar karena sarang mereka, yang ada di kedalaman tanah, sudah basah oleh air hujan. Dan aku tidak lagi mencari-cari fakta ilmiah lain selain itu, sampai saat ini. Dan saat malam para laron sibuk mengunjungi lampu-lampu jalanan, lampu teras rumah, berkerumun mengundang cicak mencuri kesempatan. Aku sudah belajar rantai makanan bahkan sebelum aku bisa membaca.

Kalau sekarang, jumlah laron semakin sedikit. Orang-orang juga cenderung jengkel jika ia beterbangan di sekeliling rumah. Membuat kotor dengan sayapnya yang tipis jatuh di mana-mana, karena yang punya sayap sudah di makan cicak. Kau ingat bahwa serangga-serangga macam itu hanya bisa hidup di lingkungan yang bersih? Sekarang serangga seperti itu sudah jarang kujumpai, seperti capung yang biasa terbang di rumput-rumput samping rumah. Lama-lama nanti kalau mereka punah seperti kunang-kunang bagaimana?

Tuan muda, aku ingin melihat kunang-kunang..

No comments:

Post a Comment