Wednesday, January 28

Pasca Sarjana

Ini kelanjutan nasib kami, anak-anak muda penuh gairah yang telah berhasil merubah seragam biru telor asin itu dengan jubah megah toga kelulusan. Kemudian ditempa kesetiaannya akan instansi yang membuat kami menunggu setahun lebih..lebihnya setengah tahun. Yahh.. Meskipun mungkin kesetiaan kami itu hanya terikat rantai uang ganti rugi ratusan juta rupiah dan ketiadaan ijazah.
Beruntung sekali angkatan kami yang datang ke daerah saat kantor kabupaten itu sedang sibuk-sibuknya. Belum sempet leha-leha udah lari tunggang langgang dikejar-kejar garis kematian, deadline maksudnya. Sambutan selamat datang dari kepala provinsi saya saja bunyinya "di sini ga ada waktu buat diajarin ya.. Jadi langsung nyemplung belajar berenang sendiri". Jadilah kami, ibarat nyemplung air baru bisa ngambang doang kalo tahan nafas, belum sempat pemanasan, ga pake sepatu katak, belum ganti bikini, udah berjuang antara keselek dan kelelep.



Mungkin ungkapan di atas terlalu semena-mena, mungkin juga ga semua kawan yang ditempatkan di kabupaten merasakan kesibukan yang sama berat, tapi bisa dibilang sebagian besar kantor BPS luar jawa itu kurang personil dan membuat beban kerja masing-masing individu jadi berat. Biaya hidup juga berat, ongkos pulang kampung berat, badan tambah berat wkwkwk. Kantor saya misalnya, wilayahnya terbilang luas dan sampelnya juga banyak. Normalnya satu seksi ditangani oleh satu kasi dan satu staf. Lah ini, sebelum saya dan seorang teman seangkatan datang malah ada satu personil yang menangani dua seksi. Begh...ibarat main band itu ya, si personil ini main gitar ditangan, gebuk drum pake kaki, mulutnya nyanyi ma ngempit kencrengan di ketiak. Ekstrim cuy..

Dunia kerja memang luar biasa. Kami yang dianggap mantan anak kuliahan, dari jakarta, lulusan sekolah yang masuknya-didalamnya-dan keluarnya susah tapi berhasil sarjana dipandang sebagai manusia-manusia yang serba bisa. Bisa analisis, bisa bikin publikasi, bisa ngitung angka ini-itu, bisa benerin flashdisk virusan, bisa otak-atik komputer, bisa servis printer, bisa nyembuhin genset soak, bisa bikin laporan keuangan, bisa mindahin gunung, bisa mbangun seribu candi dalam satu malam, bisa gilaaakkk.. fewh..itu dari pengalaman kengkawan yang tersebar di seantero wilayah Indonesia tercinta.

Hoooo apa kabar yang dipelosok sana? Yang wilayah surveinya berpulau-pulau, mau nyurvei mesti lihat tingkah angin biar perahu ga nyungsep, kalo ombak besar mesti nginep dulu ga bisa pulang. Yang dipedalaman, berbukit dan berbatu, masih untung kalo ada jalan meski ga kebagian aspal, kalo blusukan masuk hutan motor ditinggal lanjut pake kaki buat jalan. Tinggal di kota-kota kabupaten yang penjual gorengan aja ga ada, yang listriknya digilir nyala padamnya, yang BBMnya lebih langka dari harimau sumatera.
Tetapi rumput hijau juga bisa tumbuh di cadas berbatu. Kami bahagia menemukan kelurga baru di perantauan, pengalaman baru, area-area wisata baru pedalaman yang belum terkontaminasi sampah manusia. Ada yang dapat jodoh di sana dan membina keluarga sederhana yang sejahtera. Yang sudah bawa jodoh sepaket sama anak bisa membesarkan anaknya dengan udara segar dan kearifan tanah lokal. Meski tak sedikit yang tengah menanti persatuan dan kesatuan raga karena terpisah jarak dengan belahan jiwa. Yahh.. masih mendinglah dibanding yang belahan jiwanya ga cuma terpisah jarak tapi juga waktu -jodoh masa depan.

Hmmm..di masa-masa ini kami mulai dapat gaji buat dikumpul-kumpulin. Beda sama gaji pas kuliah yang terpaksa ngumpul karena rapel, itupun rapelannya tinggal recehan aja karena dipotong cicilan pinjaman ke koperasi =D. Gaji dikumpul-kumpulin buat tabungan masa depan, dikumpulin buat dikirim ke orang tua, dikumpulin buat pulang kampung pastinya, dikumpulin buat kluyuran ke dalam dan luar negeri, dikumpulin buat menebus calon istri, dikumpulin buat naik haji, dikumpulin buat anak-bini, dikumpulin buat barang koleksi, dikumpulin buat dihambur-hamburkan nanti hehe..
Bagian hidup yang ini bisa disebut sebagai bekerja keras. Saat gaji masih 80 persen tapi kerjaan nyampek 150 persen ato 200, 300 =D.. Kabar pengangkatan PNS yang sudah tidak dipedulikan lagi, tertimbun hubungan ditagih dan menagih dokumen survei. Kadang penat, kadang bosan, belum diangkat pegawai sudah pasang ancang-ancang pensiun dini. Ngekk..

Hei-hei... tapi ini baru awal kan kawan. Ini baru anak tangga pertama dari sekian undakan yang harus kau jalani. Siapa yang tahu seperti apa dunia menyapamu nanti. Teruslah mendaki hingga mencapai puncak yang kau idam-idamkan dan bangga akan kerja kerasmu hingga mencapai titik tertinggi itu. Atau bisa jadi nanti di anak tangga kesekian kau terperosok dan jatuh maka bangkitlah dan kembali mendaki. Bisa jadi saat kau terperosok kau malah jatuh ke lembah dengan tanah yang landai berumput hijau dengan bunga-bunga liar warna-warni dan kau menetap di sana dengan senang hati. Bisa jadi di anak tangga kesekian kau menemukan elevator ajaib hingga kau tak perlu bersusah payah sampai ke atas. Bisa jadi saat kau sampai dipuncakpun kau melihat puncak lain yang lebih tinggi untuk kembali kau daki. Bisa jadi dalam perjalanan kau menemukan helikopter dan kau bisa terbang lebih tinggi. Bisa jadi kelak kau hanya duduk ditengah-tengah anak tangga itu dan menikmati hari. Bisa jadi kau malah tak pernah mendaki karena lebih suka pantai. Bisa jadi...

Ini baru awal kan? Dan kita belum tahu apa yang bisa terjadi setelah ini, karena apa saja bisa terjadi. Nah, kawan. Mari saling mendoakan untuk yang terbaik bagi masing-masing kita nanti.. =)

1 comment: