Thursday, June 8

Pegawai Pelosok Negeri

Kami sudah bekerja. Sekarang kami sudah menjalani mimpi-mimpi idealis kami sebagai insan yang turut serta membangun negeri. Wushh backsound music padamu negeri, busungkan dada, singsingkan lengan baju.. Tapi backsoundnya mulai sayup-sayup sampai menjadi sisa nafas berat para pegawai yang bekerja terlalu keras. Kami salah satu dari jenis PNS itu kawan. Dan kalau kalian bilang PNS kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki baca koran sambil ngrumpi. Gw bakal bikin boneka voodoo atas nama lu dan gw tusuk-tusuk pake linggis. Beruntung aja lu karena gw ga tahu mantranya apa. PNS ogah-ogahan itu OKNUM. Bedanya memang di dunia PNS, oknumnya berjalan terang-terangan dan rombongan dan itu yang digembar-gemborkan media..cih..
Kami pekerja. Pekerja instansi vertikal yang penempatan dan mutasinya level nasional. Ada yang kembali ke tanah lahir dan ada pula yang malah merantau lebih jauh lagi daripada Jakarta. Kalau dipikir-pikir, adaptasi kami jauh lebih susah karena tempat kami ditempa adalah Jakarta. Kami disekolahkan di kota yang gegap gempita se-Indonesia, segala fasilitas ada, segala kabar terupdate, segala mode terkini, segala-gala pokoknya. Dan tetiba terlempar ke ujung-ujung kabupaten yang listriknya kena asma.
Yahh.. Meskipun pada kenyataannya biar hidup di Jakarta juga pergerakan kami hanya dari warteg ke warteg, pasar grosir satu ke pasar grosir lain, pergi ke mall keren cuman kalo uang ikatan dinas keluar rapelannya. Tetap saja terasa bedanya saat di Jakarta yang apa-apa tersedia 24 jam dibanding di daerah yang habis isya tinggal krik krik krik suara jangkrik. Bahkan pergerakan antar warteg pun tak bisa dilakukan karena emang ga ada warteg di radius sekitar. Jakarta yang listriknya 24 jam versus daerah yang listriknya 2-4 jam.
Jakarta pusat pergerakan para penguasa dan media. Lupa kalo Indonesia itu dari sabang sampai merauke. Lupa kalo Indonesia itu masih ada pelosoknya. Lupa kalo Indonesia itu belum seluruhnya jadi negara sejahtera.
Aku masih bisa dibilang beruntung, mengingat banyak kawan yang mendarat di wilayah-wilayah yang bahkan belum pernah sekalipun masuk berita, bahkan baru tahu namanya ya saat mereka ditempatkan di sana. Bayangkan adaptasi multi level yang mereka jalani, menghadapi perbedaan adat, bahasa, makanan, tata krama, dunia kerja, kesendirian.
Anak-anak kesayangan ayah-ibu harus pergi jauh demi kata PNS yang mereka sandang. Belum lagi harga pulang kampung yang harus ditabung dari gaji pertama. Di pulau-pulau sana yang pulkamnya harus menggunakan segala bentuk alat transportasi. Perahu ketek, lanjut perahu dayung, lanjut perahu motor, lanjut pesawat perintis yang butuh doa dobel saat terbang, baru sampai di bandara utama. Perjalanan darat penuh perjuangan gabungan antara mobil colt ringkih penuh sesak segala bentuk isi bumi, jalan batu berkelok-kelok, tebing hutan dan waktu tempuh yang lama. Belum lagi perkerjaan instansi kami yang tidak bisa dibilang santai dan mudah.
Gaji yang kami terima sama, entah yang di kota besar, kota kecil atau pelosok ujung negeri. Sedangkan biaya hidup di tiap daerah berbeda-beda. Bisa kau bayangkan bagaimana pegawai itu mengatur keuangannya? Untuk hidup sehari-hari, mengirim uang pulang untuk orang tua sebagai wujud bakti, belum untuk menabung harga tiket pulang yang melangit saat musim hari raya.
Pegawai pelosok bukan hanya instansi kami. Dibanding dokter dan guru yang tinggal di pelosok desa, kami masih bisa tinggal di ibukota kabupaten. Pegawai negeri tidak hanya berupa orang kantor diperkotaan itu, pegawai negeri juga tersebar di seantero negeri, mencoba hidup dengan berbagai keterbatasan yang belum bisa diakhiri pemimpin kami. Jangan karena yang diperlihatkan di tivi orang-orang itu lalu anda jadi lupa kalau kami ada. Kami menjalani hidup tenang di daerah, bekerja semampu kami demi kewajiban atas gaji yang anda peruntukkan untuk kami. Hanya saja, tentu sedih bagi kami saat pekerjaan-pekerjaan itu tidak dihargai.

Wednesday, June 7

Hmmm

Jam 00.42 WIB. Menikmati dingin AC bandara Soekarno Hatta demi mencari udara bebas beban kerja. Berasa sudah tidur cukup lama dengan bantal tas isi wafer coklat yang remuk tertindih. Hari ini nginep di bandara bareng teman kantor yang terlelap di deretan kursi sebelah. Kami, para buruh negara yang ingin pulang.

Ini jadi obat terakhir untuk melepas penat, tapi terasa saking penatnya sampai aku lupa bagaimana mulai merangkai kata. Duh, dunia. Padahal dulu cita-citaku bekerja di ranah yang tidak perlu berpikir macam-macam tentang dunia. Sekarang malah harus menahan beban kesejahteraan negara. Tuntutan instansi ini memang makin aduhai saja. Setiap staf harus ngerti ini itu, tahu ini itu, bisa ini itu. Coba aku jadi tukang cuci piring di kapal pesiar. Aku akan punya cukup banyak waktu untuk menghayal dan menciptakan cerita. Di sini, setiap tetes pikiran terrkuras untuk kerja, saat menghayal otakku sudah lelah. Begh..

Hai Izah.. Beberapa hari ini kita insomnia tanpa perlu kopi. Aku juga heran, kau pasti juga heran hahaha.. Mana ada dalam sejarah izah ga bisa tidur. Asal menguap sedikit langsung hilang nyawa zzzzz haha. Kita harus melakukan sesuatu..tapi apa?? Entah. Ayolah tidur sana.. Biarkan matamu lelap terpaksa.


Terminal 2F. 11/05/17