Monday, December 26

Ingat Pondok

Hari ini hujan di pagi hari dan aku ingin mengenang tempat di mana aku memulai pembentukan karakterku hingga saat ini. Untuk kalian warga kelas UPI-dan pihak2 yang membuatku berada di lingkungan ini-, kusampaikan terima kasih.. atas pengalaman yang berharga dan kenangan yang takkan terlupa.


Mungkin melihat tingkah polahku yang sekarang, jarang dari kalian yang pertama melihatku akan percaya kalau aku pernah bersekolah dilingkungan pondok pesantren. Ya, aku pernah. Pondok pesantren terkeren yang pernah kumasuki-karena ini pondok pesantren satu2nya yang pernah kumasuki..hehehe, tapi tetap yang terkeren-. Di sini aku hanya bersekolah, bukan termasuk santri yang menginap setiap hari dan hanya pulang jika libur tiba. Aku sekolah di pagi hari dan tidur di rumahku setiap malam hari, tapi pelajaran yang kudapat untuk hidup sudah lebih dari cukup. 


Ponpes ini bernama Tarbiyatut Tholabah, di lingkungan civitas akademikanya biasa disebut TABAH, berhubung warga daerah kami terkenal suka memendekkan nama-nama panjang. Ada juga TAWON, Tarbiyatul Wathon, dan beberapa yang unik lainnya. Jika kalian ingin tahu dan berkunjung, ponpes ini terletak di pinggir jalan raya pantai utara Kabupaten Lamongan, tepatnya di Desa Kranji. Naik saja bus ijo PO. Armada Sakti jurusan Wisata Bahari Lamongan dan bilang ke kenek busnya “turun Pondok Kranji, mas”. Insya Allah, kalian akan sampai di gerbang masuknya. 
Ponpes ini hanya ponpes kecil, aku tak tahu luasnya, yang pasti kau bisa menelilingi kompleksnya dengan berjalan kaki tanpa menghabiskan energi satu piring nasi. Ponpes ini termasuk ponpes yang maju di lingkungan kami, paling maju menurutku. 
Di sini ada semua jenjang pendidikan. Mulai dari play group dan taman kanak-kanak yang biasa kami-kelasku- ikuti gerakan senam paginya, saat selesai menunaikan agenda pagi membaca juz ‘amma tetapi ustadz-ustadzah yang mengajar belum datang juga karena kelas kami dan play group ini hanya terpisah tembok dan pagar besi. Satu petak untuk Madrasah Ibtidaiyah-setingkat SD, yang bangunannya menyatu dengan gedung Madrasah Tsanawiyah putri-setingkat SMP. Selain itu ada Madrasah Aliyah-setingkat SMA- yang dibagi menjadi keagamaan dan umum. Ada madrasah diniyyah, mempelajari keagamaan dengan lebih dalam. Ada juga STAIDRA untuk sarjana strata satu, aku dengar juga sudah membuka strata dua sepertinya. Entahlah.. sudah lama ternyata saya tidak ke sana. Mmm... enam tahun. 

Kau bisa merindukan segalanya di sini, lingkungan dan aromanya. Mulai dari kelasnya yang terpisah laki-laki dan perempuannya-aku pernah memergoki salah seorang kakak kelas putri bertukar surat di gerbang pondok dengan santri putra, sepertinya love letter (sangat klasik,eh?=))-. Lalu riuh kantinnya saat jam istirahat tiba, cara kami memanggil guru dengan sebutan ustadz-ustadzah karena pada dasarnya arti dari ustadz/ah adalah guru. Pohon-pohon mangga dengan buah lebat di setiap sudut pelataran yang dirawat para santri, pohon kelapa, beberapa pohon lain dan pohon nangka yang buahnya kadang jatuh pada saat upacara bendera, untung tidak pernah jatuh korban jiwa. Santri-santrinya yang mondar-mandir dengan kopyah dan sarung, kerudung dan rok panjang dengan buku-buku dibopong di tangan. Kompleks para ustadz/ah dan pak kiai. Petak-petak lapangannya yang nyaman untuk bersepeda di hari jum’at pagi, hari libur kami. 

Cerita dan kisah perjalanan hidup para pengajar kami. Hafalan nadhom nahwu-shorof, maknani kitab kuning dengan huruf pego-arab jawa. Banyak hal dan banyak sekali hal. Bagi yang menjadi santri dan menginap di sana pasti lebih banyak lagi ruang memori yang terisi. Mulai dari yang hepi-hepi berbagi kamar ukuran +/- 4x3 meter untuk 20-an orang plus lemari dan isinya, lomba antar kamar, nonton film india pada jum’at pagi, satu-satunya hari di mana satu-satunya televisi di pondok putri boleh menyala dan menghibur penghuni. 
Belum juga cerita horor yang menghiasi tiap sudut-sudut pondok ini, kamar yang ujung, kamar mandi nomor X, ruang perpustakaan dan kelas di bawah auditorium yang remang untuk bermain jaelangkung hihihi.. penggasapan sandal-pinjam tanpa bilang-biar sudah tidak diperbolehkan tetap saja ada, pernah membuatku harus menunggu beberapa waktu agar sandalku kembali ke tempat semula. Kisah sedih kangen rumah, berbagi oleh-oleh karena kau tak bisa menyembunyikan oleh-olehmu hehehe, mencuci baju jam dua pagi, antri mandi dan berebut lahan jemuran, mengikuti jadwal dari sebelum pagi hingga setelah malam larut. 
Aku hanya bisa salut.. saat mereka melakukan semua itu, aku sedang di rumah menjaga tokoku, mencuci piring kotor keluargaku, menonton film kesukaanku dan banyak hal lain mengenai aku.

Di ponpes ini aku menghabiskan masa remaja awalku, masa sekolah menengah pertama, di MTs. Tarbiyatut Tholabah. Mari aku perkenalkan dengan kelasku, kelas UPI. Diniatkan sebagai kelas unggulan putri, dan memang orang-orang didalamnya bisa menjadi pribadi yang baik dari setiap sisi, aamiin... kami mulai dikumpulkan sejak tingkat dua, menghuni satu kelas khusus dengan wajah yang sama setiap tahun, bisa berkurang tapi tak bisa bertambah karena setiap semester ada saja yang keluar. Kalau tidak salah awalnya kami bertigapuluh enam namun di akhir tinggal dua puluh delapan jiwa. 

Kelas kami beranggotakan putri semua, inilah yang menyebabkan kami bebas bereskpresi tanpa peduli. Menjadikan lemari mukenah sebagai perkusi raksasa untuk ditabuh, para penari di bagian depan berjoget tak karuan, iringan musik dari meja-bangku, sisanya tepuk tangan dengan senyum mengembang, adegan jika jam kosong terjadi. Terkadang kami juga ke perpustakaan meski di sana malah untuk tidur, iseng mengisi buku daftar tamu dengan kegiatan tidak karuan, ato memang membaca novel dan cerpen islami kesukaan kami. 
Kelas kami mengundi bangku tiap beberapa bulan sekali, menambah akrab dan menghilangkan bosan. Kau bisa saja sebangku dengan siapa saja, di depan atau belakang. Ada yang meski diundi tetap sebangku dengan orang itu-itu saja, sungguh berjodoh mereka. Mendirikan perpustakaan kelas yang isinya majalah Mentari milik Neng Nila, putri pak kiai. Menghias kelas untuk lomba kebersihan, Merancang yel-yel untuk class meeting, menyiapkan kostum, latihan untuk lomba, ikut olimpiade antar kelas. Di sini semua berniat menjalankan segala amanat yang dipegangnya. Saat class meeting, anggota kelas kami yang sedikit membuat kami agak kalang kabut mengikuti semua lomba, kekurangan suporter tapi tetap saja meriah. Ada yang lomba tanpa suporter, ada yang kena dua lomba dalam satu waktu harus berlari menyebrang lapangan dua kali, terlalu bersemangat memberi support pada pertandingan bola basket membuat kami harus membayar satu bak pondok karena pecah kebanyakan di tabuh. 

Kelas kami mendapat bonus les bahasa arab dan inggris tiap sore-gratis, guru yang ngajar juga gratis. Materi pelajarannya juga lebih cepat dan banyak dibanding kelas lain, katanya. Mengingat saat-saat antri wudhu dan antri pinjam sandal, jama’ah di auditorium, wejangan-wejangan yang mengalir, colek-colekan pelembab wajah tiap istirahat sebelum kegiatan pramuka tiap hari kamis, aku memilih wajahku menghitam dan ditumbuhi banyak komedo. Mengantri komik Detektif Conan, komik shouju dan cerpen perpustakaan. Menunggu cerpen baru di lemari pajangan yang satu tahun kemudian baru di keluarkan dan boleh dipinjam, fewhh..  menghitung uang dana sosial tiap habis sholat dhuhur. 
Saat ujian, mendelosor saja dilorong depan kelas menunggu waktu masuk sambil belajar. Sibuk menghafal dan mengerjakan tugas. Bersepeda pulang pergi tiap hari, dengan angin pantai, bau ikan asin dijemur dan terkadang pemandangan cakrawala yang cukup bagus di sore hari. Mencari ilmu itu memang nikmat. 

Di sini setiap guru yang mengajar kami dibekali dengan dedikasi, almarhum ustadz Maimun pernah berkata kalau guru-guru di sini tidak bisa mengharapkan gaji, saking sedikitnya, tetapi beliau-beliau ini mengharap hal yang lebih. Ilmu yang bermanfat dan rezeki yang barokah, sedikit tapi terasa bermanfaat, kuantitas itu tidak selamanya penting, kualitas baiklah yang dicari. 
Dan di sini bisa kau rasakan setiap dorongan ilmu yang dimasukkan ke otakmu dan juga ke hatimu. Beberapa dari ustadz yang mengajar di sini tidak memiliki kualifikasi yang seharusnya, ada sarjana agama yang mengajar fisika, sarjana ekonomi yang ikut kursus guru biologi dan menjadi guru biologi tercanggih, beberapa mengajar geografi dan sejarah hanya dari membaca buku teksnya. Tapi niat beliau-beliau ini sungguh terasa, tak pernah sia-sia. 
Wali kelasku dulu juga selalu ustadz/ah yang mengajar nahwu shorof. Kelas satu  D ustadzah Lilik, Anda selalu ceria, ustadzah. Saya senang melihat wajah anda yang sumringah meski terkadang tampak galak. Kelas dua almarhum Ustadz Maimun, kami menang olimpiade kelas unggulan dengan bangga mengatakan kepada anda tetapi reaksi anda tidak seperti yang kami harapkan, anda datar saja mengatakan “menang itu gampang, mempertahankannya yang sulit”. Tapi sebagai bapak kami, Anda pasti bangga kan waktu itu? Ustadz Maimun juga yang datang melihatku saat aku kecelakaan di jalan raya yang merenggut gigi sebelah kananku dan menyuruhku pulang saja padahal aku masih ingin masuk karena ulangan. Akhirnya di rumah aku malah santai nonton Super Yoyo karena itu hari minggu hehehe. Kelas tiga, ustadz Mus, kalem dan sangat kebapakan, suaranya tenang dan stabil seolah tak pernah panik. 
Ustadz Rouf, guru matematika keren yang tanggal lahir karangannya sama dengan tanggal lahir saya. 
Ustadz Kahfi, guru sejarah, pernah membuat soal ulangan yang jawabannya C semua karena tidak mau repot ngoreksi. 
Ustadz Zainal, english, i’ve never found an English teacher as good as you,sir. U taught me alot. 
Ustadz Fuad, arabic, maaf ustadz untuk pertemuan terakhir yang tak sengaja di kereta api stasiun Poncol Semarang. Saya menanggapi sapaan Anda dengan sangat tidak baik. Karena saya kaget dan ragu(dan sedang mencari tempat duduk), ustadz fuad yang dulu saya kenal adalah orang muda yang bersemangat tetapi saat di kereta Anda terlihat lebih bijaksana. Saya lupa kalau saat itu saya bukan bocah berusia lima belas tahun lagi dan Anda sudah punya seorang putri hehehe. 
Ustadz Ghofur, default wajah anda cukup membuat mengkerut. Ustadz Hakim, ustadz ini pola jawabannya zig-zag. 
Ustadz Musa, pelajaran apapun yang anda ajarkan sangat menyenangkan. Ustadz Malik, biologi, ustadz yang tidak kejam tetapi.. sangat kejam, apa yang beliau hafal adalah apa yang keluar saat ulangan-tanpa teks book. 
Ustadz Irfan, beliau sering tertidur saat mengajar tetapi sebenarnya mata hatinya tetap terbuka. 
Ustadz Syamsi, bersuara merdu ahli Qiro’ah, terima kasih tidak mengusir kami yang ikut kelas ekstrakulikuler Qiro'ah anda tanpa punya bakat dan hanya ingin bersantai sambil mendengar anda melagukan ayat al-Qur’an. 
Dan ustadz-ustadzah lainnya yang tak mungkin saa sebut satu-satu, maaf tidak pernah bersilaturrhmi ke tempat anda. Terima kasih atas ilmu yang anda berikan karena  saya hanya bisa mendoakan kesehatan anda dan kebaikan anda kepada Allah.

Haluu.. teman-teman...
Berjajar dari kiri ke kanan atas dalam foto. 
Nela(terima kasih sudah menemani berjalan kaki menyusuri kuburan kranji dan menuntun sepedaku hehe..), 
Fithriyah(aku salut dengan tingginya kepercayaan dirimu, lebih ke narsis mungkin ya??hehe), 
Neng Nila(juara satu kelas kami, designer setiap hiasan di kelas kami, saya selalu kagum dengan bakat anda, nona), 
Neng Fazah(thx for become my fake mom, Ur the best fake mom ever.. lanjutin gambar manganya, aku selalu membayangkan komik sampeyan di pajang di rak buku gramedia), 
mbak Iir(paling jangkung di kelas, pipi yang kemerah-merahan sangat cocok dengan nama sampeyan, Khumairo’ sama seperti nama kosan saya Humairo’, ketua regu pramuka terapku), 
B’dew(terima kasih atas pinjaman majalahnya,kluyuran ngalor-ngidulnya, sampeyan banyak berubah sekarang,smug tambah apik), 
Dwi(rak nyonggko, sampeyan mbak yang baik hehe.. wes nikah yo kabare??smug sakinah mawaddah warahmah.. aamiin), 
anis(iki malah paleng awal nikah, hehehe, smug langgeng dunia akhirat), 
Jamil(sepuro sampeyan tak celuk camel hehehe..wes suwi ra pethuk T_T), 
mbak Nevi(kalau ngomong rame banget, meluap-luap hahaha, kapan nikahe iki, jere sudah lamaran?), 
Aku(geje), 
Mbak Arin-B(kadang rame, kadang galau, kadang lemes, kadang ngantuk hehe), 
Neng Farah(sampeyan selalu bisa jadi motor,Neng. Menggerakkan semuanya, sudah menikah juga. Smug barokah rumah tangganya), 
Ibe(pemikiranmu di masa muda sangat eksentrik sekali,be.. hehe salut sayang, komplotanmu juga sangir ga ketulungan-ibe,dwi,ani,yus), 
Ani(akhir-akhir ini statusnya galau, smug segera dipertemukan dengan jodohmu ben rak galau meneh aamiin!!), 
Mbak Yus(Yusmaniar, orang pertama yang meminjami saya komik shonen star, matur suwun sanget untuk ini), 
mbak Ninda(kalem, keibuan, tulisannya bagus hehe), 
Tsalits(ga nyangka ni bocah udah jadi emak hehehe... padahal dulu berasa paling imut, katanya sakit lupus, cepat sembuh sobat, smug diberi yang terbaik), 
Rotus(Jo, dijuluki tukang tidur di kelas tapi tetep pinter, agak temperamen terkadang, udah hampir jadi sarjana biologi ya??), 
mawaddah(ahli qiro’ah, wajahnya kalo diem berasa ghotic,, sorry hehe), 
Zunis(tubuhnya mungil, imut-imut, itu dulu sih.. suaranya khas, pernah pidato menggebu-gebu di sebelah kantor guru saat mata pelajaran pidato), 
Mbak Laila(imut-imut juga, aku ga tahu kabarnya sekarang, tulisannya rapi), 
Amalah(bocah drajat, aku selalu suka bentuk wajah sampeyan, enak dipandang hehehe), 
Din-B(nama aslinya Dina, kadang lemes, kadang ceria sama kayak mbak arin-B alias Arina), 
mBak Tami(imut-imut juga, terkadang juga terlihat lemes-perasaan anak pondok lemes semua ya, banyak begadang banyak ilmu.. hehehe), 
Choir(senyumnya manis, udah lama ga pernah liat juga ,,), 
neng Sariroh(ketua terakhir kami, karena tiap semester kayaknya ganti kepengurusan kelas, terkadang kekanak-kanakkan, tapi sekarang ga lagi pastinya), 
mbak SH(namanya Siti Nur Hasanatush Sholihah, tapi karena terlalu panjang dan kolom nama di absensi tidak muat maka kata terakhir di penggal jadi SH, makanya di panggil eS-Ha, orangnya tegas dengan suara yang khas =)). 

Maaf tidak pernah menyapa sobat, semoga nanti diberi kesempatan untuk berkumpul lagi, untuk sekarang hanya bisa saling mendoakan yang terbaik.

No comments:

Post a Comment