Monday, June 10

Negeri Para Bedebah yang Di Ujung Tanduk

Umm..
Jadi begini, udah sejak dulu gw pengen nyatet buku apa aja yang udah gw baca dan apa aja yang gw sukai dari buku yang gw baca itu.. Tapiii, yah namanya juga manusia, kita cuman bisa berencana dan realisasinya tuhan yang menentukan. Jika kemalasan memiliki passion yang lebih kuat, mau gimana lagi.. hehehe.. *sesat..

Nah, sekarang gw mau memulai untuk melakukan hal yang udah gw pengenin dari dulu itu. Jadi, zah.. lu masih inget udah baca apaan aja, mengingat sebagian besar buku yang lu baca itu buku pinjaman ato buku boleh nemu di gudang yang ga diketahui lagi riwayatnya setelah lu baca.. Smuga dengan ini bisa membantu lu memetakan otak lu yang kadang ga jelas kordinatnya itu, yak sip..

Di sini gw ga bakal nyritain tentang sinopsisnya, karena gw sendiri ga suka di kasih spoiler. Jadi kalo gw nanya "eh, buku ini bagus ga??", lu cukup bilang aja "bagus" ato "biasa" ato "keren beudh!!" itu sudah cukup ga perlu mpe meluber nyritain isi buku dari kata pengantar-daftar isi-mpe-epilognya.. itu benar-benar ga perlu...

Dan sebagai awal, buku pertama itu ya.. buku karangan TERE-lije yang judulnya Negeri Para Bedebah dan sekuelnya yaitu Negeri di Ujung Tanduk. Buku kedua baru selesai gw baca semingguan yang lalu, jadi detail ceritanya sendiri udah pada burem, sedangkan buku pertama udah ga kehitung hari lagi kapan gw baca, jadi lebih blur lagi  =D




Tokoh utama dari buku ini adalah Thomas, seorang konsultan finansial, yang harus menyelamatkan satu bank yang mau collapse, karena melibatkan nama keluarganya. Sedangkan di buku kedua si Thomas ini buka satu bidang lagi yaitu konsultan politik dan harus menyelamatkan kliennya dari jeratan mafia hukum. Cerita terangkai apik dan dengan gaya bahasa yang gw suka  *bagian yang paling gw suka dari Bang Tere emang bahasanya sih.. hehe

Baca buku Bang Tere yang satu ini itu kayak nonton pelm box office hollywood konspirasi macam Bourne Trilogy ato buku Dan Brown tapi settingnya di Indonesia *bagian kerennya. Ceritanya juga diambil dari kejadian asli di negara kita tercinta ini, di buku pertama settingnya adalah kasus Bank Century (yang menjelaskan bagaimana kasus ini bisa terjadi) dan di buku kedua settingnya adalah pemilihan presiden beberapa tahun yang akan datang. Banyak kemiripan yang gw rasain pas baca buku ini karena sepertinya pengarangnya emang sengaja hmmm.. misalnya saja:
  • Nama klien yang harus diselamatkan di buku kedua berinisial JD, yang punya latar belakang seperti walikota Jakarta sekarang. Tapi tentang dia punya dua anak perempuan jadi lebih mirip Obama =D
  • Asisten Thomas, Maggie, yang bisa melakukan segalanya jadi mirip seperti Tony Stark di Iron Man, sampai2 gw selalu menanti di akhir kalo si Thomas akan suka sama Maggie hahahaha..
  • dan lain-lain wkwkwkwk..pan udah gw bilang ingatan gw burem kekekeke

Dua buku ini memang agak berbeda dengan buku-buku bang Tere sebelumnya yang selalu berisi filosofi hidup dan bagaimana manusia seharusnya hidup. Tapi di sini  Bang Tere juga masih memasukkan filosofi kehidupan, tenang aja. Misalnya aja tentang Kaki Langit, tempat tokoh Thomas menempuh pendidikan. Kalau gw mikirnya, Kaki Langit itu bukan nama satu tempat saja, tapi lebih ke satu sistem. Siapa yang sejak kecil sudah dididik dengan kehidupan yang mandiri dan pernah bangkit dari satu kepedihan akan tumbuh menjadi orang yang tahu bagaimana susahnya hidup, tahu bagaimana menikmati hidup, tahu bagaimana mengambil kebijaksanaan hidup, terlepas dari dia sekolah di Kaki Langit atau tidak. yah, pada kenyataannya Kaki Langit juga belum tentu ada, mungkin ada tapi dengan nama yang lain, atau memang benar-benar ada..whateverlah..

Buku ini tampak lebih nyata dari segi latar belakang cerita, tapi jadi lebih mirip film pada akhirnya dan jadi banyak yang mustahil, tapi baca aja.. Setidaknya buku ini bikin kita lebih tahu apa yang sedang terjadi dengan bahasa yang lebih sederhana. Akan tetapi, buku ini tetaplah fiksi yang diilhami dari realita. Jadi ambilah apa yang bisa diambil dan manfaatkan.. sip-sip..

Kayak buku trilogi pulau buru punya pak Pramoedya Ananta Toer, settingnya nyata zaman penjajahan mpe merdeka tapi ceritanya fiktif . dan ini novel keren beudh!!! Ntar kalo aku udah baca aku critain ya, Za... Udah-udah.. bobok, udah ga sadar ini otak, nglantur kemana-mana..

Thursday, June 6

Karena Kata Baik Belum Tentu Menyenangkan

Karena tak semua kata baik dari mulutmu akan terasa sama manisnya di telinga mereka yang mendengar. 

Pernah dengar cerita orang-orang yang merasa dikasihani saat diberi kata-kata semangat??
Ada satu masa di mana seorang teman yang menurut sebagian besar orang dia pintar, terjatuh secara akademis karena suatu alasan. Alasan apa?? entahlah.. bukankah semua punya alasan?? Hanya kita tak selalu langsung tahu alasan apa yang melatarbelakanginya.

Lalu disinilah semua jadi terasa aneh. Satu, dua, tiga dan banyak orang memberi semangat, sebagai teman. Setiap bertemu, kawan-kawan lain selalu bilang 'semangat ya!!', bersalaman, menepuk bahu dan senyum prihatin di bibir. Tapi hati seorang kawanku ini perlahan mulai tak nyaman. Tak ada yang salah dengan rasa simpati teman-teman lain. Wajar bukan jika mereka memberi semangat. Tapi.. tak bisakah mereka memberinya semangat sebagai seorang pejuang, bukan sebagai seorang yang sedang gagal??

Awalnya aku juga bagian dari kawan-kawan yang simpati, tapi dia mengatakan segalanya. Dan aku sadar.. aku salah memasang perasaan. Kawanku seorang ini harus didukung dengan senyuman dan do'a.

Dari sini aku belajar satu hal. Hati-hati bersimpati karena terkadang itu bisa menyakiti. Bisa kau lihat di televisi, misalnya. Para produsen hiburan itu mengumbar simpati penontonnya dengan mempertunjukkan kemiskinan Indonesia. Kasihan harus berjalan jauh, rumah tak berkeramik dan temboknya bukan bata, mencuci harus di kali, mandi harus menimba di sumur dalam, kaishan-kasihan-kasihan.. Tanpa kalian sadari betapa tangguhnya mereka menghadapi kehidupan. Bersabar dan tetap bertahan dengan berbagai keterbatasan. Dan sadar atau tidak, kalian mungkin yang perlu dikasihani, terlalu tergantung pada akses yang kalian miliki sampai-sampai kehilangan insting manusiawi. Perbedaan mereka dan kalian hanyalah tentang kesempatan. Kalian diberi kesempatan menjangkau semua akses tapi mereka tidak.

Berhentilah terlalu mengasihani dan mulailah untuk lebih menghormati... =)

Sayang dari Ibu

Suatu hari, terdapatlah pemandangan seorang anak bermuka marah pada ibunya. Entah apa tuntutannya yang tak juga diwujudkan oleh sang ibu. Si anak tak lagi mau bicara dan menganggap ibunya tak ada dihadapannya. Si anak tak hirau, tak acuh. Dan Sang ibu?? hanya mampu menarik nafas panjang dan bermuka memohon, memohon semoga anaknya mengerti betapa sibuknya dia hari ini mengurus pekerjaan di kantor dan keperluan rumah sekaligus. Hari-hari ini masa yang melelahkan, Nak, andai kau mengerti, katanya dalam hati, menatap anaknya yang duduk di bangku bus umum yang mereka naiki. Si anak menatap jengkel ke arah lain, tak peduli dengan ibunya yang harus berdiri berdesakan,berbagi palang pegangan dengan penumpang lain.

Satu kakak putri duduk bersebelah dengan si anak, melihat segala kejadian dan semua mimik wajah. Kakak putri membuka tas, mengeluarkan satu lolipop yang biasa ia bawa untuk menyibukkan mulutnya saat bekerja di kantor.
"Adek mau??" tawarnya ada si anak.
Si anak ingin menolak dengan wajah kusutnya, tapi lolipop itu terlalu mengundang selera, jadi si anak mengambilnya dan terima kasih terucap dari bibirnya yang masih juga kusut. Kakak putri tersenyum.

"Namanya siapa??" Kakak putri bertanya.
"Aina", jawab si anak pendek, mulai mengulum permen.
"Kamu cantik, mau berangkat sekolah ya? siapa yang dandanin tadi?".
"Mama".
"Hmmm, pantas bajumu rapi dan manis", kakak putri tersenyum. "Bando kamu bagus, dibeliin siapa?".
"Mama".
"Wah, mama kamu baik ya.. pantas kamu sehat dan cantik. Kalau sakit pasti mama kamu juga ya yang merawat. Mama kakak dulu meninggal sejak kakak masih kecil, jaga mama baik-baik ya. Permisi, kakak mau turun dulu di sini". Kakak putri keluar dari barisan kursi sambil mengelus rambut belakang si anak, tersenyum pada sang ibu, melangkah mendekati pintu, keluar saat bis kota itu berhenti.

"Umm.. mama mau duduk??", si anak bergeser dengan muka ingin minta maaf pada sang ibu.



Keretaku Kini

HUFT..


Ya ya ya.
Memang sih, saya sudah berjanji dengan sepenuh hati pada diri sendiri bahwa saya tidak akan mengeluhkan apapun dan bagaimanapun keadaannya. Tapi ya tetap saja, namanya juga manusia.. batas ketidakmengeluhan itu selalu ada. Misalnya tentang ini, tentang kereta api.

Baru beberapa hari lalu saya mengetahui kenyataan bahwa PT. KAI-ku tercinta, yang ku puja-puja karena dirinya telah membantuku pulang kampung dengan bahagia dengan harganya yang murah, berstatus PERSERO.. hiks..

Dalam sejarahnya, dulu setelah direbut dari Jepang, Kereta Api-ku berstatus PERJAN, perusahaan jawatan, dengan nama lengkap Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Segala modal dan peralatan semua dibiayai pemerintah. Pegawainya pun berstatus negeri, digaji negara. Status ini mengharuskan kereta api-ku menjadi penolong masyarakat, bergerak untuk kesejahteraan rakyat. Mode transportasi murah meriah untuk semua, mengantar kami ke stasiun-stasiun di penjuru tanah Jawa.

Saat tahun menunjuk waktu 2 Januari 1991, Kereta Api-ku berubah status menjadi PERUM, persahaan umum. Semuanya tak lagi urusan negara, separuh ditanggung negara separuh tidak , tugas kereta api-ku bertambah lagi sebagai pencari laba. Waktu bergulir lagi merujuk tahun 1999, 1 Juni , Kereta api-ku harus menyandang status PERSERO, status yang mengharuskannya menjadi pengumpul laba sebanyak-banyaknya. Maka disinilah kereta api-ku tak menghiraukan berapa muatannya. Asal masih ada ruang untuk bernafas, angkut saja masyarakattnya, manusia pun berjubel apalagi disekitar tanggal lebaran.

Lalu apa yang membuat mengeluh?? Sejak pertama menjadi pengguna kereta api, badan ini telah menjadi  persero. Tetapi dulu negara masih memberi subsidi yang membuat harga tiket kereta api murah untuk dikonsumsi. Tapi kini, hahh.. melenguh sajalah bisaku.. Subsidi itu hilang, tiketku pulang menengok ponakan ke semarang yang dulu tak sampai 30ribu sekarang menjadi 80ribu. Tiketku pulang menengok abahanda dan ibunda melonjak dari 50 ribu menjadi 110 ribu. Itu tiket paling murah, jangan tanya kenaikan tiket yang kastanya lebih tinggi..

Memang Kereta api-ku sedang melakukan perbaikan di sana sini dan patut juga menaikkan harga karena fasilitas yang lebih manusiawi. Akan tetapi, kawan.. ayolah.. tidakkah terlalu kejam menaikkan harga terlalu tinggi dengan mendadak tanpa basa-basi, membuatku merasa itu hanya isu sambil lalu seperti hal-hal yang ada di kampus abu-abuku. Tapi itu nyata, tepat di depan mata. Tiket juga menjadi langka, tak bisa pulang mendadak karena tiket sudah bisa dipesan 90 hari sebelumnya. Yahh, aku tahu aku pasti masih bisa pulang berapa pun harga yang harus dibayar.  Hmmm.. sudahlah.. Hanya bisa berdoa, semoga segalanya bisa lebih baik dari sebelumnya.. aamiiinn!!

Aku pengguna baru Kereta api-ku. Terhitung sejak tahun 2008. Sejak kereta api-ku mengharuskan kami berdesak-desakkan, tiket berdiri, sampai ekonomi lengang tanpa tiket berdiri, kemudian harganya meningkat. Aku masih baru, memakai jasa kereta api juga tidak selalu. Aku seharusnya tak berhak mengoceh tentang subsidi yang ditarik. Tetapi tidakkah lebih baik mencabut subsidi untuk kereta berkasta bisnis dan eksekutif saja?? atau mencabut subsidi BBM untuk mobil-mobil mewah itu?? Maaf Allah aku mengeluh kali ini.

Yang Bertahan dengan Satu Nama

Terkadang mempumyai perasaan tentang orang lain itu sungguh menyebalkan, kawan..
Sungguh menyebalkan..
Perasaan apa maksudku??
Tentu yang berkaitan dengan hati dan merah jambu, kawan.. kau pikir apalagi..

Coba saja bayangkan, tetiba mata sering terfokus pada satu objek, tetiba otak sering berpikir tentang satu objek, tetiba hati tak bisa berhenti menyebut satu objek..dan tetiba segala yang engkau tahu sudah dikuasai oleh sang objek..

Orang sepertiku ini lebih rumit lagi. Mudah suka tak mudah lupa. Di luarnya kau kira aku nyaman tanpa perlu menengok kanan-kiri dan meratapi kejombloan?? bukan begitu, kawan.. kau kira bagaimana aku bisa bertahan membuat hatiku tak menghiraukan makhluk-makhluk yang berlalu lalang itu?? Karena aku sudah punya seseorang yang mengisi hati, kawan.. aku punya. Yahh.. meski aku tahu, aku hanya bisa menyimpan nama. Sampai suatu saat nanti tuhan menghendaki aku bisa mengucapkan satu nama dengan suara dan dengan awalan kata "jodohku adalah..".

*diilhami oleh bla bla bla..=D