Thursday, June 6

Sayang dari Ibu

Suatu hari, terdapatlah pemandangan seorang anak bermuka marah pada ibunya. Entah apa tuntutannya yang tak juga diwujudkan oleh sang ibu. Si anak tak lagi mau bicara dan menganggap ibunya tak ada dihadapannya. Si anak tak hirau, tak acuh. Dan Sang ibu?? hanya mampu menarik nafas panjang dan bermuka memohon, memohon semoga anaknya mengerti betapa sibuknya dia hari ini mengurus pekerjaan di kantor dan keperluan rumah sekaligus. Hari-hari ini masa yang melelahkan, Nak, andai kau mengerti, katanya dalam hati, menatap anaknya yang duduk di bangku bus umum yang mereka naiki. Si anak menatap jengkel ke arah lain, tak peduli dengan ibunya yang harus berdiri berdesakan,berbagi palang pegangan dengan penumpang lain.

Satu kakak putri duduk bersebelah dengan si anak, melihat segala kejadian dan semua mimik wajah. Kakak putri membuka tas, mengeluarkan satu lolipop yang biasa ia bawa untuk menyibukkan mulutnya saat bekerja di kantor.
"Adek mau??" tawarnya ada si anak.
Si anak ingin menolak dengan wajah kusutnya, tapi lolipop itu terlalu mengundang selera, jadi si anak mengambilnya dan terima kasih terucap dari bibirnya yang masih juga kusut. Kakak putri tersenyum.

"Namanya siapa??" Kakak putri bertanya.
"Aina", jawab si anak pendek, mulai mengulum permen.
"Kamu cantik, mau berangkat sekolah ya? siapa yang dandanin tadi?".
"Mama".
"Hmmm, pantas bajumu rapi dan manis", kakak putri tersenyum. "Bando kamu bagus, dibeliin siapa?".
"Mama".
"Wah, mama kamu baik ya.. pantas kamu sehat dan cantik. Kalau sakit pasti mama kamu juga ya yang merawat. Mama kakak dulu meninggal sejak kakak masih kecil, jaga mama baik-baik ya. Permisi, kakak mau turun dulu di sini". Kakak putri keluar dari barisan kursi sambil mengelus rambut belakang si anak, tersenyum pada sang ibu, melangkah mendekati pintu, keluar saat bis kota itu berhenti.

"Umm.. mama mau duduk??", si anak bergeser dengan muka ingin minta maaf pada sang ibu.



No comments:

Post a Comment