Wednesday, July 10

Ibuk dan Do'a-do'a

Baru seminggu yang lalu saya selesai membaca dua buah buku Asma Nadia yang membuat saya teringat IBU. Kata mbak Asma, di kata pengantar, memang untuk tujuan itulah buku itu diterbitkan. Isi buku pertama adalah tentang Doa. Kisah-kisah nyata tentang doa dan keajaibannya. Doa yang memberi kekuatan, doa yang dikabulkan, doa yang tidak dikabulkan dan doa-doa yang lain. Tentang keluarga, jodoh, sakit, cobaan atau ujian. Buku kedua fiksi, cerita pencarian seorang anak terhadap ibunya. Sempat bikin mata berkaca-kaca karena ingat ibu, bukan karena ceritanya hehe. Judul2 buku-buku ini aku lupa, sebentar aku ke kamar Hafshoh dulu buat lihat lagi. Maklum, aku hanya pinjam..
umm.. bukunya "catatan hati di setiap doaku" dan "cinta di ujung sajadah"... sepertinya =D

Membaca buku ini membuatku teringat satu masa yang membuatku berdoa dengan memohon dan bukan asal omong, bagaimana bersujud dengan mengingat tuhan dan sepertinya menjadi awal bagaimana aku mulai berjilbab.

Aku hidup dengan nyaman saat kecil, nyaman dalam artian sama dengan anak-anak lain tetanggaku. Tidak ada penganiayaan masa kecil yang membuatku memilih jadi psikopat, tidak ada hinaan masa kecil yang membuatku menjadi orang paling rendah diri sedunia, tidak ada kekerasan yang memberiku pilihan jadi preman kampung atau semacamnya. Semua damai saja, meskipun jika kuingat-ingat lagi, pastinya dulu keluargaku bukanlah orang berada. Tapi aba-ibuk berhasil membuatku tidak menyadarinya. Yahh.. terlepas dari aku yang terlalu cuek mungkin ya...

Dulu berdoa hanyalah sekedar ritual bagiku, sesuatu yang dibaca saat selesai sholat atau saat aku menginginkan hal-hal seperti semoga nilai ujianku tidak jelek, semoga besok guru cuma ngasih tugas dan tidak masuk, semoga ibuk dapat snack yang kuinginkan dari pasar atau lainnya. Doa-doa kecil dari seorang anak kecil, tanpa menengadah tangan dan terucap dihati saat bermain atau nonton TV. Hingga suatu hari ibuku jatuh sakit.

Aku kelas 1 MTs kalau tidak salah, maaf.. aku memang buruk dalam mengingat, Ibuku jatuh sakit. Bisa kau bayangkan, ibuku yang tak pernah lemas atau kuyu barang sekali tiba-tiba jatuh sakit dan tak lagi mampu berdiri. Ibuku yang selalu aktif meyiapkan sarapan pagi tiba-tiba hanya terbaring lunglai. Ibuku yang sejak shubuh hingga malam hari tak pernah kehabisan acara bersih-bersih dan mengurus toko kami tiba-tiba tak mampu melakukan apapun, bahkan buang air kecil hanya bisa memakai baskom mini di atas kasur yang biasa ia tiduri. Ibuku jatuh sakit.

Di antara sakitnya ibukku memanggilku dengan suara lirih pelan. "Zah, nanti kalo ibuk ga bisa mengembalikan baju yang ibuk pinjam dari bibi, kamu yang balikin ya.. letakkan di lemari paling bawah kamar bibi. Nanti kalo ibuk udah ga bisa... " Aku tidak ingat lagi apa yang dikatakan ibuk dengan suara pelan dan patah-patah saat itu. Aku hanya menekuk lutut di depan ibuk, menyembunyikan tangis dengan menelungkupkan wajah.

Aku hanya anak kecil. Tak sanggup membayangkan bagaimana jika ibuku tak ada lagi di tengah-tengah kami. Aku hanya bisa membantu sedikit dari segunung pekerjaan rumah tangga dari mengurus rumah, ayah, adik-adikku, toko kami, pepohonan jambu air di belakang rumah, bahkan ayam-ayam ternak itu. Aku hanya anak kecil perempuan satu-satunya dengan dua adik kecil yang masih harus bergelung-gelung di pelukan ibuk. Aku hanya anak kecil, kawan.. yang tak sanggup membayangkan jika ibukku tidak bisa kusentuh lagi. Sakit ibukku sungguh parah meski aku tak tahu apa. sakit ibukku juga cukup lama untuk sekedar disebut sakit biasa.

Saat itu aku mulai berdoa. Aku berdoa antara adzan dan iqomah karena Dia bilang akan mengabulkannya. Aku berdoa di dalam sujud akhir sholat karena Dia bilang itu ijabah. Aku berdoa, bersungguh-sungguh agar ibuku sembuh. "Ya Allah, sembuhkanlah ibukku.. hamba rasa hamba tak sanggup dan kau tak akan memberi apa yang hamba tak sanggup. Sembuhkanlah ibukku Ya Allah, karena Engkau Maha Pengabul do'a. Engkau sendiri yang berfirman, tak ada yang tak mungkin bagiMu..Hamba masih butuh ibuk..". Aku terus berdo'a hingga saat itu tiba. Ibukku sembuh.

Ibukku sembuh. Ibukku benar-benar sembuh. Sampai sekarang ibukku masih bisa tertawa dan sehat, meski tak boleh terlalu capek. Dan aku tahu bagaimana berdoa dengan mengingatNya, tidak lagi sholat dengan memikirkan film kartun kesukaanku hehe, dan aku tahu Allah akan selalu ada. Alhamdulillah...

Ibuk mengenalkan aku pada do'a. Lewat ibuk, Allah memperkenalkanku pada ijabahnya do'a, dan Ibuk yang pasti selalu memberikan do'a..untukku =)
Setiap wanita harus rajin berdo'a, kawan.. mereka harus tahu bagaimana berdoa, karena merekalah yang harus mendoakan anak mereka, suami mereka, orang-orang tersayang mereka. Do'a adalah senjata terampuh para ibu, agar anaknya sholeh-sholehah dan keluarganya sejahtera. Ibu akan selalu berdo'a. Saat ia lemah dan tak mampu melakukan apa-apa, ia masih punya do'a. Saat tak tahu lagi harus menodong pertolongan pada siapa, ia masih punya do'a. Dan akan selalu punya.

Yah, Oleh sebab itulah aku tak pernah bosan meminta do'a. do'a wajib dari orang tua dan tambahan do'a sebanyak-banyaknya dari teman dan kawan. Pasti kalian juga tahu kan,, setiap UTS, UAS, Skripsi atau apapun aku akan selalu minta do'a. lewat sms, status fb, note fb, foto atau gambar yang mungkin beberapa bisa menghibur dan akhirannya adalah meminta kalian untuk sejenak berdoa untukku. Setiap ujian malas belajar, misalnya.. ada balasan sms, comment fb ato lainnya yang berisi untaian doa, meski bercanda ato sedikit agak gila, selalu membuat bersemangat untuk kembali membuka buku lagi..berusaha lagi.. "zah, itu udah didoain, masak kamu ga mau ngasih perantara biar beneran bisa ngerjain soalnya. Kalo kamu ga baca mana kesimpen di otak.. udah baca aja, biar ntar bisa diingetin ma Allah mana jawaban yang harus di tulis.. kalo ga pernah baca mana bisa inget, brur!!"dialog pada diri sendiri.. meski kadang juga masih suka tidur pas ngapalin.. yah, itu emang tidak terhindarkan =D..

Dan sekarang inipun, aku ingin minta do'anya, cuy.. hehe agar segera ditempatkan di tempat yang terbaik menurutNya dan aku bisa dengan lapang hati mengikhlaskannya. aaamiiinnn!!!!! Terima kasih, kawan.. rasanya aku tak akan sanggup melalui segalanya tanpa do'a dari kalian..=)

Saturday, July 6

Skripsi, Ummm..

Ok, za.. mari berkisah tentang skripsi..
Ini bukan menjelaskan apa yang kubuat dalam skripsiku yak.. jadi tenanglah. Lagipula aku sendiri sudah tidak ingat lagi detailnya hahaha.. *gembel..
Kemaren saja pas ditanya oleh orang subdit "skripsi kamu apa??" aku diam lama, "umm.. skripsi saya pake frontier pak alatnya, untuk nyari apa itu umm... sebentar pak saya search dulu". (buka internet dan cari kata frontier, karena penyakit lupa istilahku kambuh lagi).. "tentang efisiensi perusahaan, pak" jawabku, diingatkan oleh google tentang kata "efisiensi" itu... si bapak yang tanya langsung me-"masak skripsi sendiri lupa"-kan aku.. heleh-heleh aku nyengir..

Skripsiku kemaren itu sebenarnya salah niat. Dari awal pembuatannya, aku hanya berniat menjadikannya sebagai alat untuk lulus. Jadinya sekarang memang cuma bisa jadi alat untuk lulus, sejauh ini tidak lebih. Padahal seharusnya, selain sebagai komoditas yang bisa membuatmu lulus, skripsi juga bisa dipake sebagai tiket ke luar negeri untuk diikutkan dalam paper internasional misalnya, atau sebagai bahan diskusi di forum-forum yang bisa membesarkan namamu suatu hari nanti, mungkin. Bisa juga jadi batu loncatan untuk kuliah di luar negeri, atau membantu memecahkan masalah sosial-ekonomi negara ini yang semakin menjadi-jadi, atau alternatif lain skripsi juga bisa dijadikan dongeng pengantar tidur anak-anakmu kelak, menjadi bahan gosip saat nongkrong dengan tetangga atau mungkin juga bisa dirubah jadi naskah film romantis/horor/tragedi kalau bisa...hmm..

Skripisi itu SESUATU. Selama tingkat dua-tiga, para kakak tingkat dan dosen itu sudah mewanti-wanti untuk mencari topik skripsi sesegera mungkin. Tapi berhubung aku orang yang tepat waktu, kuanggap hal itu belum cukup umur untuk dipirkirkan *ngekkk. Bagaimana bisa mikirin skripsi, orang otak baru aktif ngerjain tugas aja pas injury time hehehe. Pertama-tama juga banyak hal yang simpang-siur dipikiran untuk urusan topik, mulai dari skripsi yang idealis, cari dosen pembimbing yang mumpuni dan baik.. harus membantu memecahkan masalah, pake alat statistik yang canggih, alat yang dipake harus sesuai kebutuhan.. ga usah alay kayak mau bunuh tokek pake bom atom Hiroshima, harus yang orisinil,, blablabal-blablabla,, yahhh.. itu semua benar, kawan.. tapi terkadang data yang  kita butuhkan tak selamanya di tangan. Jadi selamat berjuang.. *acungkan tinju ke langit..

Awal-awal masa pengerjaan skripsi itu juga merupakan masa paceklik konsentrasi. Mau ngerjain bab I, alaaah masih berapa hari ini.. nonton aja dulu, otak mulai tak serius. Mau ngerjain revisi, alaaahh masih seminggu lagi.. santai aja dulu, pikiran mulai tak fokus. Alhasil, semua tulisan yang terpampang di lembar-lembar kertas putih ber-hard cover itu adalah hasil dari perasan-perasan terakhir sari-sari otak..=D. Yang penting bisa lulus-yang penting bisa lulus.. mantra yang terus diulang-ulang dipikiran. Dimasa-masa ini juga tambah parah.. gara-gara jam kuliah berkurang drastis cuma tiga pertemuan satu minggu padahal sebelum2nya bisa sampe megap-megap tiap hari ful sesi, jadinya pengen maen kemana-mana, muter2 ke sana sini, padahal skripsi terkatung-katung minta perhatian. Akhirnya malah malam pengajuan revisi harus lembur sampe pagi karena baru ada motivasi. Urusan print-printan juga jadi sejuta erornya... mamaaaakkk..

Ada masanya stres melanda, menggila, membabi buta *halah.. Banyak hal kuinginkan sejak pertama menginjak Jakarta tapi tak pernah kulakukan dari tingkat satu sampai tiga, malah kulakukan saat masa genting tahap akhir skripsi. Aku malah naek gunung Gede, ikut pendakian umum, padahal dari kemaren-kemaren pengen ikut tapi ga pernah kelakuan, oleh sebab selain tak ada waktu juga tak ada uang. Untuk pertama kalinya aku pergi ke GJUI (Gelar Jepang Universitas Indonesia), padahal dari dulu pengen tapi ga pernah pergi. Aku juga kelayapan ke banyak tempat kalo lagi trauma lihat laptop dan folder skripsi. Pernah juga seolah skripsi menghantui setiap langkah, lagi suntuk pengen kluyuran lah pas nyebrang jalan malah lihat plat nomor mobil belakangnya TFP, itu mah bagian dari skripsikuuuuu Total Factor Productivity (TFP) aaaaarrgrgghhhhh... pergi kau, pergiii.. *jambak-jambak rambut

Hingga akhirnya tiba masa semua mencapai puncaknya. Giliran panik banyak-banyak berdoa biar dapat dosen penguji yang baik hati dan rajin menabung, menabung kesabaran di ruangan sidang bersama kami. Yang dapat dosen baik syukur alhamdulillah, yang dapat dosen inversnya harus siap2 bawa banyak tutup panci buat jadi tameng tusukan-tusukan pedih dosen penguji, atau mungkin bisa pake kanuragan atau tenaga dalam macam naruto dan hunterXhunter. Hingga satu jam penentuan itu berlalu, kumpulkan berkas-berkas dan rekomendasi.. tinggal hari-hari perbaikan dan tanda tangan. Hmmm... tidakkah ini melegakan, meski belum berakhir seluruh perjuangan, kawan... tapi bukit tertinggi telah terdaki.

Bagian paling mengharukan dari sebuah perjuangan skripsi adalah.. bagaimana aku dan semua kawan serasa senasib. Seperti masyarakat tahanan yang menghadapi pintu sel yang sama, ujian yang sama dan dikejar-kejar oleh deadline yang sama. Satu jatuh yang lain membantu untuk bangkit. Kesadaran bahwa saat aku stres bukan hanya aku yang stres, saat data terhambat bukan hanya aku yang mengalami, saat metode buntu yang lain juga ada yang bernasib sama. Kami harus satu takdir, wisuda di hari yang sama. Do'a-do'a bertaburan di sekeliling kami, membimbing kami menuju pintu gerbang kelulusan itu. Hari dimana kami berkostum TOGA. Bersama-sama =))

Sudah berlalu, Bagiku..
*Perjuangkan skripsimu dengan serius semampu kemampuanmu, nak.. kau tak tahu apakah penyesalan atau kegembiraan yang menyertai kelulusanmu. Karena banyak kawan yang bilang "Seharusnya skripsiku bisa lebih baik dari itu". _'Seharusnya', kata yang menandakan bahwa sesuatu tidak terjadi.

Untuk yang sedang berjuang menyusul, Semoga lekas sampai dengan bahagia... =)

Thursday, July 4

Indonesia dan Kebanggaan

Banyak postingan di internet bilang menjadi manusia yang terlahir di tahun 90-an merupakan keberuntungan tak tergantikan.. Dan bagiku, yang terlahir menjadi generasi Indonesia, menjalani masa pertumbuhan di tahun 90-an memiliki arti yang lebih tak tergantikan.

Sebagai orang yang terlahir di masa itu, generasi kami adalah generasi yang tahu bagaimana caranya bangga pada negeri. Zamrud Khatulistiwa kami. Macan Asia kami. Bhineka Tunggal Ika kami. Masyarakat ramah kami. Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi kami. INDONESIA kami...
Mudah kami katakan kalau negara kami super keren. Kami bangga kami Indonesia.

Dan lihat apa yang terjadi hari -hari ini,, sungguh patah hati. Korupsi melumpuhkan Macan kami, zamrud kami terbakar satu persatu-sedikit demi sedikit. Bhineka kami tak lagi Ika. Mereka yang ramah tak lagi menyapa-hanya tersisa saling curiga. Negeri subur makmur menyisakan kelaparan pada rakyatnya..
Semakin hari kebanggaan itu meluntur seperti kain yang keseringan dicuci, dicuci dengan caci maki rakyat pada wakilnya. Memudar seperti pelitur kayu yang keseringan tertempa hujan, hujan hujatan antar sesama masyarakat kami yang "ramah". Mengelupas seperti cat yang keseringan terkena panas, panas persaingan  sengit para pejabatnya.

Bagimana semua bisa berbalik?? Dulu orang-orang luar sana yang menimba ilmu di tanah kita, tapi kenapa kita yang kalah dari segi kemakmuran rakyatnya?? Dulu kita berhasil menjadi lumbung padi bagi dunia, tapi kenapa sekarang kita sendiri yang mengais nasi di tanah subur ini?? Dulu kita yang membantu negara-negara tetangga merdeka, tapi kenapa sekarang kita sendiri yang terjajah??

Negeriku sekarat karena KETIDAKPEDULIAN, kawan.. di sini hanya sekumpulan orang-orang yang berkompetisi memenangkan rejekinya sendiri-sendiri.

Bayangkan jiwa mereka yang tumbuh di masa hari ini, negeri mereka tak lagi dibanggakan. Kalimat negatif bermunculan "Ah, Indonesia bisa apa??". "Indonesia mah kalah mulu tau". "Indonesia ga akan bisa kayak gitu!!". Jadilah mereka lebih hafal lagu Korea daripada lagu Indonesia Raya atau Pancasila. Lebih suka gaya Amerika daripada tata krama daerahnya. Bahkan anak sekarang tak tahu apa itu zamrud khatulistiwa,,

Aku masih ingat bagaimana caranya bangga pada Negeri ini. Karena masih banyak yang peduli, tentu... peduli untuk berkarya, peduli untuk memajukan bangsa, peduli untuk membangun kesejahteraan bersama dan peduli untuk berdoa, kawan.... berdoa agar negeri ini kembali merebut takdir kejayaannya..