Ok, za.. mari berkisah tentang skripsi..
Ini bukan menjelaskan apa yang kubuat dalam skripsiku yak.. jadi tenanglah. Lagipula aku sendiri sudah tidak ingat lagi detailnya hahaha.. *gembel..
Kemaren saja pas ditanya oleh orang subdit "skripsi kamu apa??" aku diam lama, "umm.. skripsi saya pake frontier pak alatnya, untuk nyari apa itu umm... sebentar pak saya search dulu". (buka internet dan cari kata frontier, karena penyakit lupa istilahku kambuh lagi).. "tentang efisiensi perusahaan, pak" jawabku, diingatkan oleh google tentang kata "efisiensi" itu... si bapak yang tanya langsung me-"masak skripsi sendiri lupa"-kan aku.. heleh-heleh aku nyengir..
Skripsiku kemaren itu sebenarnya salah niat. Dari awal pembuatannya, aku hanya berniat menjadikannya sebagai alat untuk lulus. Jadinya sekarang memang cuma bisa jadi alat untuk lulus, sejauh ini tidak lebih. Padahal seharusnya, selain sebagai komoditas yang bisa membuatmu lulus, skripsi juga bisa dipake sebagai tiket ke luar negeri untuk diikutkan dalam paper internasional misalnya, atau sebagai bahan diskusi di forum-forum yang bisa membesarkan namamu suatu hari nanti, mungkin. Bisa juga jadi batu loncatan untuk kuliah di luar negeri, atau membantu memecahkan masalah sosial-ekonomi negara ini yang semakin menjadi-jadi, atau alternatif lain skripsi juga bisa dijadikan dongeng pengantar tidur anak-anakmu kelak, menjadi bahan gosip saat nongkrong dengan tetangga atau mungkin juga bisa dirubah jadi naskah film romantis/horor/tragedi kalau bisa...hmm..
Skripisi itu SESUATU. Selama tingkat dua-tiga, para kakak tingkat dan dosen itu sudah mewanti-wanti untuk mencari topik skripsi sesegera mungkin. Tapi berhubung aku orang yang tepat waktu, kuanggap hal itu belum cukup umur untuk dipirkirkan *ngekkk. Bagaimana bisa mikirin skripsi, orang otak baru aktif ngerjain tugas aja pas injury time hehehe. Pertama-tama juga banyak hal yang simpang-siur dipikiran untuk urusan topik, mulai dari skripsi yang idealis, cari dosen pembimbing yang mumpuni dan baik.. harus membantu memecahkan masalah, pake alat statistik yang canggih, alat yang dipake harus sesuai kebutuhan.. ga usah alay kayak mau bunuh tokek pake bom atom Hiroshima, harus yang orisinil,, blablabal-blablabla,, yahhh.. itu semua benar, kawan.. tapi terkadang data yang kita butuhkan tak selamanya di tangan. Jadi selamat berjuang.. *acungkan tinju ke langit..
Awal-awal masa pengerjaan skripsi itu juga merupakan masa paceklik konsentrasi. Mau ngerjain bab I, alaaah masih berapa hari ini.. nonton aja dulu, otak mulai tak serius. Mau ngerjain revisi, alaaahh masih seminggu lagi.. santai aja dulu, pikiran mulai tak fokus. Alhasil, semua tulisan yang terpampang di lembar-lembar kertas putih ber-hard cover itu adalah hasil dari perasan-perasan terakhir sari-sari otak..=D. Yang penting bisa lulus-yang penting bisa lulus.. mantra yang terus diulang-ulang dipikiran. Dimasa-masa ini juga tambah parah.. gara-gara jam kuliah berkurang drastis cuma tiga pertemuan satu minggu padahal sebelum2nya bisa sampe megap-megap tiap hari ful sesi, jadinya pengen maen kemana-mana, muter2 ke sana sini, padahal skripsi terkatung-katung minta perhatian. Akhirnya malah malam pengajuan revisi harus lembur sampe pagi karena baru ada motivasi. Urusan print-printan juga jadi sejuta erornya... mamaaaakkk..
Ada masanya stres melanda, menggila, membabi buta *halah.. Banyak hal kuinginkan sejak pertama menginjak Jakarta tapi tak pernah kulakukan dari tingkat satu sampai tiga, malah kulakukan saat masa genting tahap akhir skripsi. Aku malah naek gunung Gede, ikut pendakian umum, padahal dari kemaren-kemaren pengen ikut tapi ga pernah kelakuan, oleh sebab selain tak ada waktu juga tak ada uang. Untuk pertama kalinya aku pergi ke GJUI (Gelar Jepang Universitas Indonesia), padahal dari dulu pengen tapi ga pernah pergi. Aku juga kelayapan ke banyak tempat kalo lagi trauma lihat laptop dan folder skripsi. Pernah juga seolah skripsi menghantui setiap langkah, lagi suntuk pengen kluyuran lah pas nyebrang jalan malah lihat plat nomor mobil belakangnya TFP, itu mah bagian dari skripsikuuuuu Total Factor Productivity (TFP) aaaaarrgrgghhhhh... pergi kau, pergiii.. *jambak-jambak rambut
Hingga akhirnya tiba masa semua mencapai puncaknya. Giliran panik banyak-banyak berdoa biar dapat dosen penguji yang baik hati dan rajin menabung, menabung kesabaran di ruangan sidang bersama kami. Yang dapat dosen baik syukur alhamdulillah, yang dapat dosen inversnya harus siap2 bawa banyak tutup panci buat jadi tameng tusukan-tusukan pedih dosen penguji, atau mungkin bisa pake kanuragan atau tenaga dalam macam naruto dan hunterXhunter. Hingga satu jam penentuan itu berlalu, kumpulkan berkas-berkas dan rekomendasi.. tinggal hari-hari perbaikan dan tanda tangan. Hmmm... tidakkah ini melegakan, meski belum berakhir seluruh perjuangan, kawan... tapi bukit tertinggi telah terdaki.
Bagian paling mengharukan dari sebuah perjuangan skripsi adalah.. bagaimana aku dan semua kawan serasa senasib. Seperti masyarakat tahanan yang menghadapi pintu sel yang sama, ujian yang sama dan dikejar-kejar oleh deadline yang sama. Satu jatuh yang lain membantu untuk bangkit. Kesadaran bahwa saat aku stres bukan hanya aku yang stres, saat data terhambat bukan hanya aku yang mengalami, saat metode buntu yang lain juga ada yang bernasib sama. Kami harus satu takdir, wisuda di hari yang sama. Do'a-do'a bertaburan di sekeliling kami, membimbing kami menuju pintu gerbang kelulusan itu. Hari dimana kami berkostum TOGA. Bersama-sama =))
Sudah berlalu, Bagiku..
*Perjuangkan skripsimu dengan serius semampu kemampuanmu, nak.. kau tak tahu apakah penyesalan atau kegembiraan yang menyertai kelulusanmu. Karena banyak kawan yang bilang "Seharusnya skripsiku bisa lebih baik dari itu". _'Seharusnya', kata yang menandakan bahwa sesuatu tidak terjadi.
Untuk yang sedang berjuang menyusul, Semoga lekas sampai dengan bahagia... =)
No comments:
Post a Comment