Thursday, November 7

Aku Peri

Meskipun hari-hari setelah dewasa ini banyak yang bilang aku terlalu gagah untuk jadi seorang nona, waktu kecil dulu aku tetaplah anak perempuan yang manis dan disayang mama..*halah..
Tapi ini serius loh, jaman aku kecil itu ibuk suka makein baju princess2 gitu, yang rok lebar, yang pita-pita, yang pink, yang blink-blink dan semacamnya. Maklumlah ya,, aku adalah anak perempuan pertama setelah kedua kakakku yang lelaki. Aku juga suka mainin riasan, terutama rambut.. ya dikepang tiga, ya diikat ekor kuda, ya diapain ajalah. Dulu itu kan banyak acara musik anak-anak yang bisa jadi panutan bagi aku kecil untuk mengolah model rambut. Hmm.. Aku jadi heran sejak kapan aku jadi lebih nyaman pake baju kasual maskulin daripada baju-baju unyu milik kaum feminim. 

Umm,, ini sebenarnya ga ada kaitannya dengan betapa manisnya aku di masa lampau *preeett..
Tentang "aku peri" di sini itu bukan mau mengambil sisi peri yang berbaju cemerlang, atau peri yang punya tongkat dengan ujung bintang (aku lebih suka tongkat biksu yang kayak kemoceng di pelm yoko atau tongkat pemukul anjing milik bocah tua nakal hehe). Yang mau diambil di sini adalah tentang baiknya ibu peri yang membantumu menyelesaikan pekerjaanmu yang tak sanggup kau kerjakan. hmmm..


Mungkin emang dasarnya aku baik kali ya hehe,, atau karena kasih sayang ibuku yang sungguh bejibun untuk ditampung, muncul keinginan untuk selalu membuat ibuku itu senang. Karena ibuku itu sudah susah payah mengurus semuanya tanpa libur atau dapat cuti bersama. Sedang aku?? Mainnya yang tanpa cuti.

Nah,, hadiah apa yang ibuku itu suka? Aku juga tidak tahu, kalau dikasih bunga, ibuku akan bilang "opo tho nduk??" dan aku hanya garuk-garuk kepala. Kalau dikasih coklat, ibu juga tidak suka dan pastilah malah aku yang lahap. Kalau dikasih uang, ibuku akan suka..tapi akunya yang tidak =D.

Tapi aku punya satu hal yang bisa kulakukan. Aku bisa jadi peri untuk ibuku hihihi..

Pasti senangkan kalian kalau pas punya kerjaan buuuaaaanyak, udah didaftar mau ngerjain apa dulu lalu ini lalu itu lalu lalang, tapi ketiduran eh begitu bangun semua sudah rapi jali selesai??? Kalau aku sih senang. Dan itulah satu-satunya cara yang aku bisa untuk membuat ibu senang =). Tiap ibu ke pasar, aku akan pastikan kalau rumah sudah rapi dan lantai sudah di pel kinclong. Kalau ibu lagi pergi aku akan pastikan toilet dan dapur sudah wangi. Yahhh, mungkin tidak semua hal bisa aku lakukan. Tapi membantu meringankan beban ibu sebelum disuruh membuat ibuku itu senang. Karena biasanya biar disuruh pun aku masih harus menunggu mood datang, kadang nunggu iklan dulu pas nonton kartun, biasaaaa anak kecil hehehe

Sampai sekarang juga kalau dirumah aku masih suka jadi peri, buat ibuku itu. Karena melakukan kebaikan demi orang lain akan membuat kita lebih nyaman, seperti ibuku itu yang melakukan semuanya demi kami. Dan melihat orang lain senang karena usaha kita, bisa membuat hati lebih bahagia. Ibuk terima kasih sudah mengajariku jadi baik =)

Wednesday, November 6

Terima Kasih Jakarta

Jakarta itu traumatis,tentu... Tapi Jakarta juga baik. Akan sangat baik kalau kau bisa mampir bertemu Jakarta sekali seumur hidupmu, setahun dua tahun mungkin. Jakarta baik, tapi kadang dia harus jahat sama orang.

Jakarta menerima semua orang tanpa lihat-lihat. Jakarta menerima orang kaya, Jakarta menerima orang miskin. Jakarta menerima yang baik dan Jakarta juga menerima yang jahat. Jakarta mengizinkan orang mencuri, Jakarta juga membantu kalau kau mau menolong orang lemah.
Jakarta bahkan menerimaku, orang yang sudah berprasangka buruk padanya dan yang sampai sekarang ingin kabur darinya. Meski aku jahat padanya, Jakarta masih memberiku hadiah setiap hari, seperti kebun kecil bunga matahari di atas toko roti Tegal yang kukasih tau ke kamu waktu itu. Jakarta tau saja kalau aku suka itu. Orang yang kusukai saja belum tentu tau hihihi.

Jakarta juga kadang-kadang menyebalkan. Hmmm...sudah tau aku lagi bete misalnya tapi malah main-main sama perasaan. Lagi kangen rumah malah ditunjukin jejeran warung soto lamongan. Lagi kangen orang malah ditunjukin plang dokter yang namanya sama, huft..entah Jakarta yang iseng atau nama orang itu yang pasaran. Sudahlah,,,

Jakarta selalu bilang waspada, tiap aku berada dikerumunan, di dalam busway yang sebenarnya transjakarta itu misalnya. Jakarta selalu bilang hati-hati, tiap aku beli barang-barang yang ada banyak benda jelek di dalamnya seperti kata tivi misalnya. Jakarta selalu bilang tersenyumlah, tiap aku mulai sedih melihat langitnya yang asap misalnya. Jakarta selalu bilang sabar sebentar, tiap aku antri atau menunggu di halte yang overload itu misalnya. Jakarta selalu punya cerita di pinggiran jalannya, di sudut pertokoanya, di dalam gedung-gedung mewahnya, di kolong jembatannya. yahhh.. di setiap tempat.

Jakarta punya banyak wajah. Jakarta berwajah kumuh saat bertemu pemulung misalnya, karena Jakarta tahu mereka takkan sanggup bertemu Jakarta yang gemerlap dan Jakarta akan berwajah gemerlap saat bertemu dengan juragan misalnya karena Jakarta tahu mereka takkan sanggup bertemu Jakarta yang kumuh. Jakarta itu pengertian. Jadi kalau di berwajah pencopet misalnya saat bertemu denganmu, mungkin ada yang mau dia sampaikan.

Dengan banjir, Jakarta ngasih tahu kalau ga banjir itu nyaman. Dengan sungai comberan, Jakarta ngasih tahu kalau jaga kali tetep bersih itu penting. Dengan macet, Jakarta ngasih tahu kalau manajemen lalu lintas dan kendaraan itu dibutuhkan. Dengan adanya orang yang suka saling olok, Jakarta ngasih tau kalau menghormati orang lain itu harus. Jakarta mengajariku banyak hal, jadi pandai-pandai aja menyimpulkan.

Kata Jakarta, setiap hal punya banyak sudut pandang, seperti dirinya. Setiap orang juga punya alasan di setiap keputusan yang diambilnya. Jadi, jangan mengira apa yang kau sangkakan tentang seseorang adalah benar. Kata Jakarta.


Sudah lima tahun.
Sudah lima tahun lebih aku di Jakarta, dan dalam dua tiga bulan lagi.. aku akan pergi, Jakarta!!
Za, jangan lupa Jakarta ya...

Om Gie dan Pak Pram

Hi, Gie.. apakah Indonesia sekarang sudah lebih baik?? 
Kalau kau masih hidup mungkin kau sudah bosan menuliskan penderitaan negara tercintamu ini di buku diari. Mungkin karena itu umurmu dipendekkan oleh tuhan, jadi kau mati dengan memeluk mimpi bahwa negara ini bisa lebih baik lagi suatu saat nanti. 

Baru saja baca postingan di blog salah satu teman yang menyumbangkan sekian persen kerinduannya pada puncak gunung. Sebagai anak gunung, dia pasti mengenal Gie sebagai profesor layaknya ahli fisika mengingat Einstein. Temanku ini suka di panggil T, dan ini artikelnya => http://tinooon.blogspot.com/2012/11/catatan-perjalanan-soe-hok-gie-ke.html



Sekarang sudah 2013. Di Indonesia mata uang terkecilnya adalah seratus rupiah dan satu bungkus nasi di Jakarta minimal 5ribu, inipun tipe yang MSSS (menu sangat sederhana sekali). Tapi sepertinya Indonesia dulu dan sekarang sama seperti toko yang isinya sama berantakan tapi etalasenya terpoles dengan lebih indah dan wahh. 

Tentang catatan Gie, aku baru baca yang sampai tamat itu yang diambil dari skripsinya, tentang pemberontakan PKI di Madiun. Judul bukunya "Orang-orang dipersimpangan Kiri Jalan" yang kubeli pas jalan ke Monas mo lihat acara festival malamnya pak Jokowi. Begitu lihat tanpa mikir langsung beli, pokoknya pengen banget baca (kayaknya aku udah pernah cerita ini.. ya sudahlah). Feeling pas baca catatan orang jaman pergolakkan itu menakjubkan pokoknya,, cerita-cerita yang mencoba dikubur oleh pemerintah masa orde baru. Jadi tahu bagaimana kelamnya Indonesiaku dulu, tawuran ideologi, konflik politik dan huwaaa.. kelam pokoknya. Ada juga bukunya yang Catatan Sang Demonstran, aku udah download ebooknya tapi masih males baca.. udah baca awalnya, tapi agak males bacanya.. hee maaph om Gie, pengen baca langsung pas om Gie udah gedhe.. tapi dari baca pas masa kecilnya itu aku jadi tahu, bagaimana sifat Gie yang sangat peduli pada keadilan tercipta dengan latar belakang Indonesia masa itu. Indonesia muda, masih mencari jati diri tapi diperebutkan orang-orang yang mau menang sendiri. Karena Indonesiaku kaya.

Ada lagi buku yang menceritakan Indonesia masa lampau. Kalau pengen liat dari segi budaya dan sosial, bukunya pak Pramoedya Ananta Toer itu sangat bagus. Udah diakui oleh dunia internasional. Bukunya juga banyak yang ga boleh terbit jaman dulu karena terlalu jujur menurutku. Semuanya terceritakan,, ya jelek ya buruk, dan pemikirannya pun frontal bebas untuk kaliber jaman itu yang maish sangat kejawen dengan kewajiban untuk menghormati orang yang berkedudukan lebih tinggi.
Aku juga udah nyari beberapa bukunya pak Pram, tapi buku2nya termasuk langka, jadi sekarang masih banyak yang soldout dan belum nyetak ulang. Bayangin dari tahun berapa itu buku terbit masih aja sold out. Sampai sekarang masih dalam proses nyari sih. Dari aku punya uang mpe uangnya habis lagi, mpe ada uang lagi sampe bokek lagi hahahaha.. itu buku belum juga ditangan. 

Yah,, harus bilang banyak-banyak terima kasih sama om-om berdua, kedua orang ini juga banyak menghadapi berbagai perlakuan yang ga baik dari penguasa masa itu karena yah.. yang kubilang tadi, terlalu jujur menceritakan suasana pada jamannya. Pak Pram bahkan dipenjara dan dibuang. Bedanya, kalau Gie ceritanya real/nyata karena emang bentuknya kayak diari dan karangan penelitian, sedangkan pak Pram itu lebih ke sastra fiksi. Unggulnya, karena pake dasar fiksi, pak Pram jadi lebih bebas dalam menceritakan berbagai hal. Soalnya ga bakal ada yang protes karena tidak menyinggung orang tertentu secara langsung, padahal yang diceritakan memang terjadi di kehidupan nyata..kan cuman fiksi.

kalau tahu buku tentang Indonesia masa lampau yang lain, kasih tahu dong.. =D