Kalau kau masih hidup mungkin kau sudah bosan menuliskan penderitaan negara tercintamu ini di buku diari. Mungkin karena itu umurmu dipendekkan oleh tuhan, jadi kau mati dengan memeluk mimpi bahwa negara ini bisa lebih baik lagi suatu saat nanti.
Baru saja baca postingan di blog salah satu teman yang menyumbangkan sekian persen kerinduannya pada puncak gunung. Sebagai anak gunung, dia pasti mengenal Gie sebagai profesor layaknya ahli fisika mengingat Einstein. Temanku ini suka di panggil T, dan ini artikelnya => http://tinooon.blogspot.com/2012/11/catatan-perjalanan-soe-hok-gie-ke.html
Sekarang sudah 2013. Di Indonesia mata uang terkecilnya adalah seratus rupiah dan satu bungkus nasi di Jakarta minimal 5ribu, inipun tipe yang MSSS (menu sangat sederhana sekali). Tapi sepertinya Indonesia dulu dan sekarang sama seperti toko yang isinya sama berantakan tapi etalasenya terpoles dengan lebih indah dan wahh.
Tentang catatan Gie, aku baru baca yang sampai tamat itu yang diambil dari skripsinya, tentang pemberontakan PKI di Madiun. Judul bukunya "Orang-orang dipersimpangan Kiri Jalan" yang kubeli pas jalan ke Monas mo lihat acara festival malamnya pak Jokowi. Begitu lihat tanpa mikir langsung beli, pokoknya pengen banget baca (kayaknya aku udah pernah cerita ini.. ya sudahlah). Feeling pas baca catatan orang jaman pergolakkan itu menakjubkan pokoknya,, cerita-cerita yang mencoba dikubur oleh pemerintah masa orde baru. Jadi tahu bagaimana kelamnya Indonesiaku dulu, tawuran ideologi, konflik politik dan huwaaa.. kelam pokoknya. Ada juga bukunya yang Catatan Sang Demonstran, aku udah download ebooknya tapi masih males baca.. udah baca awalnya, tapi agak males bacanya.. hee maaph om Gie, pengen baca langsung pas om Gie udah gedhe.. tapi dari baca pas masa kecilnya itu aku jadi tahu, bagaimana sifat Gie yang sangat peduli pada keadilan tercipta dengan latar belakang Indonesia masa itu. Indonesia muda, masih mencari jati diri tapi diperebutkan orang-orang yang mau menang sendiri. Karena Indonesiaku kaya.
Ada lagi buku yang menceritakan Indonesia masa lampau. Kalau pengen liat dari segi budaya dan sosial, bukunya pak Pramoedya Ananta Toer itu sangat bagus. Udah diakui oleh dunia internasional. Bukunya juga banyak yang ga boleh terbit jaman dulu karena terlalu jujur menurutku. Semuanya terceritakan,, ya jelek ya buruk, dan pemikirannya pun frontal bebas untuk kaliber jaman itu yang maish sangat kejawen dengan kewajiban untuk menghormati orang yang berkedudukan lebih tinggi.
Aku juga udah nyari beberapa bukunya pak Pram, tapi buku2nya termasuk langka, jadi sekarang masih banyak yang soldout dan belum nyetak ulang. Bayangin dari tahun berapa itu buku terbit masih aja sold out. Sampai sekarang masih dalam proses nyari sih. Dari aku punya uang mpe uangnya habis lagi, mpe ada uang lagi sampe bokek lagi hahahaha.. itu buku belum juga ditangan.
Yah,, harus bilang banyak-banyak terima kasih sama om-om berdua, kedua orang ini juga banyak menghadapi berbagai perlakuan yang ga baik dari penguasa masa itu karena yah.. yang kubilang tadi, terlalu jujur menceritakan suasana pada jamannya. Pak Pram bahkan dipenjara dan dibuang. Bedanya, kalau Gie ceritanya real/nyata karena emang bentuknya kayak diari dan karangan penelitian, sedangkan pak Pram itu lebih ke sastra fiksi. Unggulnya, karena pake dasar fiksi, pak Pram jadi lebih bebas dalam menceritakan berbagai hal. Soalnya ga bakal ada yang protes karena tidak menyinggung orang tertentu secara langsung, padahal yang diceritakan memang terjadi di kehidupan nyata..kan cuman fiksi.
kalau tahu buku tentang Indonesia masa lampau yang lain, kasih tahu dong.. =D
No comments:
Post a Comment