Ya, ya.. Satu kabar yang langsung membabat habis kadar serotonin yang susah payah kukumpulkan dengan menonton anime selama seminggu ini. Sepertinya aku butuh ekstasi atau morphine. =.="
Aku sepakat tak akan menulis apapun tentang masa transisi ini sampai nanti nasib kami jelas. Karena aku sadar benar jika kutulis sekarang akan ada satu dua paragraf yang berisi caci maki. Tapi ya sudahlah... Tuhan, maafkan kami yang bersyukur dengan keluhan.
Hei,hei begini ceritanya.
Kami yang beruntung ini, yang dapat kuliah dengan gratis dan dapat atm plus isinya ini, yang meskipun pelajarannya bikin rontok rambut ini. Kini sudah berhasil lulus. Upacara toga sudah selesai digelar, berbakti pada orang tua dan negara secara nyata sudah di depan mata. Dan konsekuensi lain dari kelulusan itu juga adalah atm kami tidak langsung otomatis terisi lagi.
Tiga bulan kami dirumahkan. Menunggu kakak tingkat kami ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia karena ada kendala birokrasi yang katanya anti korupsi itu. Ya sudah, kami menunggu, memanfaatkan kesempatan berada di rumah sebelum dibuang keluar pulau jawa. Ini bagian yang menyenangkan setidaknya, setelah otak awut-awutan berskripsi, nyaman sekali hidup cuma dengan nonton tv, menjadi pembokat rumah tangga dengan pahala membantu orang tua. Meskipun secara penghasilan yang ada hanya uang sisa wisuda dan tetangga sudah runyam bertanya bagaimana-apa-siapa.
1 februari kami yang terpencar satu Indonesia dipanggil kembali ke ibu kota untuk magang di kantor pusat. Setelah semua kakak tingkat ditempatkan ke kabupatennya masing-masing. Itupun dengan simpang siur bahwa mulai magangnya januari, membuat kawan luar Jawa buru-buru beli tiket dan terdampar di Jakarta hampir satu bulan lamanya dengan biaya hidup sendiri. Hmmm sejak awal memang segalanya sudah simpang siur kawan. Sungguh kasihan.
Semua tenang pada masa ini, kami magang di kantor dekat pasar baru. Tiap pagi sampai sore mencobai hidup ala perkantoran di Jakarta. Menggerutu tentang transjakarta, mencaci kemacetan, mengeluh polusi, bergosip dengan staf sebelah. Bocah-bocah lugu yang kukenal dulu tingkat satu, satu per satu berubah mengikuti gaya kantor ala majalah metropolitan. Busana dan make-upnya dan juga gayanya. Awal yang nyaman, insentifpun didapat. Anggap saja nyaman.
Kami anak magang, belajar mengerti apa yang harus dikerjakan pada badan pemerintah ini. Ada yang santai membantu pekerjaan meski hanya sekedar foto kopi surat undangan. Ada yang memang ditelantarkan, dibiarkan menonton drama korea berhari-hari. Tapi ada juga yang dieksploitasi padahal kami sebenarnya tidak ada gaji. Kadang beruntung bisa ikut proyek atau bisa konsinyasi di hotel berbintang atau hal-hal lain yang tidak pernah kami dapatkan pada masa kuliah gratis dulu.
Semua menyenangkan saja, sebulan, dua bulan, semua semakin membosankan, makin lama rasanya hidup semakin menyebalkan. Untung bagi aku ada distraksi menyenangkan dari tuhan yakni kesempatan pergi ke NTT, Itupun mungkin karena tuhan tahu kalau aku tak kuat berlama-lama menatap langit Jakarta yang sepetak-petak.
Tapi tetap saja makin lama hidup makin menyebalkan. Hidup yang seperti berjalan di jalan aspal yang serupa dan lama, jalan yang panjang tanpa tahu kapan kelihatan ujungnya.
[berhenti dulu, aku mulai tak bersyukur, aku tidak suka..,bersambung]
nice
ReplyDelete