Saturday, February 8

Kota ini

Kota ini mendengung. Sejak pagi kota ini selalu mendengung, suara lampunya yang hingar bingar, pendingin udara, komputer yang menyala, genset-genset gedung dan jalan rayanya. Orang-orangnya juga mendengung, mendengungkan masalah hidupnya ataupun masalah orang lain. Keluhan yang mendengung. Bukan dengung macam dengung serangga penanda hijaunya alam ataupun dengung ghunnah dalam bacaan Al-Qur'an. Dengungnya mendengung. Bahkan hujan lebat ini pun tak jelas suaranya karena jalan rayanya yang mendengung. Sampai-sampai tiap orang mulai menciptakan kebisingannya sendiri yang lebih bernada dengan earphone ditelinga mereka.

Berangkat jam enam di pagi mendung hari ini. Menaiki bus ibukota yang kaca-kacanya masih berembun. Dingin dan bersyukur aku pakai jaket. Pagi ini Jakarta hujan lebat, kali samping kantor yang bisa dilihat dari halte buswe budi utomo sudah rata dengan jalan raya. Tak beda jauh dengan sungai-sungai besar di luar jawa, hanya saja aku dan orang sekitarku tidak menaiki perahu atau kano tapi bus abu-abu koridor 7A.
Rasanya sudah seperti belantara kau tau, mendung membuat segala cakrawala kelabu. Yang terlihat hanya hijau pepohonan, gedung-gedung yang kelabu itu..tenggelam diantara kelabu langit dan bulir hujan.
Rasanya seperti menyaksikan sungai-sungai itu menagih haknya yang makin terampas. Air-air itu berlarian di jalan raya, menggodai kendaraan yang berjalan amat lambat. Saat seperti ini aku baru sadar kalau jakarta memang punya banyak manusia. Macetnya bukan kepalang, riuh derum kendaraan. Mungkin pengemudinya lebih memilih tidur di rumah dengan selimut hangat dan menyesal keluar rumah pagi ini. Seperti aku sekarang ini.
Hari ini banjir asli Jakarta, bukan kiriman dari dataran tinggi di Bogor sana. Hujan deras sepagian tapi merata di seantero Jakarta.
Ini ditulis di halte buswe juanda, sambil numpang berteduh dari lebatnya hujan yang akan percuma saja dilawan, jam kantor juga sudah telat ini..seolah aku pernah peduli saja. Dan pada akhirnya aku masih saja lurus ke kantor meski ada yang bilang balik pulang saja. Apa pasal?? Aku lapaaarrrr T.T dan menantang Jakarta yang macet dengan perut kosong bukan pilihan menyenangkan.

No comments:

Post a Comment