Air-air itu mulai gugur berduyun-duyun dari awan-awan yang terlalu dingin, mungkin mencoba mengejar kehangatan di celah-celah tanah.
Dan tanah-tanah itu sudah sedari awal tak mampu menghangatkan malah terdistraksi dan ikut larut berlalu pergi, pasrah menjadi lumpur.
Lumpur-lumpur itu datang mengambang-ngambang bersama air-air yang menyusupi celah-celah pintu.Pintu-pintu itu padahal sudah bertanggul.
Air yang masuk menyerap habis hangatnya lantai. Membikin lantai-lantai marmer di rumah kami menggigil, aq bisa merasakannya. Para lantai itu membagi dinginnya dengan kakiku yang mengeriput.
Musim hujan di kota ini terasa begitu panjang. Tanpa petani-petani, hujan di kota ini lebih sering dirutuki.
No comments:
Post a Comment