Wednesday, December 25

Jambu Air

Jambu air di desaku disebut "klampok". Iya, jambu air yang itu. Yang merah tapi juga ada yang hijau. Yang buahnya berair segar dan lebih menggiurkan saat kemarau. Yang kadang berbiji kadang tidak maka lebih sering dicangkok.
Klampok itu sudah tertanam di depan dan belakang rumah jauh sebelum aku lahir. Katanya sejak abah kecil, kakek yang menanamnya. Dan hingga kini pohon-pohon itu sudah berbuah berkali-kali-kali. Lebih sering daripada seringnya aku mengingatnya akhir-akhir ini.

Mengenal klampok itu sudah seperti mengenal keluarga sendiri. Aku hafal bentuk daunnya meski sekilas melihat, aku tahu lekuk dahannya dengan sekali sentuh, aku ingat bau getahnya dengan sekali hirupan nafas. Klampok itu sudah menemani sejak aku teramat kecil untuk mengingat. Di bawah rindangnya dulu pasti aku ditimang-timang, hingga aku kecil yang kepanasan di bulan puasa berleha-leha pada bayangannya sambil membayangkan awan-awan yang menjadi makanan. Di dahannya kakak menggantung ayunan dari ban mobil bekas, yang membuatku sampai mual-mual kebanyakan berayun. Di bawahnya juga kami-aku dan anak tetangga-, bermain gobak sodor, meniru gaya Saras 008, tawuran ala power rangers, lomba lompat tali, main rujak dan memasak dan apapun itu tanpa sadar ada panas matahari, karena klampok itu rindang. Aku sungguh berharap klampok itu punya cctv dan ruang penyimpan memori.
Meski hidup berdampingan dengan klampok itu, aku malu karena sampai sekarang aku tak pernah tahu siklusnya. Kapan ia berbunga, menjadi buah atau sedang rehat. Aku hanya ingat kalau sedang gugur benang sarinya yang panjang dan indah itu, membuatku merasa desaku yang tropis punya musim gugur. Menggantikan dedaunan sakura di Jepang sana yang kulihat dari anime. Mengayun-ayun ranting-ranting itu agar benang sarinya luruh ke tanah. Memetiki bunganya dan menjilati nektarnya menggantikan lebah madu. Bunganya harum, salah satu yang membuat nyaman.
Dari sekian anggota keluargaku yang diingat pohon klampok itu pastilah ibukku. Ibuk yang merawat mereka dan ibukku adalah perawat terbaik di dunia. Ibuk yang hafal kapan mereka mulai berbunga, menunggu bunga-bunga itu dibuahi serangga dan benang sarinya berguguran (satu-satunya adegan yanh kutunggu dari sekian siklusnya =D). Ibuk yang mulai membungkus buahnya satu persatu dari satu pohon ke pohon lainnya dengan tangga tinggi yang harus ia naiki sendiri. Tangga itu namanya 'jangkak', tinggi menjulang seatap rumah, menjangkaui pucuk-pucuk pohon tertinggi. Jika terlalu tinggi untuk diraih dengan jangkak itu, abaku yang akan mengurusnya.
Membungkus bunganya pun tak sembarangan. Harus memakai plastik terang terutama putih agar tidak diganggu para kalong di malam hari, itupun harus ada sedikit lubang agar si bunga tidak sesak nafas, maka plastik-plastik itu akan dipotong sedikit ujung-ujungnya. Barulah buah klampok akan dapat tumbuh hingga ranum dengan sehat. Teknik membungkus itu didapat ibukku dari eksperimen bertahun-tahun, dan dengan santainya ibukku membagi ilmu itu pada perani klampok lain. Dulu klampok keluarga kami adalah yang terbaik, sekarang klampok satu desa kami yang terkenal seantero wilayah, diburu sebagai oleh-oleh yang mampir ke WBL. Cobalah lewat pesisir desaku, akan ada warung-warung sederhana menjual buah ranum segar itu di pinggiran jalannya.
Selain membungkus ibu juga yang menunggu sampai klampok itu siap panen. Mengulang menaiki jangkak dari pohon ke pohon untuk memetiki buahnya. Kalau sudah panen satu keluarga harus ikut membantu. Ibuk-aba naik ke atas pohon dan memetik, aku dan masku duduk di bawah menunggu buah-buah itu diturunkan memakai tali dengan tas-tas anyaman dan kami harus memindahkannya ke bak-bak cucian yang berubah fungsi jadi tempat penampungan. Memindahkannyapun tidak boleh dituang begitu saja (ibuk pernah memarahiku karena ini hihi). Tiap buah harus dipindahkan satu per satu karena itu adalah barang dagangan yang estetikanya patut diperhatikan, mengingat klampok adalah buah berkulit tipis dan rapuh? Sekalinya jatuh langsung bonyok dan harga jualnya akan turun huft.
Untuk perawatan, tiap dua atau tiga tahun ibuk akan menyuruh tukang untuk menebang pohon-pohon itu sampai gundul. Kata ibuk, itu akan membuat siklusnya kembali muda, batang-batang baru akan tumbuh dan buah-buah yang dihasilkan tetap berkualitas. Meskipun harus menunggu satu musim tanpa panen.
Setelah dipetik, malam harinya ibuk akan mengaturnya dalam bak-bak cucian untuk dijual ke pasar. Mengelapnya satu per satu agar lebih mengkilap, menatanya dengan rapi hingga penuh dan berganti ke bak yang lain. Setelah itu, setiap bak akan ditutup dengan kain untuk dibawa ke pasar shubuh harinya. Dijual oleh ibuk dengan menaiki becak di pagi buta pada penjual buah eceran yang akan menjualnya esok paginya di pasar.
Sekali musim panen ibuk bisa tiap hari ke pasar selama berhari-hari, keuntungannya bisa untuk makan sehari-hari dan tambahan modal toko kelontong kecil kami. Meskipun punya pohon klampok dan tak perlu membayar untuk memakannya, aku bukanlah orang yang gemar makan klampok. Padahal klampok ibukku itu besarnya seukuran apel, manisnya pas dan segarnya nikmat, organik lagi. Beda dengan klampok yang kulihat di Jakarta untuk rujak yang ukurannya hanya sebesar jempol kaki. Di desaku, klampok-klampok sejempol itu sudah jadi makanan kambing dan sapi hehe. Tiap menemani ibuk menata klampok di malam hari, ibuk selalu menawariku untuk makan, memilihkan yang paling manis. Tapi aku jarang-jarang mau makan. Kata orang sudah bosan melihat. Berbeda dengan teman-temanku yang selalu saja rebutan saat aku bawa sekresek klampok ke sekolah.
Punya pohon rindang di sekeliling rumah memang menyenangkan, terutama di daerah pantai lamongan yang panas. Tapi tidak selamanya juga, tiap musim baratan (angin kencang) aku dan masku harus menyapu daun-daunnya yang berguguran, bahkan menjajah pekarangan tetangga. Waktu kecil dulu juga pohon yang rindang di siang hari itu jadi menyeramkan di malam hari, sampai aku harus membujuk kakakku untuk menemani kalau aku pengen boker di jamban cebluk kami di belakang rumah. Pernah juga waktu ada wabah ulat bulu (desa kami menyebutnya uler), huwaaaaaa benar-benar malapetaka. Ulat-ulat itu memakan daun-daun sampai ujung-ujungnya berbentuk lucu, pup ulat yang hitam-hitam bulat kecil seperti biji bayam juga merata di mana-mana, seenaknya menempel di dinding, bangku dan baju membuatku gatal-gatal hingga ibuk membedakiku dengan abu hangat bekas kayu bakar dari dapur tradisional kami. Ada satu ketika ulat-ulat itu benar-benar merajalela, dibatang-batang pohon mereka berjumlah ratusan, menggeliat dengan mantel bulu mereka hiiiii.., masku harus membakar mereka dengan obor, karena kalau diberi racun, ulat akan mati tapi bulunya bisa membuat trauma satu negeri. Ulat hanya bisa dikalahkan dengan semut merah besar yang kami sebut 'kerangkang', yang telurnya namanya 'kroto' buat makanan burung. Jika ada mereka di pohon dijamin ga bakal ada ulat yang berani bernafas di pohon yang sama. Jadi biasanya jika ada ulat, aba atau mas akan mencari rumah kerangkang yang namanya 'tembolok' entah dari pohon mana untuk dipindah ke pohon klampok kami. Tapi tetap saja harus berhati-hati dengan kerangkang, gigitan mereka dahsyat T.T
Sampai sekarang pohon-pohon klampok itu masih menemani rumah kami. Masih berdiri di sana tiap aku pulang. Meski umurnya tak muda lagi, ibukku juga tidak selincah dahulu merawatnya. Sekarang ibuk harus membayar orang untuk membungkus bunganya yang sudah kuncup terbuahi. Pohon-pohon klampok itu sejak dulu sudah ada, menjadi sandaran sepeda-sepeda kami yang hilang standartnya. =)

No comments:

Post a Comment