Wednesday, March 21
Kenapa Saya Menulis
1.1 Latar Belakang
Meski dulu para orang dewasa bilang nilai matematika saya bagus, awal ketertarikan saya pada kehidupan adalah pada buku dan cerita. Sebagai anak kecil saya beruntung karena ada banyak cerita dongeng dari buku ataupun mulut ke mulut yang sampai di hadapan saya untuk saya telaah. Jadi, cita-cita kecil saya adalah menjadi pengarang cerita. Percaya atau tidak, saya pernah akan menulis cerita tentang saya tapi dengan tambahan pernak-pernik fiktif di dalamnya, sama seperti tetralogi laskar pelangi. Akan tetapi saya kecil merasa itu menyalahi kaidah kepengarangan karena setahu saya dulu itu cuma ada dua jalur yaitu fiksi dan non-fiksi, kalau campuran.. saya bisa dibantai orang nantinya, di bilang fiktif pelakunya asli, dibilang nyata kok alay juga ceritanya nanti. Jadi saya urung, lagipula bahan untuk menulis pengalaman itu masih amat sangat kurang karena saya baru mengenyam sekolah dasar. Yang ada nanti malah cerita soal lompat tali dan lari-lari doank isinya.
Karena kelebihan imajinasi masa kecil itulah saya merasa setiap benda yang saya lihat selalu bicara dan memiliki kisah. Misalnya saat sedang mencuci baju mulai awal kelas empat SD dulu, seolah-olah baju-baju itu saling bicara satu sama lain saat saya jemur, ada yang merasa masih kotor kemudian ditenangkan oleh baju yang lain, ada baju berkarakter sombong ada baju yang pendiam dan semacamnya. Belum lagi imajinasi liar yang didukung oleh Doraemon dan Nobita. Sampai sekarang juga masih sama, kalau di kereta lihat bapak, ibu, mas,mbak, otak saya tidak bisa diam dan tersu membuat deskripsi dan narasi tentang tokoh di ssebelah saya tersebut.. apakah tokoh ini sedang menuju anaknya yang sakit, sedang pergi untuk melihat calon mempelainya ato sedang kabur dari keluarga. Semuanya tiba-tiba muncul dari mimik wajah dan gerak-geriknya. Semacam itulah.. tapi cerita yang terpikikan juga cuma sepenggal-sepenggal, tak pernah bisa menjadi satu jalinan utuk berlembar-lembar, paling cuma satu-dua paragraf. Dan bukannya sombong, biasanya deskripsi yang terpikirkan itu sangat bagus =D, tapi tidak pernah saya mencoba saya tulis. Dulu juga saya pernah menulis cerita cinta anak alay untuk dibikin komik oleh teman saya, heran saya bisa juga bikin cerita kayak gitu. hahahaha... Mungkin itulah alasan kenapa saya terkadang(atau sering) tersenyum, mengoceh ato lirik kanan-kiri kalau berjalan sendirian, jika anda pernah melihatnya.
Begitulah hidup pada episode awal, tetapi semakin ke sini, saya cuma jadi penikmat seni tulis ini. Tetapi otak tak pernah berhenti berkreasi,semaunya sendiri. Bahkan dalam keadaaan kritis macam ujian saja saya masih bisa berdeskripsi dan bernarasi...hmmm... itu sudah jadi mainan otak sehari-hari.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari uraian di atas, menjadi seseorang yang memiliki otak yang suka berpikiran macam-macam bukanlah hal yang mudah, bahkan terkadang sangat melelahkan. Masalahnya adalah, hampir semua narasi dan deskripsi yang seingat saya keren itu tidak pernah bertahan lama untuk diingat (apalagi mau ditulis). Beberapa menit setelah mencapai akhir paragaraf aku sudah kesulitan mengingat kalimat awalnya (kelebihan/kekuarangan otak saya yang lain..hahaha..). Jadilah semua itu seperti file hiden dalam otak saya, memakan memori tapi tak dapat diingat apa itu dan disebelah mana. Terkadang itu sangat memeberatkan, akhir-akhir ini seolah otak sudah overload dengan isi benda-benda abstrak. Mencoba berpikir saya harus menemukan cara untuk membuang benda ghaib-abstrak ini ke suatu dimensi lain, apapun dimensinya yang penting keluar otak.
Selain itu, tema cerita yang terkarang juga macem-macem (akibat hobi baca berbagai genre tulisan) mulai dari yang ga waras, serius, nyastra, ilmiah dan macem-macem.. tapi yang terasah mpe sekarang baru yang ga waras aja, soalnya kalo mau nyastra aku masih kurang kebijaksanaannya, kalau mau ilmiah aku masih kurang ilmunya, mau yang serius, udah terlanjjuur kosakatanya berantakan ... makanya notenya kadang lebih banyak ga warasnya alias ga waras semua sebenernya.
1.3 Tujuan
Ya seperti yang diuraikan di atas untuk mengurangi volume otak, salah..salah.. bukan volume otaknya ntar saya malah sederajat sama pitecantropus paleojavanicus... tapi mengurangi isi ga penting di dalamnya. Selain itu juga untuk mengasah ketidakwarasan yang mungkin nanti bisa berguna untuk meningkatkan imajinasi anak-anak saya tercinta hohhohoho
1.4 Manfaat
Manfaat buat diri sendiri ya.. bikin otak plong.. Kalau untuk orang lain saya tidak pernah memikirkannya. Tetapi malahan di luar perkiraan, mereka suka. Katanya bagus, bikin ketawa-ketiwi kalau otak lagi keseleo, bikin terharu mengingatkan pada kenangan sendiri dan semacamnya-dan semacamnya. Saya juga ikut senang kalau plong-nya otak saya diikuti plong-nya otak yang lain hehehehe.. Semoga bermanfaat..
Kesimpulan dan Saran
Sebenarnya saya tidak pernah niat mengarang untuk di baa orang, saya saja nge-share-nya tengah malam, niatnya biar ga ada yang baca malah tiba2notif penuh komen dan like, seneng sih karena beberapa suka dan komen lucu, saya jadi keranjingan baca-baca komen, rasanya seperti saya itu berarti,,lebayyy.. terus rasanya kalau kata-kata kita dikutip itu gimanaaaa gitu.. mantap lah pokoknya, pantas saja para penyuguh pertunjukkan bisa begitu bersemangat kalau penggemarnya banyak.. saya jadi tahu rasanya, meskipun tidak sebanyak orang-orang yang sudah terkenal hahaha...
Samapi sekarang saya juga tetep nulis buat ngilangin penat tanpa maksud apa-apa. Tapi tetep seneng kalau ada yang baca. Blog ini juga tidak diniatkan berisi informasi-informasi yang berguna, atau hal-hal lucu untuk membuat tertawa, ini cuma tempat saya menyimpan file-file otak sebelum ke-hiden. Tapi jika beberapa isinya bermanfaat bagi anda, saya pasti bertambah senangnya.
Terima kasih semuanya....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment