Wednesday, March 14
less respect
Sekitar dua bulan yang lalu saya pernah jalan ke sekitar Setasiun Jatinegara pas masih pagi sekali. Niatnya mau cari tiket secara dadakan ke Semarang buat ngobatin kangen ke ponakan tersayang, tetapi kebijakan PT.KAI yang membatasi penumpang membuat tiket kereta ekonomi menjadi barang langka, akhirnya saya menyerah dan memilih naik bis saja. Karena masih males pulang saya malah jalan-jalan di sekitar pasar Jatinegara yang beberapa penjualnya baru mulai berbenah bahkan kebanyakan masih tutup. Masih sepi, hanya ada pedagang makanan macam bubur ato ketoprak, bapak-bapak homeless yang baru bangun dari emperan dan beberapa angkot yang lalu lalang. Nah, disinilah saya menjumpai kejadian ini. Pertama muncul seorang bapak gerobak yang emang bukan barang asing lagi di pinggiran jalanan Kota Jakarta. Bapak ini mendorong gerobaknya dengan wajah tidak sumringah, yah.. mungkin sudah terlalu penat menjalani hidup. Bapak gerobak berjalan di ujung pinggiran aspal jalan raya karena memang trotoar Jatinegara tak bisa diharapkan lagi. Kemudian seorang bapak lebih muda penjual ketoprak juga berjalan menjajarinya, menuju arah yang sama sambil mendorong gerobak ketopraknya di pinggiran aspal jalan raya itu dengan mimik muka AGAK PONGAH. Yah, agak pongah. Seolah penjual ketoprak itu berkedudukan lebih tinggi dari bapak gerobak.. meskipun memang benar begitulah adanya. Selang sekian detik lewat pula penjual roti dengan menaiki gerobak rotinya yang dilengkapi sepeda. Ada suatu ketika di mana ketiga bapak-bapak ini berjajar bersamaan di ujung aspal jalan raya yang masih sepi itu dan bila kau lihat mata ketiganya saya merasa miris dengan kehidupan kota. Bapak yang menarik gerobak menatap iri dan tidak nyaman ke arah dua bapak yang lain di samping kanannya. Bapak yang mendorong ketoprak melihat angkuh ke arah bapak gerobak tetapi menatap iri ke arah bapak tukang roti. Bapak tukang roti hanya melirik dan tak menoleh ke arah kedua bapak di samping kirinya dan lenggang saja dia berlalu mengayuh gerobak rotinya, dada membusung. Bayangkan orang-orang kecil macam ini yang lupa cara bergaul dengan manusia lain.
Bukankah ini penyakit orang kota? suka mengentengkan, merasa lebih tinggi dan tak peduli. Memang bukan semua orang kota, tetapi darimana datangnya istilah itu kalau tidak dari kebiasaan yang terlihat??
Aku jadi ingat di desa. Pagi hari seorang bapak memikul dagangan ke pasar di pinggiran jalan berbatu, tak lama ada petani jalan santai tersenyum memikul cangkul menyusul. Saling menyapa. Bertanya kabar pasar, lariskah dagangan? Apa kabar bulir padi? dan kapankah panen? kemudian datang pak guru mengayuh sepeda, menyapa riang dan mohon maaf harus duluan. Pedagang dan petani berpisah diperempatan dengan saling mendoakan.
Saling menghormati.
*habis bongkar2 draft dan ini udah dr aq tgkat 3 ngendon dpojokan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment