Meja makan kami memang spesial, saksi bisu berbagai penderitaan dan kebahagiaan kami sebagai satu kelaurga perantauan yang tak punya hubungan darah dan sekolahnya di bidang paling momok bagi dunia Perguruan Tinggi-Statistik. Sungguh meja makan kayu berplitur yang sudah tak muda lagi itu merupakan tempat bicara paling membuat nyaman.
Salah satu topik yang terlintas untuk dibicarakan pagi tadi-selain tentang macam2 santet dan babi ngepet yang ada di wilayah kami masing-masing adalah mengenai negara kami, Indonesia. Kalau sudah begini, meja makan sederhana kami lebih mirip warung kopi tempat bapak-bapak curhat masalah negara tapi tak tahu juga apa yang harus dilakukan untuk membuatnya lebih baik.
Kami juga sama.. hhahahaa...
Misalnya kota tinggal kami Jakarta yang kebanyakan lahan belanja tapi kekurangan lahan nafas, entah pemkotnya sengaja bunuh kami pelan-pelan dengan morotin uang kita ato meracuni darah dengan karsinogen yang membuncah di mana-mana, yang jelas keduanya akan menyebabkan kanker (kantong kering dan kanker asli).
Untungnya saya bukan tipe ibu-ibu yang wajib belanja tiap beberapa jenak sekali, saya tipe yang wajib belanja kalau udah ga tahu mau ngapain lagi hahaha...Kami butuh nafas paakkk... lama-lama barang paling laris di mall-mall itu adalah oksigen tabung karena udara kalau dihirup bikin mutasi jadi zomby apocalypse.
Yang dulu paling saya sesalkan (berasa menteri kalau bilang kayak gini), saat tahu kenyataan bahwa BBM subsidi itu bisa dinikmati oleh siapapun dan dimanapun.
Yang logis menurut otak saya, harusnya subsidi itu dikasih ke para tuan dan nyonya miskin dan sederajat, industri, angkutan umum ato berbagai kegiatan perekonomian lainnya. Bukannya di kasih juga sebagai barang jadi untuk di konsumsi masyarakat umum. Malah baru sekarang, saat kelangkaan menimpa mulai menyusun rencana semacam itu. Kalau dari dulu udah di kasih ke orang miskin saja pasti kendaraan bermotor ga bakal sebanyak ini di jalanan Jakarta mpe trotarnya dilangsingin bahkan krempeng.
Iri lihat pelm-pelm diluar yang jalannya punya trotoar lebar bisa buat gulung-gulung ga usah jalan. Kalau aku gulung-gulung di trotoar Jakarta yang ada nabrak tiang-tiang (ntah tiang apa yang malang melintang), ato nyemplung selokan yang menganga di mana2, ato kelindes odong-odong dan kendaraan lainnya -___-".
Kebanyakan kendaraan sekarang juga, kenapa pajak beli motor ato mobil ga dimahalin mpe sundul langit aja sih, kan jumlah motor jadi dikit, bukan malah karena motor/mobil lebih banyak terus jalannya dipanjangin, yang ada ntar malah jakarta isinya jalan tol semua malang-melintang, sekali nyasar balik ke asal bisa ngabisin waktu berjam-jam. Ini kejadian pas hari wisuda kakak pertamaku, bayangin.. karena salah belok, kami semobil mesti muter2 dua jam dan alhasil kakak pertamaku harus rela tak dilihat oleh ayah bundanya saat tali topi toga itu diselempangkan di kepala tanda kelulusannya, kami telat datang.
Dan pasar-pasar kemahalan alias para mall ini sudah berakar ke mana-mana, dan baru sekarang-sekarang ini pemkot rusuh bikin aturan baru untuk membatasi jumlah bangunan, setelah aturan ada pun masih ada 20-an mall lagi yang akan dibangun karena izinnya udah keluar. Izin dari mana?? udah izin orang betawi beloonn??
Gini deh, kenapa pemerintah ga mewajibkan setiap mall itu untuk mendirikan perpustakaan entah di pojokan mananya, di parkirannya ato di bawah tanah juga ga pa-pa untuk masyarakat umum yang berarti siapapun boleh masuk baik direktur, satpam, staff, pelajar, orang ilang, pengemis, pemulung, tukang loak, tukang baso ato siapapun yang berniat baca. Kalau perlu sediakan tempat ganti baju kalau emang ga mau kebauan oleh aroma para tukang-tukang yang ga bisa beli semprotan pewangi itu.
Dengan begitu setidaknya bersamaan dengan dia morotin uang orang kaya ato setengah kaya mereka juga berkontribusi dalam memperbaiki sisi sosial orang-orang miskin dan setengah miskin lainnya.
Coba bayangin ada berapa gudang buku gratis untuk belajar kalau gitu, misalnya perpus di satu mall minimal punya seribu buku aja, wahhh... ga kebayang senangnya anak-anak yang haus akan bacaan menemukan oasis di tengah serabutan semak-semak kering kerontang. Saya bakalan hobi ke mall kalo kayak gitu.. hehehe. Kenapa pemerintah kita tidak bisa licik sedikit memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat dia tidak diliciki sebagian rakyatnya yang mementingkan keuntungan duniawi saja... aaarrrghhhh,.. pengen marah, tapi tetep aja ga bisa apa-apa...T_T
Hmm.. Indonesia kita ini emang kurang rasa bersamanya sih. Kurang banyak orang yang sadar untuk sukses bersama satu Indonesia. Suksesnya satu kalangan aja -,-.. Mulai dari koruptornya, para penipunya yang punya modus minta tolong tapi malah ndorong, para orang-orangnya yang sudah sulit peduli dengan sekitarnya, bapak2 dan mas2 yang hobi nongkrong doank di pinggiran jalan rayanya. Coba kalau orang2 ini bantu-bantu bersihin kali ciliwung ato rawa angke dengan suka rela dan senyum ceria pasti lebih bermanfaat dan mereka bisa terkenal.. ato setidaknya berdzikirlah pak dalam kediaman anda saat nongkrong di samping warung-warung itu, memohon agar negeri kita menjadi lebih baik.
Ya Allah,, jadikanlah orang-orang baik di negeriku ini licik sedikit jadi mereka bisa membalas kelicikan dedemit yang menggerogoti negeriku ini perlahan-lahan. Dan karuniakan kebijaksanaan pada para pemimpin-pemimpin di sana untuk menjadikan kesejahteraan bukan semata dongeng untuk menenangkan perut keroncongan rakyatnya. Dan lagi.. karuniakan pada hamba dan banyak generasi selanjutnya kemampuan untuk membantu mewujudkan mimpi negeri kami yang bernama kemakmuran dan melestarikannya. AAMIIN...
No comments:
Post a Comment