Jangan sangka karena ini adalah sekolah ilmu statistik yang pasti
berguna dalam berbagai bidang di dunia, maka para mahasiswanya adalah
orang-orang yang amat sangat tertarik pada dunia perstatistikan. Karena
seperti yang saya tanyakan pada sebagian kecil penghuninya, sebagian
besar mengatakan bahwa ketertarikan mereka akan tempat ini adalah karena
ke-gratis-an dan ikatan dinasnya. Berhubung kuliah masih merupakan
barang mahal di negara ini dan setelah lulus pun belum tentu tentram
hidupnya karena harus mencari kerja untuk mengenyangkan diri, maka
sekolah gratis dan langsung kerja, bergaji pula, mampu menjadi inti dari
daya tarik tempat ini.. Meskipun saya juga kenal beberapa orang yang
memang sengaja mengambil kuliah di sini karena murni untuk sang
statistik itu sendiri.
Jangan kira karena para mahasiswa
berbaju biru di sini adalah orang-orang pilihan dengan tes IQ dan
kepribadian yang terstandarisasi, maka mereka adalah orang-orang kaku
dan freak belajar tanpa tahu cara menikmati hidup. Karena setahu saya,
ada banyak jiwa kreatif dan ekspresif dari setiap orang di sekitar saya
yang punya cara menakjubkan dalam memandang dunianya. Seperti layaknya
manusia yang selalu mencari kebebasannya, mahasiswa di sini tahu
bagaimana mencari celah untuk keluar dari kepenatannya. Dengan musik,
desain, sastra, komik, hiking, olahraga, lawakan. Tak kalahlah mereka
dari mahasiswa jurusan seni rupa murni ato serupa (berasa) atlit kalau
sedang beraksi. Hanya saja semua berlapis seragam biru muda dan tak
menampakkan slengek’annya. Tetapi saya juga tahu beberapa orang yang
memang sudah kaku dari sononya dan telah terjerumus dalam kenikmatan
menimang rumus.
Mereka adalah kumpulan para calon dari
berbagai bidang yang mengalihkan diri pada dunia angka dan analisis.
Para calon bidan, calon guru matematika, calon dosen bahasa inggris,
calon ahli nuklir, calon ahli geologi, calon tenaga kesehatan, calon
master biologi, calon manajer bisnis, calon lulusan institut kesenian
Jakarta yang terbukti diragukan kenormalan pola pikirnya atau calon
pengangguran-seperti saya-, dari Universitas terkenal macam UI, ITS,
ITB, IPB ato UGM, atau bahkan perguruan tinggi yang tak dikenal di luar
daerahnya juga banyak, atau orang yang tak pernah kuliah sebelumnya juga
ada-seperti saya - . Mereka ada yang datang karena pilihan sendiri
sesuka hati, memenuhi keinginan orang tua meski harus membanting kemauan
pribadi atau karena tak tahu harus kemana lagi-seperti saya-. Dan
tibalah mereka di sini, STIS, entah mengerti ato tidak apa yang akan
dipelajari yang penting mari kita jalani. Jadi, STIS adalah kumpulan
orang-orang yang memang tertarik pada statistik atau telah menganggap
bahwa statistik itu menarik dan atau sedang berusaha membuat statistik
menjadi terlihat menarik. (lebih tepatnya, bocah-bocah kene iki asline
luweh akeh seng ora nggenah timbang seng waras,,,=D)
Sepertinya
beberapa seperti saya, menutup mata dan terjun bebas sekenanya tanpa
ada rencana dan perbekalan menuju ranah yang benar-benar tanpa
arah-statistik. Entah harus bersyukur atau kagum pada diri sendiri
karena saya bisa menyampirkan balok empat di kanan kiri pundak sampai
saat ini. Padahal saya sebagai manusia disleksia notasi benar-benar
menyipitkan mata saat huruf-huruf Yunani itu berjejal-jejal memenuhi
papan. Belum lagi saat mata kuliah pengantar matematika yang terlalu
banyak x berpangkat-pangkat, rasanya yang masuk ke telinga Cuma x-x-x-x-
kuadrat-xx- pangkat—xxxx membuat telinga berkunang-kunang dan pembuluh
darah otak seolah menyempit. Ada lagi matkul program-program bagi kami
anak jurusan statistik yang lebih sering error dari pada benernya,
diperintahkan presentasi program database malah presentasi error apa
saja yang bisa terjadi pada database anda karena program saya error
semua hahaha (kalo yang jurusan komputasi lebih <tii..iitt> lagi
pastinya). Lebih mengerikan lagi saat pelajaran KWN, admintor dan
semacamnya hoaaaahhh... udah mulai colek-colek teman sebelah minta
permen untuk mengganjal mata, (bukan.. bukan permennya diganjelin di
mata, tapi di-emut biar melek). Hmm.. Tak terasa semua berlalu sudah di
belakang sana. Menyenangkan untuk diingat tapi tidak untuk diulang
meskipun nanti uang ikatan dinasnya jadi lima juta sekalipun. Tapi kalau
tunjangannya dua kali lipat gaji saya nanti, boleh juga kembali
mengutak-atik notasi hahaha...</tii..iitt>
Dan pada
perjalanan yang hampir berakhir ini ada banyak cerita, saat semua hati
sudah mantap memilih jalan ini karena tak mungkin lagi melangkah mundur
dan pergi. Meski dulu tak rela atau terpaksa, meski dulu terseok-seok
tak mampu, meski dulu tersandung masalah ini dan itu. Kini ada yang jadi
orang penting di dunia kemahasiswaan, ada yang dapat calon pendamping
hati, ada yang telah mengharumkan nama almamater dan namanya sendiri,
ada yang sukses menjadi sahabat sejati, ada yang mendapat teman berjuang
sampai mati, ada yang enjoy saja menikmati hidup alias ga
ngapa2in...... – seperti saya =D– .
Saya dan mereka, yang tengah menjalani masa terakhir dan belum bisa bernafas lega.
No comments:
Post a Comment