Tuesday, March 20

Mahasiswanya Sekolah Tinggiku

Jangan sangka karena ini adalah sekolah ilmu statistik yang pasti berguna dalam berbagai bidang di dunia, maka para mahasiswanya adalah orang-orang yang amat sangat tertarik pada dunia perstatistikan. Karena seperti yang saya tanyakan pada sebagian kecil penghuninya, sebagian besar mengatakan bahwa ketertarikan mereka akan tempat ini adalah karena ke-gratis-an dan ikatan dinasnya. Berhubung kuliah masih merupakan barang mahal di negara ini dan setelah lulus pun belum tentu tentram hidupnya karena harus mencari kerja untuk mengenyangkan diri, maka sekolah gratis dan langsung kerja, bergaji pula, mampu menjadi inti dari daya tarik tempat ini.. Meskipun saya juga kenal beberapa orang yang memang sengaja mengambil kuliah di sini karena murni untuk sang statistik itu sendiri.

Jangan kira karena para mahasiswa berbaju biru di sini adalah orang-orang pilihan dengan tes IQ dan kepribadian yang terstandarisasi, maka mereka adalah orang-orang kaku dan freak belajar tanpa tahu cara menikmati hidup. Karena setahu saya, ada banyak jiwa kreatif dan ekspresif dari setiap orang di sekitar saya yang punya cara menakjubkan dalam memandang dunianya. Seperti layaknya manusia yang selalu mencari kebebasannya, mahasiswa di sini tahu bagaimana mencari celah untuk keluar dari kepenatannya.  Dengan musik, desain, sastra, komik, hiking, olahraga, lawakan. Tak kalahlah mereka dari mahasiswa jurusan seni rupa murni ato serupa (berasa) atlit kalau sedang beraksi. Hanya saja semua berlapis seragam biru muda dan tak menampakkan slengek’annya. Tetapi saya juga tahu beberapa orang yang memang sudah kaku dari sononya dan telah terjerumus dalam kenikmatan menimang rumus.

Mereka adalah kumpulan para calon dari berbagai bidang yang mengalihkan diri pada dunia angka dan analisis. Para calon bidan, calon guru matematika, calon dosen bahasa inggris, calon ahli nuklir, calon ahli geologi, calon tenaga kesehatan, calon master biologi, calon manajer bisnis, calon lulusan institut kesenian Jakarta yang terbukti diragukan kenormalan pola pikirnya atau calon pengangguran-seperti saya-, dari Universitas terkenal macam UI, ITS, ITB, IPB ato UGM, atau bahkan perguruan tinggi yang tak dikenal di luar daerahnya juga banyak, atau orang yang tak pernah kuliah sebelumnya juga ada-seperti saya - . Mereka ada yang datang karena pilihan sendiri sesuka hati, memenuhi keinginan orang tua meski harus membanting kemauan pribadi atau karena tak tahu harus kemana lagi-seperti saya-. Dan tibalah mereka di sini, STIS, entah mengerti ato tidak apa yang akan dipelajari yang penting mari kita jalani. Jadi, STIS adalah kumpulan orang-orang yang memang tertarik pada statistik atau telah menganggap bahwa statistik itu menarik dan atau sedang berusaha membuat statistik menjadi terlihat menarik. (lebih tepatnya, bocah-bocah kene iki asline luweh akeh seng ora nggenah timbang seng waras,,,=D)

Sepertinya beberapa seperti saya, menutup mata dan terjun bebas sekenanya tanpa ada rencana dan perbekalan menuju ranah yang benar-benar tanpa arah-statistik. Entah harus bersyukur atau kagum pada diri sendiri karena  saya bisa menyampirkan balok empat di kanan kiri pundak sampai saat ini. Padahal saya sebagai manusia disleksia notasi benar-benar menyipitkan mata saat huruf-huruf Yunani itu berjejal-jejal memenuhi papan. Belum lagi saat mata kuliah pengantar matematika yang terlalu banyak x berpangkat-pangkat, rasanya yang masuk ke telinga Cuma x-x-x-x- kuadrat-xx- pangkat—xxxx membuat telinga berkunang-kunang dan pembuluh darah otak seolah menyempit. Ada lagi matkul program-program bagi kami anak jurusan statistik yang lebih sering error dari pada benernya, diperintahkan presentasi program database malah presentasi error apa saja yang bisa terjadi pada database anda karena program saya error semua hahaha (kalo yang jurusan komputasi lebih <tii..iitt> lagi pastinya). Lebih mengerikan lagi saat pelajaran KWN, admintor dan semacamnya hoaaaahhh... udah mulai colek-colek teman sebelah minta permen untuk mengganjal mata, (bukan.. bukan permennya diganjelin di mata, tapi di-emut biar melek). Hmm.. Tak terasa semua berlalu sudah di belakang sana. Menyenangkan untuk diingat tapi tidak untuk diulang meskipun nanti uang ikatan dinasnya jadi lima juta sekalipun. Tapi kalau tunjangannya dua kali lipat gaji saya nanti, boleh juga kembali mengutak-atik notasi hahaha...</tii..iitt>

Dan pada perjalanan yang hampir berakhir ini ada banyak cerita, saat semua hati sudah mantap memilih jalan ini karena tak mungkin lagi melangkah mundur dan pergi. Meski dulu tak rela atau terpaksa, meski dulu terseok-seok tak mampu, meski dulu tersandung masalah ini dan itu. Kini ada yang jadi orang penting di dunia kemahasiswaan, ada yang dapat calon pendamping hati, ada yang telah mengharumkan nama almamater dan namanya sendiri, ada yang sukses menjadi sahabat sejati, ada yang mendapat teman berjuang sampai mati, ada yang enjoy saja menikmati hidup alias ga ngapa2in...... – seperti saya =D– .


Saya dan mereka, yang tengah menjalani masa terakhir dan belum bisa bernafas lega.

No comments:

Post a Comment