Saturday, January 28

Bapak dan Upil

Upil sudah sepantasnya dibuang, kau bisa sesak nafas kalau tetap mempertahankannya di hidung sempitmu itu. Eyang putri selalu mengatakan hal yang sama setiap berkunjung ke rumah kami. Upil itu tidak berguna, bahkan kalau keluar hidung bisanya cuma mengotori dinding bersih saja. Eyang tetap bicara dengan wajah kaku, ekspresi yang sama. Lama-lama upil bisa masuk ke paru-parumu, paru-parumu bocor dan udara yang kau hirup semua berubah jadi kentut. Kau bisa dikira orang busuk padahal itu karena upil yang tak mau kau buang. Aku hanya duduk menunduk, tidak menyeduh teh melati pahit kesukannya sementara beliau terus berbicara.

Eyang putri adalah ibu dari emak. Emak sudah meninggal sekian tahun yang lalu dan wajah eyang putri sudah berekspresi kaku sejak pertama mendengar kabar kematian anak semata wayangnya itu. Yah, sejak sekian tahun yang lalu. "Upil itu busuk... harus dibuang, Bapakmu itu busuk, lebih baik kau ikut eyang" wajahnya tetap kaku. Dan beliau tetap berkata dengan suara lantang meski tahu bapak sedang terbaring di biliknya. Hanya terpisah satu dinding anyaman bambu dengan ruangan tempatnya duduk. Eyang berkunjung hampir setiap hari untuk membujukku tinggal bersamanya. Aku, satu-satunya kenangan yang ditinggalkan emak untuknya. Bagi eyang, bapak adalah upil, hanya mengotori kehidupan emak dan aku. Apalagi sejak emak meninggal, karena bapak. Bapak marah,menampar emak, emak jatuh, menabrak tiang, pingsan, kata dokter berdarah di otak, meninggal esok kemudian. Sejak itu bapak linglung, mata kosong, tak ingat makan tak ingat tidur, hanya duduk atau rebah dengan mata terbuka dan sejak itu eyang berwajah kaku. Hanya aku yang sanggup rela emak tiada, merawat bapak dan mendengarkan ocehan eyang. "Tinggalkan saja orang sekarat itu, nanti juga mati sendiri. Kau masih muda,le.. masih bisa sekolah dan kerja yang layak kalau kau hidup bersama eyang". Eyang menatap lurus ke luar pintu. "Bapakmu itu miskin dari dulu, aku tak setuju emakmu nikah dengan dia. Kerja tak becus, benar-benar lebih buruk dari upil. Ikutlah eyang,le.. atau perlu kusuruh orang untuk bunuh dia agar kau mau ikut eyang,hah!!". "Orang tak berguna begitu kau pelihara, buang saja ke hutan biar dimakan anjing"...

Aku menunduk dan akhirnya mendapat waktu untuk bersuara "Sudah, eyang.. saya ikut eyang. Tapi tolong bantu saya menguburkan bapak dengan layak terlebih dahulu". Bapak sudah meninggal tadi malam. Eyang tidak tahu bapak meninggal kehabisan tenaga karena menangis berjam-jam menyesali segalanya setelah ototnya kaku hanya menyimpan segala kesedihannya dalam kelinglungannya selama sekian tahun ini. Eyang tidak tahu kalau dulu bapak sangat mencintai emak dan sebaliknya. Eyang tidak tahu kalau kematian emak adalah suatu ketidaksengajaan yang membuat bapak tak mampu lagi hidup tapi tak juga bisa mati. Eyang tidak tahu bapak tidak pernah sengaja bertahan dalam kemiskinannya, tetapi dia berusaha mencarikan makanan yang baik bagi keluarganya. Eyang tidak tahu kalau bapak selalu bercerita eyang putri adalah ibu terbaik karena bisa membesarkan anak sebaik emak. Eyang putri tidak pernah tahu karena dulu eyang putri tidak pernah mau mengunjungi kami... Tidak pernah walau sekali...

No comments:

Post a Comment