Monday, January 9

Nuansa Desa

belakang rumah

Nuansa desa bagiku adalah keadaan desaku saat nafas ini belum genap sepuluh tahun menghisap udara. Jalanannya yang masih berupa tatanan batu bekas jajahan belanda dulu, tanpa aspal atau beton yang terkesan angkuh. Paginya yang masih dingin, dengan angin lembut yang berhembus tiap shubuh mengantarkan para nelayan melaut. Tanahnya masih berbau wangi saat hujan jatuh ke bumi. Rumput-rumputnya yang masih dikerumuni capung dan kupu-kupu. Dan lumut hijau segar masih menempel lembut seperti alas tatami di pagar batu samping rumahku. 

Bisa kalian bayangkan, aku bangun dengan suara ayam dan burung yang cekikikan. Pagi hari menjejak tanah setelah turun dari ranjang karena dulu rumah kami tak beralas petak-petak ubin. Memakai sandal sambil mengucek mata, menguap-nguap dengan cetakan tidur di sekeliling wajah berjalan pelan meninggalkan kasurku yang berkelambu. 
Saat kecil aku jarang bangun di awal hari. Ibu selalu membiarkanku puas menikmati lelap agar tak merepotkannya bertugas menyiapkan kegiatan pagi bagi keluarga kami. Tetapi terkadang aku terbangun saat langit pagi masih tanpa mentari dan dipaksa untuk mandi. Setelahnya aku akan tergigil-gigil memakai sarung di depan tungku dapur yang tengah menanak nasi, menghangatkan pori-pori.
Bercerita lagi tentang jalanannya yang masih tersusun dari batu-batu putih sebesar bata yang ditanam di tanah. Permukaan batunya menonjol sebagian, membuat tulang ekor saya menderita kesakitan tiap dibonceng abah ke balai desa naik sepeda unta gaya lama, seperti yang dipakai mener belanda di film si pitung yang kulihat di tv tetangga. Batu-batu itu dimaksudkan agar tanah jalan tak becek saat hujan mengguyur dan alat transportasi masih bisa melewatinya tanpa terseok-seok. 
Dulu juga jalanan itu masih banyak dilumuri kotoran sapi bekas angkutan padi berupa gerobak besar yang ditarik sepasang sapi putih, namanya “glindeng”. Kotorannya akan menghilang dengan sendirinya setelah terlindas berbagai benda yang melewatinya, membaur dengan tanah dan menghidupi pepohonan sesuai siklusnya. Dan aku tak pernah protes tentang itu. Aku selalu takjub tiap melihat glindeng itu lewat, tinggi gerobaknya separuh rumah dengan muatan batang padi membuat tingginya kian wah. Terkadang menabrak ranting-ranting pohon jambu air kami yang melengkung ke jalan. 
Dulu tak ada mobil, sepeda motorpun jarang, hanya ada pak tani yang berjalan kaki atau pak guru menaiki sepeda, terkadang becak-becak mengantarkan ibu-ibu dari belanja. Jalan kecil yang ramai dan ramah. Meski anak-anak sering terjatuh tersandung bebatuannya dan lecet serta berdarah-darah, tapi tetap saja mereka bermain dengan seenaknya. Aku juga =D

Satu hal yang paling dirindukan dari sebuah desa adalah di mana setiap anggota masyarakat di desa tersebut akan mengenal dan dikenal oleh anggota masyarakat yang lainnya. Aku selalu kagum setiap abah atau ibuk berbincang dengan tetangga, menyebutkan banyak nama, dan mereka tetap bisa menyebutkan ciri-ciri, tingkah dan siapa saja keluarga nama-nama tersebut. 
Di desa juga adegan gotong-royong masih sering ditemukan. Saat ada pernikahan, tetangga adalah ibu-ibu katering sekaligus para tukang pendiri tenda pelaminan. Saat ada yang meninggal, tetangga juga yang turut berkabung duluan. Saat kelahiran, tetangga yang mengiringi keluarga bersorak kegirangan bersama bidan dan dukun kelahiran. Adat syukuran di desa kami, yang di sebut banca’an, di mana para tetangga yang berjumlah puluhan diundang makan dalam satu nampan besar dari anyaman bambu, duduk jongkok bersama mengelilingi “tampah” menikmati nasi mengepul, bumbu urap dan lauk seadanya tanpa sendok atau alat makan mewah lainnya. Ditingkahi cerita, dikelilingi kucing yang meminta jatah dan diakhiri dengan ucapan terima kasik pada pemilik rumah. 
Rumah-rumah di sana juga jarang yang berpagar, dengan teras di luarnya untuk berkumpul dan bercerita dengan rumah sebelah.

Dulu juga masih mudah menemukan tanah untuk bermain lompat tali, menggambar lapangan gobak sodor dengan telapak kaki, berlarian kesana kemari. Main petak umpet di malam hari yang masih gelap di beberapa sudut karena dulu tidak ada lampu hemat energi, yang ada hanya lampu neon untuk di ruang tamu dan lampu balon kecil bercahaya kuning untuk serambi. Masih gelap gulita di belakang rumah, harus membawa senter jika ingin melewatinya sebagai jalan pintas ke tetangga sebelah.

Desaku juga masih dikelilingi sawah dan ladang hijau di ketiga sisi dan menghampar laut di sisi sisanya. Setiap musim panen aku akan ikut keluargaku menuai padi yang menguning. Meski di sana aku hanya mengumpulkan daun-daunnan lucu yang bisa kujadikan alat main. Bau padinya pun masih kuingat sampai sekarang.

Kini jalan desaku menjadi beton, menjadi lebih halus, lebih bagus. Sepeda motor dan mobil banyak berseliweran. Pohon-pohon pekarangan yang dulu menjulur ke jalanan sekarang banyak yang dipangkas. Bahkan halaman rumahku kini di paving, tak banyak lagi rumput yang menyeruak. Banyak rumah dibangun, tanah lapang berkurang. Lampu-lampu membuat terang meski masih bisa memantulkan kelip bintang. Sawahnya masih ada, pantainya masih ada. Tetanggaku masih ramah. Tetapi secara garis besar desaku telah mengalami banyak perubahan.

No comments:

Post a Comment