Tuesday, January 24

Beliau Marah

Saya masih menunggu saat Indonesia mendapat hibahan kereta api peluru Shinkansen dari Jepang dan berbagai bantuan pembangunan fasilitasnya. Mengingat kebanyakan kereta api kita banyak tulisan jepangnya dari pada tulisan Indonesianya. Yah, saya masih menunggu..
Ini berkaitan dengan ketidakpulangan saya ke rumah liburan kemaren. Hari Imlek saya menelpon rumah, dan beliau marah. Ibuk tak mau bicara pada saya di telpon, beralasan sibuk mengurus tokonya. Khas ibuk. " Kenapa telpon? ga pulang aja kok.." terdengar suaranya di kejauhan dengan nada bercanda. Mataku berair seketika, tetapi mulutku malah mengeluarkan suara tawa renyah. Itu pertanda bahwa ibuk kecewa, Ibuk kecewa pertanda bahwa ibuk berharap. Ibuk berharap aku pulang. 
Itulah kenapa aku masih menunggu Indonesia segera punya Shinkansen peluru itu. Perjalanan Jakarta-Surabaya akan mampu terlampaui dalam tempo tiga jam saja. Bayangkan..tiga jam saja padahal sekarang ini aku harus duduk delapan belas jam di kursi kereta yang tegak lurus untuk sampai dengan kaku tulang ke rumah. Atau nanti saat pelabuhan dekat rumah sudah jadi dan harga tiket kapal pesiar mewah bisa dibeli dengan kurs yang sama dengan nasi uduk... tapi sepertinya kalau itu terjadi saya mungkin sudah bisa beli helikopter berbahan bakar kentut kecoa. 
Hmm.. mungkin saya belum diizinkan untuk pulang, mungkin nanti saat aku pulang akan lebih menyenangkan. Aku juga yakin ibuk masih menungguku dengan sabar. Ibuk juga berjanji akan membuatkanku sayur urap bunga pisang dan pecel dengan bungkus daun jati yang sedap.. 
Mari pulang dengan tenang Izah, nanti saat semua sudah selesai... Sampai jumpa rumah, tunggu aku ibuk..=)

No comments:

Post a Comment