Saat makanan murah tak lagi menggugah selera dan makna lapar tak menerima kata "asal makan"
Abang-abang es ting-tong meruntuhkan kenyataan bahwa uang saku kampus belumlah di tangan
Di tengah panas Jakarta dan pahitnya lidah
Memang sudah saatnya aku mulai mengais-ngais recehan di sudut-sudut saku celana
Akan tetapi di tengah pencarianku, abang-abang itu menjauh pergi dengan suara sayup-sayup gong kecilnya
Menarik nafas dalam, kuhipnotis diriku sendiri kalau inilah takdir terbaik yang kita miliki
KegalauanMahasiswaKelaparan...T_T
No comments:
Post a Comment