Kau pikir pernah terbayang diotakku aku akan pergi ke jakarta?? Sama sekali tidak. Sejak kecil aku sudah mewanti-wanti diriku untuk tidak pergi ke Jakarta. tidak cocok dengan insting saya yang liar. Lagipula kakakku sudah ada yang di Jakarta, jadi seenggaknya aku ingin cari kota lain untuk digentayangi. Bandung mungkin, atau Jogja, Solo, Surabaya juga tidak apa-apa.
Tapi yah, apa boleh buat yang gratis adanya di Jakarta hwehehe..
yak, cerita bagaimana aku, anak kampung buta arah, tanggal dan hari ini, bisa dapat tiket gratis untuk hidup empat tahun di Jakarta akan diceritakan di lain waktu. yang penting akhirnya aku sampai di ibukota negara Indonesia ini dengan selamat sentousa adil dan makmur..aamiin!!
pertama datang ke Jakarta, kami -aku,kakakku dan beberapa orang jatim yang belum terlalu kukenal dan sanak keluarga yang mengantar- naik bus sewaan. tanah yang pertama ku jejak saat tiba di Jakarta adalah tanah di sekitar jalan raya Ottoiskandar Dinata, Jakarta Timur. Tidak jauh dari Kampung Melayu yang terkenal banyak premannya. [tapi sampai sekarang aku belum pernah liat preman di Jakarta..hmmm..]. Di bagian Jakarta yang kuhuni ini jangan harap akan melihat gedung pencatek langit dan benda-benda Jakarta lain yang biasa muncul di tipi. di sini biasa aja,,,coz bisa dibilang ini itu pinggirannya Jakarta, yah..ga pinggir-pinggir amat lah...
satu, pertama datang kami tak punya tempat tinggal, jadi setelah daftar ulang kami langsung di ajak oleh mbak-mas tetua untuk mencari kosan. Dalam keadaan belum mandi dua hari sejak berangkat dari tanah kelahiran dan beberapa encok ringan di persendian, kami bergerombol rame-rame berangkat menyusuri daerah sekitar setelah menitipkan koper di tempat penampungan sementara. Semoga ini menimbulkan kesan baik di mata orang Jakarta...hohoho...dan terbukti sampai sekarang tidak ada yang mendemo kosan kami karena bau badan.
dua, aku dan seorang nona berinisial R-kami sama-sama dari jatim- mendapatkan kamar kos yang lumayan murah untuk berdua setelah berputar-putar melalui labirin jalan tikus jakarta yang aduhai njelimetnya bagiku- bocah yang sejak lahir hanya mengenal jalan gang balai desa, gang pak Amin dan gang Mubin di desanya-. Labirin ini berakibat fatal di beberapa hari ke depan. Saat aku dan nona berinisial R, pindahan dari tempat penampungan ke kosan.. nyasar tiga kali di jalan yang sama dan ketemu bapak-bapak yang sama padahal perasaan kami sudah mengambil arah jalan yang berbeda.. pake topengmu dan lempeng ma senyum2 aja ditanyainn ma bapaknya ngekos dimana, la wong kami sendiri ga tahu kosannya dimana??... kutukan sejak lahir memang tidak mudah hilang meski mandi kembang tujuh rupa...
tiga, saat melewati labirin untuk cari kosan, aku dan nona berinisial R masih menjiwai sopan santun ala orang jawi merunduk-runduk tiap lewat depan orang dengan niat permisi. mbak yang ngantar? enjoy aja jalan cepat tak peduli.. tapi aku tidak sekatrok orang yang melepas sandalnya saat masuk ke indomart ya,, lagipula di jakarta masih ada adat permisi numpang lewat tapi minus acara merundukkan badan dengan tangan menjulur ke bawah...
empat, sebelum pindah ke kosan, kami ditampung di sebuah kontrakan mbak-mbak. Dan pertama kali masuk kamar mandi rumah kontrakan mahasiswa, aku disuguhi mading,,pamflet2 karya mahasiswa yang peduli lingkungan..pesan hemat air, buang rambut rontok, matiin kran, tuntunan cara piket bersihin kamar mandi yang baik dan benar lalala-lalala..saking banyaknya mpe lupa tujuanku masuk ke kamar itu adalah untuk mandi,,,
Lima, saat berangkat ke Jakarta aku hanya membawa dua setel baju untuk keluar, dua setel baju untuk di rumah, beberapa benda yang dibutuhkan wanita, peralatan mandi yang terdiri dari sabun badan, sabun muka, sikat gigi, odol, beberapa sampo sachet dan.. sudah.. semuanya ku masukkan ke dalam ransel yang kubeli seharga 35ribu di pasar wage kecamatan, di tambah satu kardus air mineral yang berisi dua kaleng biskuit k*ng guan, satu untukku, satu lagi untuk kakakku.. ibu memang penyayang..hiks-hiks.. itu saja?? Ya, itu saja. Berbeda dengan anggota rombongan lain yang membawa koper-koper guedhe..ransel2 besar, plus masih bawa tas jinjing pula... aku tidak bisa membayangkan apa saja isinya. Bagaimana aku bisa begitu simple?? Itu karena aku belajar dari masternya...Kakakku. Dia melanglang buana bertahun-tahun di jakarta hanya dengan satu ransel barang bawaan..jadi kenapa aku harus bawa banyak barang? kalau kakakku bisa kenapa aku tidak.?? Alasan yang bagoes!!
Alhasil, jadilah persiapanku pergi ke jakarta untuk merantau empat tahun sama saja seperti persianpanku ke surabaya selama dua hari.. dan akibatnya, kemanapun aku pergi baju yang kupakai ya itu-itu aja..hwahahaha... sampai suatu hari seorang teman berkata “ kemaren darimana? Kok lewat sono? “. Kubilang “ kok tahu?!”. Dia bilang “ sapa lagi yang pake baju itu, kerudung itu ma celana itu kalo bukan kamu...”. aku dan dia “ hahaha...”. asyem!!
Enam, hidup di Jakarta yang terlintas dipikiran adalah “ pasti mahal”.. tapi aku menanggapinya tidak seperti nona berinisial R, teman sekamarku. Pertama datang ke Jakarta, dia membawa semua peralaatan yang dia butuhkan agar tidak perlu membelinya di Jakarta yang mahal. Kapas korek kuping, gunting kuku, gantungan baju, deterjen klo ga salah tusuk gigi juga dan benda-benda lainnya,, aku curiga dia juga menyimpan paku, obeng, pompa sepeda dan peralatan pertukangan di kantong ranselnya yang lain agar tidak usah menyewa tukang bila ada benda-benda miliknya yang rusak.. tapi sepertinya tebakanku salah.. dia cukup normal untuk tidak membawanya. Akhirnya aku membeli benda2 yang kubutuhkan di Jakarta. aku juga menodong nona berinisial R untuk patungan membeli bak dan timba karena takut di kosan baru nanti kami tidak punya bak untuk mencuci,,tapi tebakanku salah lagi hehehe..di kosan baru, timba-timba berserakan...sorry!! nona berinisial R juga melakukan perhitungan rumit agar dia tetap hemat dalam segala hal.
Tujuh, masalah makanan. Aku anak pantai yang setiap hari makan ikan segar dengan harga murah. Setibanya di Jakarta, sasaran utamanya gorengan..hedeh.. mati gaya,, harga ikan pindang layang di rumah seribu bisa dapat tiga di Jakarta berubah nama jadi ikan cuek dan berubah harga jadi duaribulimaratus. Bisa bangkrut kalau makan ikan tiap hari.. pilihan lain, aku dan nona berinisial R membeli telur dan mie instan agar lebih murah, dan karena sarapanku berubah jadi telur setiap pagi, gatal-gatal karena alergi yang sudah padam di masa SMA jedi bergejolak lagi.. garuk-garuk-salep 88..
Kau tahu apa yang dilakukan oleh nona berinisial R. Dia menggunakan bumbu ajaib untuk menciptakan menu sehari-hari, bawang putih, bawang merah, garam= oseng-oseng; bawang putih, bawang merah, garam, santan=lodeh; bawang putih, bawang merah, garam, kecap= semur; dan begitu seterusnya. Aku yakin asalkan ada bawang merah, bawang putih dan garam dia bisa survive di amazon sekalipun..
Delapan, kegiatan awal di Jakarta yang paling aneh, aku yang terbiasa di rumah bangun pagi, mandi, pergi ke pasar dan menjaga toko merasa sebagai pengangguran sangat kentara di Jakarta. pagi-pagi bangun tidak jelas mau ngapain. Akhirnya, nonton Spongebob Squarepants,,hohoho.. nona berinisial R nimbrung. Me+nona berinisial R+Spongebob Squarepants= wakakakakkakakaakk................
Sembilan, sebagai partner pertama di Jakarta, aku dan nona berinisial R saling tahu kalo kami sama-sama pas2an. Pernah dia sakit karena apgi-pagi minum salah satu produk vitamin C sebelum sarapan. Hasilnya dia mencret-mencret berhari-hari dan hampir pingsan di jalan. Sikapku?? Karena aku tak punya modal untuk menawarinya sesuatu, aku biarkan saja dia hahaha... yah, andai aku anak orang kaya, mungkin aku akan langsung melarikannya ke rumah sakit pertamina segera, mungkin..hehehe.... untungnya ada kakak tingkat sama-sama jatim berhati emas, mbak rischy,menawarkan teh dan susu untuknya. Syukurlah. Mengenai mbak rischy ini, dia adalah jenis orang yang ga tegaan. Bahkan mungkin saat menonton adegan seseorang tertusuk jarum pada suatu film komedi dia akan segera menutup lekat matanya. Kasihan dia harus tinggal sekosan bersama kami yang hobi nonton pelm psikopat..wkwkwk. [saat tulisan ini dibuat, mbak rischy sedang mengandung anak pertamanya].
Balik ke partner saya, kami saling tahu kalau kami bukan kelas ekonomi yang mampu, kami berhemat, aku menggantungkan diri dari biskuit k*ng guan yang kubawa dan dia pada snacknya juga jadi tidak perlu membeli jajanan untuk beberapa waktu. Pada suatu ketika, karena sadar akan tidak baiknya makan gorengan tiap hari, aku membeli teh hijau yang katanya dapat mencegah karsinogen. Aku seduh tehku dan meminumnya di depan tivi di ruang tengah.
Tiba-tiba nona berinisial R masuk dan berkata tegas dan curiga “teh siapa itu?” seakan tidak percaya aku mampu membeli kantung teh. Langsung saja kujawab “teh-ku lah, aku beli”. Dia mungkinkhawatir aku mencuri atau memalak orang karena nyidam pengen minum teh tapi tak punya duit..hmm... Di suatu hari yang lain, aku melihatnya menyeruptu teh, aku dengan curiga berkata “teh siapa itu?”. Dia sengit menjawab “tehku lah,aku beli”. Aku dan dia “hahaha..”. imej tak ber-uang melekat erat...
Sepuluh, Hitungan ini masih berlanjut hingga sekarang.mulai upil yang berasa tambah banyak, AC kampus yang dinginnya berasa tulangku yang rematik lagi diakupuntur dan sebagainya dan sebagainya.. Banyak hal terjadi saat proses adaptasi diperantauan, seperti aku di Jakarta ... bagaimana proses adaptasimu??
No comments:
Post a Comment