Tuesday, June 14

Seseorang

Cerita mengenai siapa lelaki yang kusukai mungkin akan menarik bagi sebagian Anda. Tetapi ini bukan cerita tentang itu, sayang sekali...

Ini cerita tentang darimana seorang aku jatuh cinta pada kesederhanaan, ternganga oleh tebalnya tameng kesabaran dan terapung nyaman dalam kolam hangat kasih sayang. Ini tentang ibuku...

Ibuku adalah ibu terbaik di dunia. Di seluruh ruang angkasa. Kebaikan ibu alien-pun akan kalah dibandingkan dengan kebaikan ibuku. Sssttt...tidak usah ribut protes ibu Andalah yang terbaik, bukankah kebaikan seseorang itu subyektif?? Ini noteku...terserah aku mau menulis apa.. Anda tak terima, tulis saja note sendiri... Jadi sekali lagi, ibuku adalah ibu terbaik di dunia.

Ibuku wanita sederhana, ibuku bukan orang yang mengerti perpolitikan negara atau bagaimana gejolak perekonomian Indonesia, yang penting bagi ibuku adalah berapa kenaikan harga beras dan bumbu dapur serta keperluan rumah tangga lainnya.

Ibuku bukan intelektual. Tidak biasa membicarakan bagaimana atom-atom di dunia saling berinteraksi atau suatu molekul terbentuk. Tidak tahu hukum Newton atau bagaimana gaya gravitasi bekerja. Tapi ibuku guru pertama yang memberitahuku bagaimana hidup berjalan. Meski dengan cara sederhana tanpa penjelasan rumit seperti yang dibicarakan para profesor.

Ibuku tidak pernah tahu tingkat inflasi setiap bulannya, atau nilai tukar rupiah dengan dolar dalam sistem perdagangan, dan tak juga pernah sekolah manajemen. tetapi ibuku mampu mengelola toko kelontong kecilnya selama lebih dari dua puluh lima tahun dan mengumpulkan cukup banyak pelanggan setia tanpa kursus marketing.

Ibuku tidak pernah balajar ilmu pertanian ato bagaimana kumbang membantu bunga menjadi buah dan biji. Tapi ibuku berhasil menemukan cara hingga enam pohon jambu air kami berbuah lebat, besar dan renyah tanpa ulat. Hingga mendatangkan rezeki tambahan bagi keluarga kami. Dan sempat-sempatnya membagikan tips yang dia temukan ke produsen lain saingannya.

Ibuku tipe ibu yang lebih suka menenangkan anaknya saat si anak bersitegang dengan teman mainnya. Bukan tipe ibu yang terlalu menyayangi anaknya hingga malah mengasah parang dan menyiapkan seribu amunisi untuk mendatangi rumah orang tua lawan anaknya dan mencerca mereka habis-habisan. Ibuku juga bukan tipe ibu yang terlalu tak percaya pada kebaikan anaknya hingga malah melayangkan setiap tamparan dan cacian menusuk hati kecil si anak dan melebamkan kulitnya, membuat si kecil merasa tidak ada harganya di dunia. Ibkuu akan berkata “tidak pa-pa, kamu lapar? Ibu baru goreng ikan, ayo makan... cup-cup..” mengelus pundakku, selalu bisa dibujuk dengan gratisan.

Teringat masa kecil, saat ibu menyimakku mengahafalkan surat pendek Al-Qur’an di malam hari sambil mencuci baju di ruang tamu karena tak kan sempat mencucinya di siang hari. Satu bak besar tanpa bantuan, baju kami semua, dan aku hanya bisa bermain busa sabun. hampir setiap hari seperti itu..

Ibu tak pernah memujiku dalam hal apapun, tetapi saat ada orang yang memujiku ibu akan tersenyum bangga dan aku senang. Merasa ibu telah memujiku lebih dari pujian orang yang memujiku. Ibu tak pernah mengucapkan selamat dengan kata-kata, ibu mengucapkan selamat menggunakan mimik wajah bahagia.

Jika marah ibu hanya akan diam dan itu mengerikan. Tidak berkata apa-apa padaku meski aku sudah bersikap sebaik dan semanja mungkin. Ibu hanya akan diam hingga hatinya lega dan akhirnya menyahut apa yang ku katakan. Beda dengan kami ,anak-anaknya saat marah, kami mengamuk dan membuat setiap barang berantakan. Lagi-lagi menyusahkan ibuku.

Seingatku, ibuku juga tidak pernah terlihat panik di depan anak-anaknya. Saat banyak angin dan suara guntur di musim hujan yang terdengar sangat dahsyat bagi aku kecil di rumah semi permanen kami yang tanpa peredam suara, melihat wajah ibuku semua akan baik-baik saja. Dan di banyak kejadian lain ibuku akan berjuang untuk tetap tampak tenang untuk menenangkan anak-anaknya.

Ibuku cantik meski setahuku seumur hidup ibuku tidak pernah ke salon meski hanya sekedar potong rambut. Ibuku sederhana, tersenyum ramah pada pelanggan tokonya. Bahkan terkadang aku berpikir ibuku terlalu baik untuk terlahir sebagai manusia yang kata malaikat, pembuat kerusakan di muka bumi

Hehehe....

Ibuku juga bukan ibu sempurna yang cantik jelita seperti putri raja. Manusia juga tak luput dari khilaf, dan ibuku manusia seutuhnya. Pernah ibuku mengambil tanpa bilang dan menjual buku paket sekolah yang aku pinjam di perpustakaan ke tukang barang bekas, karena mengira itu buku bekas yang kusimpan di bawah kasur. Akhirnya aku harus membayar sejumlah uang untuk mengganti buku pinjaman itu di akhir tahun ajaran agar ijazahku bisa dibawa pulang. ibuku menderita kerugian karena uang ibuku jugalah yang digunakan untuk membayar uang kehilangan ke perpustakaan, berhubung aku belum punya pemasukkan dan hanya bisa membelanjakan hehe. padahal uang yang diterimanya dari tukang loak tidaklah seberapa. Karena mata duitan Ibuku jadi terlalu bersemangat... hehe..

Ibuku juga menjadikan salah satu berkas penting milikku yang susah payah ku lengkapi untuk syarat kelulusan sebagai bungkus CABE dan BAWANG di toko kelontong kami, ohh God!! akhirnya aku harus mengulang semuanya dari awal..fewh.. tapi semuanya berjalan sangat menyenangkan kalau diingat. Banyak cerita tentang ibuku.

Aku juga harus bersyukur Ibuku bukan tipe ibu yang ember ke tetangga tentang kebiasaan kacau anaknya. Bisa dibayangkan percakapan ibuku dan ibu lain kalau itu sampai terjadi. “anak saya itu masih suka ngompol kalau tidur padahal udah gedhe.. fufufu” kata ibu lain menjatuhkan harga diri anaknya. Ibuku menyahut “ kalau anak saya paling Cuma bentur-benturin kepalanya ke tiang kikiki.. *giggling...-____-“a.. untung saja..

Maaf ibu, ibuku dengan susah payah membesarkanku. Anak perempuan satu-satunya. Berharap jika aku besar, dia takkan menanggung amanat kerapian rumah dan keperluan rumah tangga lainnya sendirian. Tapi aku pergi. Aku pergi meninggalkan ibuku. Dan ibuku harus bekerja sendirian di rumah kami. LAGI... tapi terima kasih Allah telah mendatangkan banyak bantuan untuk ibuku,, hingga ibuku bisa tersenyum menyambutku pulang.. setiap aku pulang ke rumah.. rumah kami.. see, my mom is the best mom ever..

No comments:

Post a Comment