Tuesday, June 14

Suamiku dan Istriku

*di waktu lampau, kita hanya kenal. tersenyum dan menyapa saat bertemu dan berlalu. aku tak pernah tahu seperti apa kehidupan menemanimu di waktu kau sedang tak tertangkap mataku. Akupun tak terlalu peduli, kau sama dengan setiap manusia yang berlalu-lalang di depanku tiap hari. satu masa dalam beberapa detik, entah apa yang kita obrolkan dengan kawan lain hingga keisenganmu keluar-seperti yang biasa kau lakukan-, kau bilang dengan nada datar "kau'kan yang akan menemaniku di sisa hidupku nanti?" lurus menatap wajahku. isengmu kambuh jadi kujawab saja " Insya Allah, kalau memang jodoh" aku tertawa. sorakan dan tawa kawan lain menutup adegan. 

_aku mengagumimu dengan sebab kau wanita sederhana. menatap dunia dengan bola mata sederhana. tapi isi kepalamu bukan hal-hal yang sederhana. bukan apa-apa tapi hanya kekaguman. aku menyukaimu karena kau tahu bagaimana menghargai kebebasan dan batasan yang kau miliki. kau tak pernah muncul dalam ingatanku dalam mode merah jambu, kau biasa saja. hingga aku dengar jawabanmu saat aku iseng berkata "kau'kan yang akan menemaniku di sisa hidupku nanti?" lurus kutatap wajahmu dengan niat bercanda. " Insya Allah, kalau memang jodoh" kau bilang. bagimu itu tak serius tapi bagiku itu terasa lain. aneh. aku, kau dan kawan lain tertawa tapi aku merasa aku mulai menyukaimu dengan cara lain, dengan mode merah jambu.

*aku menyalahkanmu. keisenganmu yang satu itu membuatku tidak lagi tenang.

_aku tak percaya tawaranku benar-benar kau terima pada akhirnya. dan kini aku bebas menggenggam tanganmu kemanapun kaki menjejak bumi. kau... istri terbaik yang kudapatkan dengan keisengan yang tidak pernah kurencanakan.

*awal bersamamu, menikmati setiap adegan yang telah diplot di naskah Ilahi. kepala kita saling berbenturan saat membereskan gudang bahkan mampu menjadi kenangan yang indah. gesekan tangan tak sengaja yang membuat hati berdesir hingga akhirnya kau genggam tanganku, menimbulkan warna semu merah dan panas di wajah. caramu duduk menemaniku dan mendengar setiap hal yang keluar dari mulutku. aku menyukaimu karena entah kenapa kepadamu bisa kuceritakan segalanya. keisenganmu yang meneleponku dan curhat mengenai istrimu yang cerewet, jutek, tapi begitu memahamimu apa adanya dan memberikan senyum terhangat saat kau pulang seolah aku teman sekantormu. dan di akhir kau bilang "maaf salah sambung". cara memuji yang paling kusukai. kau tahu saat aku hanya ingin diam dan kau dengan sabar menemaniku duduk beralas pasir tanpa berkata apa-apa selama berjam-jam bahkan sampai kau tak sengaja tertidur kelelahan, nafasmu naik turun menenangkan.

_aku bahagia memilikimu. aku bahagia berjodoh denganmu. aku bahagia melihatmu tersenyum padaku di pagi hari. terima kasih telah menerimaku apa adanya. mempercayakan semua isi kepala dan hatimu yang luar biasa itu kepadaku. caramu menusuk perutku dengan lima jarimu saat kau jengkel dengan keisenganku. aku ingin memujimu tapi aku tak bernyali di depanmu jadi kutelpon saja kau pura-pura salah sambung, maafkan aku. paling menyenangkan saat aku mendengarkan cerita panjang lebar darimu tentang banyak hal. kau tak pernah melihatku saat kau bicara tentang ini itu, kau hanya memandang ke depan saat kita duduk berdampingan, membuatku dengan puas menatapmu lekat, apa kau sadar? meski aku pernah tertidur karena buaian suaramu itu. aku bahagia memilikimu.

*ingat saat kau harus mengepel dengan kikuk menggunakan tangan kiri dirumah baru kita karena tangan kananmu kugenggam erat selama tiga jam gara-gara aku trauma pada cicak yang tiba-tiba melompat ke ujung jari tengahku di ruang makan? Maafkan aku, tapi aku benar-benar takut pada cicak sejak entah kapan. Tapi aku tak takut pada reptil lain, buaya sekalipun, jadi aku tidak akan merepotkanmu lagi. Setiap gerak tubuhmu selalu menenangkanku.

_kau tahu aku benar-benar ingin beternak cicak agar kau tak pernah melepaskan genggamanmu dari telapak tanganku. tapi aku tahu kau akan memilih pindah rumah kalau kau tahu ada lusinan cicak di rumah baru kita hehehe. aku merasa seperti ksatria saat kau bergantung padaku meski hanya sebatas genggaman tangan saat itu. meski di menit pertama aku ketakutan melihatmu bergetar hebat hanya karena dilompati seekor cicak kecil. Tapi kau berlahan tenang dan malah sibuk tersenyum melihatku kuwalahan mengontrol kain pel dengan tangan kiri. Kau mulai belajar iseng sekarang.

*aku senang kau memenuhi mahar tambahan yang aku minta. meski kau kaget pada awalnya. "aku ingin mas selalu mengingatkanku kalau mas dan aku bukan makhluk yang abadi, mas bisa pergi kapanpun Allah ingin, begitu juga aku". kau tahu alasan kenapa aku menambahkan mahar seperti itu? karena aku sangat takut akan sangat tergantung padamu untuk bahagia. kalau kau terus mengingatkanku, aku akan merasa siap saat kau tidak lagi ada. seperti sekarang ini saat aku mencium lembut batu pusaramu dengan kesabaran yang telah kupersiapkan sejak pertama kau sanggupi maharku.

No comments:

Post a Comment