Tuesday, June 14

Trilogi Pasca SMA

Di sini akan dibeberkan hal-hal yang terjadi di masa-masa status saya mengalami ketidakstabilan. Mantan pelajar yang belum jelas akan belajar lagi atau akan belajar kehidupan tanpa pena. Berhasil lulus SMA dengan tidak memalukan, dapat ijazah dan langsung hengkang...hohoho..[miss you SMA-ku], meski terjadi sedikit malapetaka yang ... sudahlah, lupakan!

Nah, benda-benda yang ngetren bagi para mantan siswa yang lulus dan ingin melanjutkan pendidikan lagi -entah karena gengsi, tidak ada pekerjaan lain atau karena idealisme membangun negri- adalah sipenmaru/UMNPTN/SPMB yang di zaman saya itu berubah menjadi singkatan yang cukup sumbang menurut saya..heh-heh..SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), yang karena sumbang diolah agar sedikit merdu menjadi SENAMPETAN oleh arek-arek SMA-ku. 

Apa itu PETAN?? Dalam bahasa jawa kuno, yang dimaksud petan adalah suatu kegiatan bersejarah yang dapat saling menguatkan hubungan persaudaraan di zaman nenek moyang produsen sampo tidak pernah keramas. Singkatnya, petan adalah kegiatan pembantaian KUTU RAMBUT yang dilakukan dua orang atau lebih dengan cara memilah-milah rambut. 
Jadi kawan-kawan, bisa dibayangkan apa yang ada di otakku saat kata SNMPTN disebut dengan nada yang lebih merdu?? Bukan deretan banyak bangku berisi nona dan tuan yang mengisi soal dengan hening tetapi deretan banyak pasangan, yang mana orang yang ada di belakang duduk sedikit lebih tinggi dan mulai memilah-milah rambut orang yang ada di depannya dan mengincar kutu rambut secara serentak sesauai aba-aba, dan hal ini dilakukan dengan wajah ceria dan diiringi musik senam kesehatan jasmani dan instruktur yang duduk di panggung kecil di depan barisan. Itulah SENAMPETAN...sesat!!

Jadilah suatu hari, saya dan beberapa teman senasib se-SMA, berangkat ke ibukota propinsi Surabaya untuk mendaftar di acara akbar SNMPTN itu. Dengan menggenggam sejumlah uang untuk membeli formulir, tanpa rencana, tanpa persiapan, tanpa OTAK, berangkatlah saya diiringi restu ibu+aba.

Mengisi formulir, kepribadian lain saya mulai terbahak-bahak tak terkendali dan memaki-maki. Sedangkan kepribadianku yang memegang kontrol berusaha sekuat mungkin agar tetap tenang di tengah kumpulan nona dan tuan di sekitarku. ( kalau teriak-teriak sekarang nanti kau bisa terkenal, itu sangat bertentangan dengan tujuan hidup kita!!tenanglah!!).

Tanpa melakukan riset mendalam mengenai fakultas, jurusan dan PTN yang saya inginkan, saya pelototi saja daftar nama-nama jurusan yang tersedia sambil sesekali bergumam “hahaha...ada ya jurusan kayak gini?! Belajar apa ya di jurusan ini?? Wah namanya lucu, imut-imut ...Blablabla..” NGEK!!

Keputusan. yak, akhirnya saya memutuskan. Jurusan yang kira-kira banyak menerima mahasiswa meskipun tidak jelas di dalamnya nanti saya akan mempelajari apa dan bagaimana nasib saya saat embel-embel sarjananya sudah ada di belakang deretan nama. Pilihan pertama..entah khilaf atau kerasukan... saya pilih jurusan Pertambangan di ITB (BUWOCAH GEMBLOONG!!! Setidaknya bawa secuil otakmu!!) Cuma tahu tambang batu kapur di desa sebelah aja udah sotoy masuk pertambangan, ... pilihan kedua...dengan sadar bahwa bahkan saya baru menyadari keberadaan jurusan itu di permukaan bumi untuk yang pertama kalinya...saya menulis jurusan Teknik Geomatika di Institut teknologi Sepuluh November Surabaya (seenggaknya kebayang lah,,ada geo-geonya,,pasti ada hubungannya ma bumi-bumian,,/ terserah kau saja!!). keyakinan saya saat itu adalah apapun bisa dipelajari jadi yuk kita kemon!!...ukeh, serahkan formulir-pulang....

Belajar-belajar-belajar...
SNMPTN-SNMPTN-SNMPTN.....
Menunggu-menunggu-menunggu...

Namaku muncul di koran!!hehehe...saya lolos..jurusan TEKNIK GEOMATIKA ITS Surabaya!! Ih,wa0w!! Aje gile!!ga nyangka ada yang tembus,,hahaha... padahal tidak jelas apa yang saya lakukan saat tes SNMPTN.alhamdulillah... tapi kabar yang mengiringinya yang tidak seru, keluarga saya harus membayar uang pendaftaran 5-6juta, belum lagi jurusan teknik akan lebih mahal untuk praktek-prakteknya,,lalala... keluarga memutuskan untuk menunggu kabar dari USM STIS saja dulu dan melepas kesempatan ini. 

Yah, seenggaknya lumayanlah buat gaya-gayaan kalo ditanya. “ngelanjutin kuliah di mana?”, saya menjawab “ teknik geomatika, ITS” (ajiibb!!! ITS gitu loh!padahal kayaknya saya keterima karena kuota yang daftar kurang hehehe..prospeknya pasti bagus, berhubung Indonesia punya bakat untuk kena gempa..) sambil menikmati wajah-wajah tidak mengerti dan berharap mereka tidak bertanya apa itu teknik geomatika karena saya sendiri tidak punya materi tentang itu di otak saya,,,dan sampai sekarang pun saya tidak pernah tahu tentang apa itu teknik geomatika,, kalau diantara anda ada yang tahu, saya berharap anda dengan senang hati menceritakan pada saya. 
Hmm, sedangkal itulah pengalaman saya dengan yang namanya perguruan tinggi negri selain itu saya tidak tahu lagi... padahal sudah terbayang serunya pontang-panting cari beasiswa terus kalo lulus daftar ke BMKG untuk meneliti sifat kebumian Indonesia,, bekerja di lapangan, bergosip tentang gunung berapi dan bercanda mengenai gempa tektonik, melanjutkan studi ke Jepang yang ahli dalam gempa-menggempa dan begini begitu begono..hmmm...aromanya menyenangkan. Tapi takdir belum mempertemukan kami sobat.. harapan memang selalu indah,.. (un-ending)

No comments:

Post a Comment