Memang ada yang beda pada tahun ajaran baru di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik tahun ini. Bagi saya sendiri yang sejak SD sampai SMA hampir tidak pernah mendapat berbagai perlengkapan baru pada tahun ajaran barupun ikut terharu.
Bagaimana tidak, mengawali masa perkuliahan baru dengan hati baru setelah menghapus salah di hari yang fitri. Aula baru yang megah dan mewah. Kabar bahwa gedung baru sudah bisa digunakan, jadi saya sudah bisa nyasar di kampus.
Belum lagi seragam baru yang wajib kita beli dan kita gunakan pada awal apel hari perkuliahan. Membuat nuansa kebaruan itu semerbak di udara. Sampai-sampai banyak sekali teman-teman yang update status di fb mengatakan hal tersebut di atas pada malam apel perdana. Apakah anda termasuk salah satunya? Kalau saya tentu tidak.
Akan tetapi apakah patut disalahkan kalau kami selaku mahasiswa merasa kecewa. Harapan menghuni kampus yang keren masih harus menunggu beberapa bulan lagi. Berbagai keluhanpun bermunculan menanggapi keadaan ini.
Mulai dari antrian lift saat pergantian jam yang hampir sama dengan antrian busway pada jam kerja dan kepengapannya yang menurut beberapa pihak seperti sesaknya KRL komuter ekonomi biasa Depok-Jakarta pada jam ramainya.
Saya saja yang mulai tingkat dua lalu selalu berangkat saat injury time karena percaya dengan kekuatan langkah kaki kini harus berangkat setengah jam lebih awal dari kosan. Khawatir terjebak kemacetan lift. Belum lagi pada jam pergantian matkul yang hanya 15 menit padahal harus sholat dan makan.
Saya pernah mengantri selama setengah jam hanya untuk turun ke lantai satu. Saya lebih memilih naik tangga darurat jika boleh. Sampai sekarang saya masih belum bisa percaya kalau lift untuk mahasiswa hanya ada dua. Pasti ada lift lain yang disembunyikan di suatu tempat,pasti 0_o.
Gawatnya lagi beberapa kali lift mati dan membuat mahasiswa terjebak didalamnya, saling berebut oksigen. Belum nanti jika absen fingerprint diberlakukan, terbayang sudah dunia saya yang lebih semrawut dari biasanya.
Masalah utamanya adalah listrik yang belum mengalir sesuai daya. Hal ini juga yang menjadi penyebab lift beberapa kali tewas saat bertugas. Efek lainnya, AC di kelas mati, viewerpun tak berkutik dibuatnya. Ruang kelas menjadi ajang sauna bersama dosen dan mahasiswa. Tanpa viewer beberapa dosen kesulitan menyampaikan materi. Tanpa AC mahasiswa kesulitan menerima materi karena harus membagi konsentrasi untuk mengaktifkan kipas tangan. Tidak adanya tempat sampah. Sarana dan prasarana kampus yang belum semuanya ada. Perpustakaan, kantin dan lab.komputer masih dalam tahap penyiapan.
Semua tentang kampus kita tercinta ini memang masih jauh dari sempurna. Berbagai keterbatasan yang ada memang perlu dilalui untuk menjadi lebih baik. Tak ada yang bisa disalahkan karena saya pun percaya semua pihak sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjadikan STIS lebih baik. Daripada memperbanyak mengeluh pada kampus, alangkah lebih baiknya kita mulai memberikan kontribusi untuk kampus dan negara dengan cara yang kita bisa. Setelah berbagai kemudahan yang telah kita nikmati selama ini.
Seperti kata ketua STIS, fisik(gedung) kita sudah dibangun menjadi lebih baik, giliran kita menjadi bathin yang lebih baik. Pl0k pl0k pl0k..
Apakah n0te ini bisa disebut k0ntribusi??hehehe..
No comments:
Post a Comment