Aku bunga ilalang. Kau setengah mati tertarik padaku tapi aku tahu kau takkan pernah mendekapku atau menjadikanku bunga hiasan di sudut ruang tamumu, Tuan Muda. Karena aku bunga ilalang.
Aku bunga ilalang yang kau temukan di balik hamparan danau tempat kau melempar batu saat kegalauan merintangi senyummu. Kau menunjukkan setiap muka carut-marutmu pada diriku si bunga ilalang karena ayunan bilur putihku menenangkan. Kita sepakat untuk berteman, tuan muda. Meski pertemanan kita harus terpisah petak danau berair hijau. Kau datang saat sore dengan kemeja kusut dan dasi dilonggarkan sebagian. Duduk menindih rumput kecil menghela nafas, menikmati angin senja dan ayunan bilur putih bunga ilalang, AKU.
Kita sepakat untuk berteman, Tuan Muda. Kita berteman dalam diam tanpa ucapan, tiap detik kau menatapku, tiap lontaran batu dari tanganmu dan tiap kecipak danau beriak menelan batu kecil itu, kau tak pernah bersuara. Kuduga kau bisu tapi helaan nafasmu mudah ku dengar dari sebrang danau ini.
Kita sepakat untuk berteman, Tuan Muda. Kita berteman dalam diam tanpa ucapan, tiap detik kau menatapku, tiap lontaran batu dari tanganmu dan tiap kecipak danau beriak menelan batu kecil itu, kau tak pernah bersuara. Kuduga kau bisu tapi helaan nafasmu mudah ku dengar dari sebrang danau ini.
Kau datang dengan suram, melempar batu-batu kecil dengan lontaran lengan tanpa tenaga, menatapku saat angin danau mengayunkan bilur putihku, hingga matahari tak tampak jingga lagi dan kau tersenyum damai beranjak pergi. Dengan senang hati aku mengakui, aku telah berhasil membuatmu tersenyum lagi. Aku merasa aku mampu berayun meski angin berhenti berhembus jika itu untukmu, Tuan Muda.
Aku dan kau tahu kita saling mengagumi satu sama lain. kau dengan pose dudukmu yang keren direrumputan dan aku dengan ayunan bilur putihku yang menenangkan. Kita bisa menjadi pasangan serasi di sepotong lukisan. Kau tersenyum saat aku selesai bicara ini, padahal kau tak dengar suaraku. Atau kau sebenarnya mendengar tapi ku tak tahu? Angin akan berhembus dan membuatku berayun saat kau menengadah melihatku, tapi angin akan diam kalau kau sedang menunduk sekilas menatap lututmu. Tidakkah itu irama yang kebetulan. Apakah kita berjodoh, Tuan Muda?
Aku dan kau tahu kita saling mengagumi satu sama lain. tapi kita terlalu takut untuk mengakui dan terlalu naif untuk menyadari. Satu bulirku berkata, kau datang ke sini hanya untuk melihatku. Tapi bulir yang lain berkata, dia pasti akan tersenyum pada semua ilalang berayun yang dia lihat. Mungkin sama sepertimu, kau mengira aku berayun karena beginilah takdirku sebagai rumpun liar, tapi kau tak menyadari aku berayun lebih lembut dan lebih menenangkan saat kau duduk di ujung danau, hanya untukmu. Kita berdua hanya bisa menunjukkan hal yang biasa kita lakukan. Apa yang mampu diperbuat bunga ilalang untuk menjadikanmu spesial? Dan apa yang dapat Tuan Muda lakukan untuk membuat bunga ilalang istimewa? Kita hanya diam menatap dari jauh, kau memberiku senyuman hangat dan aku berayun lembut menenangkanmu. Hanya itu.
Aku bunga ilalang. Berteman dengan semak liar yang takkan pantas berjajar dengan rumpun rimbun perdu mawarmu. Jika saja kau katakan kalau kau tersenyum memang hanya padaku si bunga ilalang, aku akan merelakan bulirku terbawa angin dan terbang ke sudut kontrakan kecilmu, sehingga kau bisa memandang ayunan bulir putihku yang menenangkan setiap hari. Tapi kau lebih memilih menyuruhku menantimu datang ke danau ini setiap senja menutup hari.
No comments:
Post a Comment