Hadeh...
kosan kami, the beatiful Humay, beberapa hari lalu
sudah memutuskan akan bertarung melawan penjajahan para kecoak, sebelum mereka
melakukan kudeta secara terang-terangan dan mengambil kemerdekaan kami. Merampas tanah tempat kami hidup, menteror kami siang malam dan mengangkat saya sebagai Ratu.Tidak akan saya biarkan itu terjadi
karena saya tidak suka hidup dengan peraturan birokrasi dan tetek bengek
kerajaan kecoak lainnya...
Dulu kami tidak peduli dengan makhluk kecil eksotis ini, paling cuma ngeri or jijik or jijay or geli, diusir pake sapu dan kami tidur nyenyek lagi. Tetapi kenyataannya kini jauhlah berbeda adanya. Mereka mulai membentuk perkampungan tanpa punya surat bukti sertifikat tanah dan membangun rumah-rumah ilegal di sekitar dapur dan di cekungan pintu kamar mandi yang keropos beranjak tua. awalnya kami kira cuma satu rumah tangga saja yang tinggal di sana, tetapi pada suatu malam yang indah nan damai harus terusik karena tereakan seorang anggota kosan yang melihat segorombolan kecoak sedang berpesta di area dapur kami. "Dua puluhan, mbak tadi kecoaknya..aaahhh, terbang-terbang!!" kata saksi mata. Memang sih masih satu rumah tangga
kecoak, berhubung mereka sepertinya masih makan dalam satu dapur (konsep BPS),
tapi ARTnya bejibuuuunnnn.
Saya sudah curiga, sebenarnya kecoaknya ada banyak treutama bersumber dari lorong comberan di dekat wastafel, akses sempurna bagi kecoak melewati perbatasan Humay tercinta kami tanpa visa dan pasport yang resmi. Dasar kecoak-kecoak ilegal tanpa izin. Saya sudah melakukan kampanye anti kecoak dengan melakukan pengendalian terhadap jumlah kecoak. Saya meluncurkan Eeza Ultimatum "kau di luar kamarku selamat, kau masuk kamarku tamat". realisasinya setiap ada kecoak masuk maka kamus Inggris-Indonesia Hasan Sadily akan melayang dan korban pun cemet dengan cairan tubuh terburai-burai.. hyaaakk... Setelah itu, tinggal lap-lap senjata dengan tissue bersihkan tempat kejadian perkara dan cipatakan alibi yang sempurna.. tidurrr.. (tapi sejak tingkat empat, senjata saya
berubah menjadi buku MTV yang lebih tebel dari kamus. Habisnya tiap liat kecoak
langsung refleks ambil buku paling guedhe dari rak dan HANTAaaM!! Jadinya yang
keambil buku MTV terus hehehe maaph bu dosen).
| Dari bawah ke atas : senjata, korban dan penampakan tangan pelaku |
Kami mulai mencari-cari info
tentang kecoak untuk lebih memahami musuh kami ini. Dan apa yang saya temukan
sungguh di luar dugaan. Saya memang pernah baca kalau kecoak tidak perlu kepala
untuk hidup, tapi mereka akan mati karena kelaparan. Tetapi informasi yang saya
dapatkan jauh lebih canggih lagi, sodara-sodara. Mulai dari kecoak adalah
satu-satunya makhluk yang hidup di daerah nagasaki yang terkena radiasi bom
atom; ga mati-mati biar kakinya ilang, kepalanya buntung, badannya ancur; ga
makan sembilan hari baru nyawanya ilang; kalau baru lahir itu warnanya putih
(dan ini lebih mengerikan, saya pernah melihatnya dan ga ada lucu-lucunya);
kentut tiap lima belas menit; makhluk paling tua di bumi; bisa bertelur di mana
aja; ga gampang mati, terus kalo selamat dari pembantaian dan berhasil
menetralisir racun(membentuk antibodi), dia akan mewariskannya pada anak
turunnya.. tidaakkk... Benar-benar salut dengan tekad hidupnya.
Akhirnya saya mengajukan proposal pembelian Bay*on anti kecoak kepada Mbok Mira sebagai menteri koordinator bidang keuangan sebagai langkah penganggulangan intruder gelap ini. Akan tetapi untuk beberapa hari belum ada realisasinya. Hingga pada suatu malam menjelang hari natal, di saat tinggal saya berdua dengan nona Mira sendirian di kosan karena yang paulang kampung, para pleton kecoak itu menampakkan dirinya. Nona Mira dihadang oleh pleton ini saat sedang akan ke kamar mandi. Akhirnya untuk pertolongan darurat terhadap serangan kecoak kami pun membuat ramuan semprot dari cairan pembersih lantai Mr, M*scle yang cukup untuk mengusir kecoa itu kembali ke bunkernya. Esok harinya Nona Mira langsung membeli Bay*on anti kecoak... horeee...
Dan saat ini di tengah masa perang melawan kecoak. kami telah menjatuhkan banyak korban dari pihak kecoak. Lorong-lorong sarang mereka kami semprot sampai mereka keluar semua karena sempoyongan. Tinggalkan beberapa menit dan mereka mati bergelimpangan, tinggal disapu dan dikerok masukin ke tempat sampah atau serahkan pada pembersih alami, para semut. Jika ada yang memasuki arena dapur saat proses kecoak sempoyongan akan terdengar geprak-geprak sandal di atas lantai untuk mempercepat sakaratul maut si kecoak, mirip seperti main joget-jogetan di TimeZone.
| Korban sebelum di masukkan ke tong sampah |
Sampai sekarang juga tiap ada kecoak langsung di bantai. Nona berinisial R yang dulu menilai saya kejam karena membantai kecoak yang tak bersalah kini malah jauh lebih kejam mencemetkannya dengan sandalnya. Kalo saya dulu, gencet kecoa ya udah, mpe kecoaknya ga bergerak dan ada kemungkinan mereka masih hidup beberapa menit kemudian, tetapi nona berinisial R menggencet dan menyeret mayat kecoak di bawah sandalnya hingga cairan
putih kecoak itu membuat garis sepanjang 10 cm di lantai kamar mandi,
benar-benar mati..Hiiiii.... Masyarakat kosan juga makin psyco, gebukin kecoak
sambil bilang maaf-maaf berkali-kali... bukkk "maaph ya kecoak"..
buukk-bukk "maaph ya kecoak"... bukk-bukkk "maaph yak"....
Yah, kami berharap perang ini cepat berakhir...
NB : untuk nona berinisial R, meskipun bau Bay*onnya
enak, jangan diendus-endus terus. Takutnya ntar pas kau tidur tiba-tiba
berbusa-busa itu mulut...
Saya prihatin, selain suka kebanjiran ternyata Humay adalah sarang kecoak...ckckck...saya ikut berduka cita yang mendalam :(
ReplyDeleteini baru terjadi beberapa hari terakhir ini yak..
ReplyDeletetetapi alangkah baiknya kalau ucapan dukacita anda leebih real, berbentuk uang bela sungkawa misalnya wkwkwkwk