Sunday, January 8

Home swea[e]t Humay

Yang di tengah itu ibu-ibu pengemis yang biasa keliling tiap hari jum'at deh kayaknya.. =D
Hari ini pintu-pintu Humay ditanggul tanpa sepengetahuan bapak. Inisiatifnya datang dari pak tukang yang ngebenerin genteng bocor karena prihatin melihat kami kebanjiran. Awalnya pak tukang dan anaknya cuma mau nanggul pintu depan tetapi kami minta semua pintu saja sekalian. Jadinya sekarang kalo ruangan Humay kami isi air, bisa buat beternak ikan atau tempat wisata pemancingan kecebong.

Tidak terasa ternyata sudah lebih dari tiga tahun saya dilindungi oleh atap rumah ini saat panas terik merongorong Jakarta atau sedang musim hujan lebat dengan nagin menderu-deru seperti sekarang ini. Jadi pengen nginget masa lampau saat saya masih ingusan kalo lagi pilek, sekarang juga masih seh.. Kalo bukan karena nona berinisial R pindah kosan, saya pasti tidak akan mengenal rumah damai ini sampai sekarang. Terima kasih nona berinisial R. 
Dulu sebelum pindah, kesan dari luar rumah ini sungguh seperti ibu tiri yang memperkejam keadaan ibu kota. Pendapat orang selalu bilang “Humairo’??!! Kan banjir??”, “Kosan yang banjir itu??!!”, “kamu mau pindah ke Humairo’?? di sana banjir loh..”. Tetapi, sekali lagi harga murah jauh lebih menggiurkan daripada ketakutan akan banjir. Justru saya tertantang, sekejam apa sih banjirnya. 

Akhirnya saya pindah di sini, menghuni kamar di samping ruang tamu bagian belakang. Kamar yang gelap, cahaya matahari tidak bisa langsung masuk dari luar karena menurut feng shui cendelanya membelakangi arah matahari . Benar-benar cocok untuk kepribadian saya sebagai manusia gua hehehe. Alhasil, karena nuansanya yang tetep adem meski matahari bikin berkobar, saya tetep lelap terus di kamar itu meski tanpa kipas angin. Meski beberapa banjir benar-benar mambuat saya dan anggota Humay bersweat-sweat dulu ditengah ke-sweet-an tempat ini.

Struktur rumah ini itu nyaman, entah karena emang dari dulu sebelum dikosin udah sering dipake buat kumpul keluarga atau karena penghuni humay yang selalu berasa kayak keluarga meski kami berasal dari tanah yang berbeda-beda. Hmm.. jadi kangen mbak-mbak yang udah pada menempuh hidup baru di luar Humay.. 
Di sini ada tiga kamar sendiri, tiga kamar untuk berdua dan satu kamar untuk bertiga dilantai atas yang biasa jadi tempat pengungsian kalo banjir. Humay memang sempurna untuk jadi rumah, mencerminkan kebagusan selera bapak kos dalam membangun rumah. 
Ruang tamunya besar, bahkan yang sekarang itu space ruang tamu udah dikurangin buat jadi satu kamar yang hampir segedhe kamar utama, jadi bisa dibayangkan segedhe apa dulu ruang tamu aslinya. Ruang tamu kami juga sangat memadai untuk rapat sekitar duapuluhan orang lebih, sangat jarang kosan seperti ini di sekitar otista. Ada tiga kamar mandi yang besar-besar pula (yang biasa pemanasan salto atau kayang dulu sebelum mandi pasti terpuaskan..=D), jadi sesuailah dengan banyaknya kamar. 
Satu dapur yang memiliki bukaan agar udara tetap segar dan gudang kecil dengan pintu geser kayak lemari doraemon di lantai atas buat ganti baju kalo lagi ngungsi banjir (Cuma saya saja deh yang ganti baju di sini dan Cuma saya yang kepikiran pengen ruangan itu sebagai kamar saya hoho). 
Yang paling saya sukai itu ruang cucian, kalo di kosan lain nyucinya mesti di kamar mandi, di sini bisa sambil lihat langit dan menghirup udara segar dan membuat malam-malam menjadi tidak gerah. Ruang makan juga luas, masih ada halamannya jadi masih bisa mencium bau tanah saat hujan meski sepersekian menit setelahnya yang tercium adalah bau comberan yang mulai membanjiri selokan, namanya juga jakarta. 
Dari luar rumah ini juga bagus, dinding batu alamnya dan tananan tanamannya mencerminkan pemiliknya yang suka asri, lantai mamernya mencerminkan status sosial bapak yang berada di atas garis kemiskinan (ya iyalah..). meski ada yang bilang serem juga karena rumah ini memang tidak lagi muda atau berkarakter minimalis seperti rumah metropolitan lainnya, dan bukankah memang setiap rumah itu berpenghuni??kikikikiii..  beberapa teman juga bilang ini adalah rumah dengan banyak lorong hohoho.. 

Saya beruntung sampai sekarang masih duduk di lantai ini sambil minum kopi, mengingat bagaimana kami pernah hampir meninggalkan kosan kami ini dan menjadi generasi terakhir dari sekian generasi yang berhasil bertahan.

Seperti yang saya bilang di atas, harga Humay itu bener-bener diskon karena mamiliki cacat banjir. Tiap bulannya bapak Cuma menarik ongkos 175 ribu Rupiah, udah dapet kasur+ranjang, lemari warisan meja2 ma kursi2.. Coba bayangkan apa yang bisa anda dapat dengan nominal uang segitu di Jakarta untuk produk kosan, kamar sempit pengap tanpa cendela, kadang harus berdua, bahkan sepertinya sekarang udah ga adaa, lah wong harga kosan minimal tigaratusribu, terus kalo bawa benda2 penyerap listrik mesti bayar lagi. Ada yang mpe harganya limapuluhribu satu laptop padahal di sini Cuma nambah limabelasribu satu laptop dan benda-benda lainnya grateessss.. Listrik bebas mo pake-pake (tapi kami ya tahu diri dengan membantu melakukan penghematan sebisanya), air juga terserah mau siram-siram dinding juga boleh (siram-siramnya boleh, tapi dindingnya bisa diusir bapak kau dari sini). 
Jadilah ini rumah dengan kriteria paling pas bagi kami, penghuni-penghuninya.

Pernah dulu, tahun 2010, kami berniat pindah karena banjir yang terjadi semakin menjadi-jadi. Melebihi batas yang biasanya, sepaha orang sodara-sodara bukan sepaha ayam kayak biasanya. Bayangkan saja, wilayah yang biasanya ga kena banjir aja banjir beberapa sentimeter, bagaimana dengan keadaan kami yang langganan banjir tanpa ongkos kirim tiap tahunnya?? Muntabb.. semua mengungsi ke atas dan kami sepakat untuk pindah dengan tetap bersama-sama. 
Apalagi kabar-kabar Jakarta banjir lima tahunan mulai membayang, bukan limatahunan sepaha kalo limatahunan bisa seleher..  Sedih memang harus meninggalkan rumah ini dan hanya membawa kenangannya saja, apalagi meninggalkan kemurah-meriahannya hehehe.

Hari-hari setelah banjir besar itu kami mulai mencari-cari kosan pengganti humay... dan seperti yang kami duga, TIDAK SEMUDAH YANG DIBAYANGKAN. Kami sudah terlena akan kenyamanan yang ditawarkan  humay selama ini. Nemu kontrakan buat bersemuanya lagi dengan harga yang sudah pas meski jauh lebih mahal dari Humay tetapi karena satu dua hal=ga jadi. 
Ada ngontrak murah meriah karena kosannya terkenal angker (pas kita tengok ke sana banyak garam ditabur-taburin di lantai, tapal kuda di ambang pintu dan benda aneh kayak teko kecil di pagar lantai atas.. ih waow.., tetapi karena pemiliknya ngebet pengen kita segera melakukan transaksi malah membuat kita ragu, jangan-jangan rumah itu masih dalam sengketa dan nantinya kita terusir karena rumahnya disegel sebagai baarang bukti.. ogah.. mesti mikirin tagihan airnya, listriknya, daerah sekitarnya, kedaan tetangga dan macem-macemnya. 
Dan pada akhirnya kami pecah, mbak-mbak yang sanggup membayar biaya hidup lebih mahal dan tidak sanggup menanggung banjir karena menanggung beban amanat mahasiswa tingkat akhir pergi meninggalkan Humay kami. kami paham mbak-mbak, kami mengerti, meski kita sudah tidak seatap lagi kalian tetap menjadi mbak2 terkasih kami. tempat berbagi cerita, ilmu dan berbagi mangga. 
Dan kami yang tersisa juga sebenarnya memutuskan pergi, tetapi seiring dengan musim hujan yang berganti matahari, saat langit tak lagi menurunkan butiran-butiran pendispersi pelangi, kami mulai ababil dan memutuskan tetap di sini. Hingga saat ini.

Kami kira kami adalah generasi terakhir dari ekosistem kecil ini karena lama tak ada yang setangguh kami dan memilih kos murah di sini. Akan tetapi ternyata Allah masih mengirimkan penerus kami, generasi selanjutnya dari Humay. Karena penghuni bawah atap Humay memang pilihan (sifatnya, pemikirannya, kekuatannya, keadaan ekonomi keluarganya ..kalau yang ini kayaknya Cuma Humay 50 deh hehehe). 
Hafshoh Mahmudah, orang yang pertama pasti ngekos di sini karena bertetangga dengan nona Mira, anak yang dewasa,mengerti, suka membantu, terkadang galau dan tiba-tiba melenguh dengan nada sedih di depan pintu kamar saya, kau punya bakat jadi pemimpin, Dek. 
Uswatun Nurul Afifah, punya wajah cemberut saat bangun tidur bikin saya agak sepet kalo liat hehe.. sungguh2 kalo ngerjain pe-er, pewaris kamar gua saya, sayang keluarga dan sepertinya kau sudah punya bayangan jadi istri yang baik kelak, sabar yak.. empat tahun lagi insya Allah. 
Yunita Nur Khasanah, suaranya besar, hormon laki-lakinya kuat sepertinya (kebanyakan gaul ma kakak laki-laki, saya juga tahu bagemana rasanya..haha), memiliki fisik yang ringkih memang, jadi jaga kesehatan, mulai latihan fisik dengan rajin ngepel dan nyikat kamarmandi biar kuat =D. 
Faridatun Nihayah, pertamanya keibuan tetapi kalo lagi sakit manjanya ga ketulungan kayaknya, suaranya mendayu-dayu kalo lagi diusilin, rajin bekerja, ga usah nyesel kalo harapan kita ga sebagus kenyataan, terkadang itu perlu untuk membuat kita jadi lebih dewasa.

Rumah tua ini telah menyatukan kami, nona-nona mahasiswa STIS dari sekian generasi. Mewariskan setiap kebijaksanaannya secara turun-temurun, membantu kami lebih dewasa dan membuat kami lebih siap hidup di masa yang akan datang. Dari obrolan sederhana,  diskusi mata kuliah,canda tawa hingga sesi curhat yang menguras air mata. Bagaimana keramainnya ruang makan meski sudah jam satu pagi, bagaimana teriakan antri mandi, sorak-sorakkan kalau ada yang perlu disoraki dan banyak lagi. 

Untuk mbak2, temen2 ato adek2 yang satu periode dengan saya, terima kasih sudah mau berbagi oksigen dengan saya, meski ragu apakah saya steril atau mengandung kuman-kuman mutasi tertentu. Buat mbak-mbak yang dulu, meski kita tak pernah bertatap muka atau mengenal, tetapi saya tahu kebaikan hati mbak-mbak yang tinggal satu periode dengan saya tentu berkorelasi kuat dengan kebaikan hati mbak2 sebelumnya, jadi terima kasih. Meski kita hanya bisa bersilaturrahmi dari group Humay di facebook, itupun jarang hhehehe maaph.. 

Berharap keluarga Humay akan terus ada hingga sekian generasi selanjutnya.

6 comments:

  1. Pertamax Gaaaaaannnn...
    mehueuehuehue..

    Maap, yuah Kak Icchhhaaa.. saya mw nge-ralat hal yang paling UTAMA,
    " Nona ber-PDA di pict.1 itu BUKAN IBU2 PENGEMIS HARI JUMAT!!!! Tahu gak sih? Gak pantes banget mbak2 cute kyak gt dibilang pengemis.."
    Hal yang terjadi sesungguhnya adalah mbak2 biru manis itu jd centre of interest pict. tersebut..
    Thanks,
    #salaman

    ReplyDelete
  2. oh y..
    kasi lebih banyak gambar, ka Icha..
    biar yg terpampang di situ bukan aqyu doank..
    kan aqyu maluuuu.... :*

    biar lebih menarik, Ka..

    ReplyDelete
  3. :)
    :D
    :(
    :DD
    :((
    jd kangeeeeen...
    mmg humay akan sll jd kenangan... agak nyesel ne dl ga bnyk foto2 d humay... *lho??
    btw pas jamanku dl dua aja kamar yg buat sendiri zah,,, tp mang masalah kamar tgl kesepakatan c...klo sdg dibutuhkan kamar atas yg bwt tiga org jg bs bwt ber13.. haha
    tetep smangath y penerus humay...(trutama smangat ngepel klo kbanjiran lg)
    idem with faizah,, smga humay akan ttp slalu ad,, biar AH makin bnyk... kel qt makin bnyk...
    :D

    ReplyDelete
  4. wakkk... nguplode suwi, pek... fotone ntar jadi album sendiri aja.. kalo lagi magang dan nganggur hahaha *masih lama ya itu..


    mbak tovik: aku juga mau bikin sejarah humay,mbak... mbak tovik akan saya jadikan narasumber utama.. kekekke

    ReplyDelete
  5. Faridatuuun... kamu kangen beudh ya sama akyuhh wkwkwk

    ReplyDelete